Minggu, November 11, 2012

Ilmu, Amal dan Ikhlas

Are you a moslem? Ya, apakah anda seorang muslim? Jika iya, apakah pernah terlintas difikiran anda amal sholih apa yang telah anda kerjakan? Bukankah tak seorang pun dari kita yang tak ingin masuk ke dalam Syurga? Artinya memang kita butuh amal sholih untuk mendapatkan pahala sebanyak-banyaknya agar kita ditempatkan Allah di dalam Jannah-Nya. Dan karena Iman menuntut sebuah keharusan berupa amal sholih.

Nah yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana kita dapat menghasilkan amal sholih? Apakah setiap aktivitas dalam kehidupan kita dapat dikatakan amal sholih? Apakah amal sholih itu adalah setiap perbuatan baik yang kita lakukan?

Sebuah perbuatan baik belum tentu sebuah amal sholih, tergantung maksud dari kata baik di sini dilihat dari sudut pandang siapa? Standar ‘baik’ itu menurut Allah atau menurut manusia? Apabila menurut manusia, maka perbuatan baik itu tidak bisa disamakan dengan amal sholih karena bisa jadi yang dikatakan perbuatan baik itu adalah sebuah pelanggaran terhadap hukum syara’. Misal seseorang yang memberi contekan kepada seorang teman ketika ujian, menurut temannya itu dia telah melakukan perbuatan yang baik, tetapi dimata Syara’ itu bukanlah perbuatan baik atau amal sholih karena memberi contekan ataupun mencontek hukumnya haram karena merupakan salah satu bentuk kecurangan. Ataupun seorang laki-laki yang dengan "baik" mengantarkan seorang teman perempuan dengan motornya ke suatu tempat, terlihat baik namun aktivitas yang tidak diperbolehkan oleh Syara'.

Pada hakikatnya ada dua syarat suatu amal (perbuatan/aktivitas) dikatakan amal sholih atau diterima oleh Allah swt. Keikhlasan adalah syarat pertama diterimanya suatu amal. Syarat yang kedua adalah sesuainya perbuatan dengan syari’at Islam.

Artinya bisa jadi sholat yang kita lakukan selama ini tidak diterima oleh Allah swt. Ataupun mungkin saja setiap dakwah yang kita serukan sebenarnya bukanlah amal sholih. Ya, karena setiap aktivitas kita harus memenuhi dua syarat di atas. Sebagai contoh, ketika kita sholat dzuhur memang niat sholat dilakukan semata-mata hanya karena Allah, tapi saking semangatnya untuk mendekat kepada Allah kita sholat dzuhur lima raka’at, diterima ngga kira-kira sholatnya? Ya, jelas tidak wong sholatnya juga tidak sesuai syari’at Islam to mba! Ataupun menggunakan khimar/kerudung tapi kerudungnya tipis dan “cingkrang”? Padahal aturannya harus menjulur sampai ke dada (An-Nur: 31), untuk lebih jelasnya mungkin anda bisa lihat tulisan saya di bawah yang judulnya Hijab and Beauty. Hehe :D

Atau ketika kita dakwah dengan ma’ruf tanpa kekerasan, tapi dakwahnya karena pengen dapet pujian dari temen atau dari teteh pembina? Diterima ngga ya amalan dakwahnya? Ini juga tidak diterima sis, karena tidak ikhlas masi terkontaminasi oleh niat-niat murahan. 

Jadi memang, semua aktivitas yang kita lakukan harus diniatkan ikhlas karena Allah dan dilakukan sesuai aturan-Nya pula. Karena niat ikhlas dan kesesuaian dengan syariat Islam ibarat dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan sebgai syarat diterimanya amal perbuatan.  Jangan asal beramal ya. :)
 
Apalagi konsekuensi dari keimanan kita adalah terikat hukum Syara’, artinya kita harus menaati seluruh perintah Allah dan menjauhi seluruh larangan-Nya sesuai apa yang dicontohkan Rasul saw kepada kita. Terikat kepada hukum Allah itu tidak bisa setengah-setengah atau sebagian-sebagian. Tapi kita harus masuk ke dalam Islam secara menyeluruh, secara kaaffah, “Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhan” (Al-Baqarah: 208). Pernah denger orang yang pilah-pilih ayat untuk diamalkan? Mereka lah yang menjalankan islam secara parsial. Misal, untuk ayat yang menurut mereka mudah untuk dilakukan maka mereka lakukan. Contoh, mereka taat ketika diharamkan untuk memakan babi, “Sesungguhnya Dia hanya mengahramkan atasmu bangkai, darah, daging babi dan (daging) hewan yang disembelih dengan (menyebut nama) selain Allah. ...” (Al-Baqoroh: 173), tapi mereka tidak taat ketika mendekati zina diharamkan, “Dan janganlah kamu mendekati zina; (zina) itu sungguh suatu perbuatan keji dan suatu jalan yang buruk” (Al-Isra’: 32). Buktinya bisa dengan mudah kita temukan muda-mudi yang berduaan. Ataupun mereka yang masi memakan uang riba hanya dengan alasan mengambil manfaat, “Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba” (Al-Baqarah: 275). Padahal asas berbuat seorang muslim itu bukanlah asas manfaat, tapi halal atau haram. Emang jadi boleh ya minum khomr karena mengambil manfaatnya? Apa jadi halal gitu?

Begitulah, orang-orang sombong penentang Allah. Kalaulah hidup ini dari Allah, oksigen untuk kita bernafas itu ciptaan Allah, setiap pembuluh darah ini milik Allah mengapa untuk taat kepada aturan-Nya masih enggan? Punya apasih kita? Yang merasa dirinya makhluk, harusnya malu.

Kembali kepada hakikat amal sholih. Yang menjadi pertanyaan adalah kenapa ada orang yang sudah melakukan amal yang ikhlas tapi tidak diterima? Ya, karena amalannya itu tidak sesuai aturan Allah, kenapa bisa tidak sesuai? Salah satu alasannya adalah karena ketidak-tauannya terhadap syari’at Allah. Orang yang tidak tau sholat subuh dua raka’at ataupun orang yang tidak tau bahwa membasuh wajah saat berwudhu itu wajib, mungkin adalah mereka yang belum tau. Artinya kesalahan adalah akibat dari kurangnya ilmu.

So, agar ngga salah amal harus gimana dong? Harus tau ilmunya! Bagaimana kita tau ilmunya? Gimana coba? Ya mau ga mau kita harus belajar, harus mencari ilmunya, harus mengkaji kebenarannya! Banyak orang ingin masuk Syurga tapi ngga mau beramal sholih, banyak yang ingin beramal sholih tapi ngga mau menuntut ilmu Islam, ya gimana bisa tau amal yang benernya to? Ya jangan banyak ngga mau dong, maunya aja gede pengen masuk Jannah, ko pengorbanannya minimalis? (#muhasabah diri sendiri)

Ilmu dan amal bagaikan satu paket yang tidak bisa dipisahkan. Ketika kita mengamalkan sesuatu tidak mungkin tanpa ilmu bukan? La wong kita tau sesuatunya itu dari siapa kalo sebelumnya tidak ada informasi yang anda dapatkan. Artinya keberadaan ilmu itu mutlak adanya, dan memang dengan ilmulah kita dapat beramal sholih karena kita bisa mengamalkan perbuatan yang sesuai aturan Allah. Jadi jelas yah, kita sangat-sangat butuh akan ilmu.. :)

Lalu, sekarang untuk apa kita menumpuk ilmu memenuhi memori otak kita tanpa ada yang kita amalkan? Amal tanpa ilmu itu sama dengan nol kawan! Kita tau menutup aurat itu wajib, tapi tidak kita amalkan/kerjakan. Kita tau dakwah itu wajib tapi kita enggan untuk mencobanya walau hanya sekedar menyampaikan satu ayat, kalau sudah begitu kapa kita dapat pahalanya? Bukankah yang akan berniali dihadapan Allah itu adalah amal yang didasari ilmu dan keihlasan? So, belajarlah dan beramallah dan niatkan semuanya karena Allah, semoga Allah mempertemukan kita di Jannah-Nya. :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Aksi Mujahid 212: Saatnya Ulama dan Umat Bersatu Terapkan Syariah Kaffah

Beberapa waktu lalu, tepatnya pada Sabtu (28/9/19), telah berlangsung Aksi Mujahid 212 Selamatkan NKRI di Jakarta. Aksi yang diselenggarakan...