Are you a moslem? Ya, apakah anda
seorang muslim? Jika iya, apakah pernah terlintas difikiran anda amal sholih
apa yang telah anda kerjakan? Bukankah tak seorang pun dari kita yang tak ingin
masuk ke dalam Syurga? Artinya memang kita butuh amal sholih untuk mendapatkan
pahala sebanyak-banyaknya agar kita ditempatkan Allah di dalam Jannah-Nya. Dan
karena Iman menuntut sebuah keharusan berupa amal sholih.
Nah yang menjadi pertanyaan
adalah bagaimana kita dapat menghasilkan amal sholih? Apakah setiap aktivitas
dalam kehidupan kita dapat dikatakan amal sholih? Apakah amal sholih itu adalah
setiap perbuatan baik yang kita lakukan?
Sebuah perbuatan baik belum tentu
sebuah amal sholih, tergantung maksud dari kata baik di sini dilihat dari sudut
pandang siapa? Standar ‘baik’ itu menurut Allah atau menurut manusia? Apabila
menurut manusia, maka perbuatan baik itu tidak bisa disamakan dengan amal
sholih karena bisa jadi yang dikatakan perbuatan baik itu adalah sebuah
pelanggaran terhadap hukum syara’. Misal seseorang yang memberi contekan kepada
seorang teman ketika ujian, menurut temannya itu dia telah melakukan perbuatan
yang baik, tetapi dimata Syara’ itu bukanlah perbuatan baik atau amal sholih
karena memberi contekan ataupun mencontek hukumnya haram karena merupakan salah
satu bentuk kecurangan. Ataupun seorang laki-laki yang dengan "baik" mengantarkan seorang teman perempuan dengan motornya ke suatu tempat, terlihat baik namun aktivitas yang tidak diperbolehkan oleh Syara'.
Pada hakikatnya ada dua syarat
suatu amal (perbuatan/aktivitas) dikatakan amal sholih atau diterima oleh Allah
swt. Keikhlasan adalah syarat pertama diterimanya suatu amal. Syarat yang kedua
adalah sesuainya perbuatan dengan syari’at Islam.
Artinya bisa jadi sholat yang
kita lakukan selama ini tidak diterima oleh Allah swt. Ataupun mungkin saja
setiap dakwah yang kita serukan sebenarnya bukanlah amal sholih. Ya, karena
setiap aktivitas kita harus memenuhi dua syarat di atas. Sebagai contoh, ketika
kita sholat dzuhur memang niat sholat dilakukan semata-mata hanya karena Allah,
tapi saking semangatnya untuk mendekat kepada Allah kita sholat dzuhur lima
raka’at, diterima ngga kira-kira
sholatnya? Ya, jelas tidak wong
sholatnya juga tidak sesuai syari’at Islam to
mba! Ataupun menggunakan khimar/kerudung tapi kerudungnya tipis dan “cingkrang”?
Padahal aturannya harus menjulur sampai ke dada (An-Nur: 31), untuk lebih
jelasnya mungkin anda bisa lihat tulisan saya di bawah yang judulnya Hijab and
Beauty. Hehe :D
Atau ketika kita dakwah dengan ma’ruf
tanpa kekerasan, tapi dakwahnya karena pengen dapet pujian dari temen atau dari
teteh pembina? Diterima ngga ya amalan dakwahnya? Ini juga tidak diterima sis,
karena tidak ikhlas masi terkontaminasi oleh niat-niat murahan.
Jadi memang, semua aktivitas yang
kita lakukan harus diniatkan ikhlas karena Allah dan dilakukan sesuai
aturan-Nya pula. Karena niat ikhlas dan kesesuaian dengan syariat Islam ibarat
dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan sebgai syarat diterimanya amal
perbuatan. Jangan asal beramal ya. :)
Apalagi konsekuensi dari keimanan
kita adalah terikat hukum Syara’, artinya kita harus menaati seluruh perintah
Allah dan menjauhi seluruh larangan-Nya sesuai apa yang dicontohkan Rasul saw
kepada kita. Terikat kepada hukum Allah itu tidak bisa setengah-setengah atau
sebagian-sebagian. Tapi kita harus masuk ke dalam Islam secara menyeluruh, secara
kaaffah, “Hai orang-orang yang beriman,
masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhan” (Al-Baqarah: 208). Pernah denger
orang yang pilah-pilih ayat untuk diamalkan? Mereka lah yang menjalankan islam secara
parsial. Misal, untuk ayat yang menurut mereka mudah untuk dilakukan maka
mereka lakukan. Contoh, mereka taat ketika diharamkan untuk memakan babi, “Sesungguhnya Dia hanya mengahramkan atasmu
bangkai, darah, daging babi dan (daging) hewan yang disembelih dengan (menyebut
nama) selain Allah. ...” (Al-Baqoroh: 173), tapi mereka tidak taat ketika
mendekati zina diharamkan, “Dan janganlah
kamu mendekati zina; (zina) itu sungguh suatu perbuatan keji dan suatu jalan
yang buruk” (Al-Isra’: 32). Buktinya bisa dengan mudah kita temukan
muda-mudi yang berduaan. Ataupun mereka yang masi memakan uang riba hanya
dengan alasan mengambil manfaat, “Allah
telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba” (Al-Baqarah: 275). Padahal
asas berbuat seorang muslim itu bukanlah asas manfaat, tapi halal atau haram. Emang jadi boleh ya minum khomr karena
mengambil manfaatnya? Apa jadi halal gitu?
Begitulah, orang-orang sombong
penentang Allah. Kalaulah hidup ini dari Allah, oksigen untuk kita bernafas itu
ciptaan Allah, setiap pembuluh darah ini milik Allah mengapa untuk taat kepada
aturan-Nya masih enggan? Punya apasih kita? Yang merasa dirinya makhluk,
harusnya malu.
Kembali kepada hakikat amal
sholih. Yang menjadi pertanyaan adalah kenapa ada orang yang sudah melakukan
amal yang ikhlas tapi tidak diterima? Ya, karena amalannya itu tidak sesuai
aturan Allah, kenapa bisa tidak sesuai? Salah satu alasannya adalah karena ketidak-tauannya
terhadap syari’at Allah. Orang yang tidak tau sholat subuh dua raka’at ataupun
orang yang tidak tau bahwa membasuh wajah saat berwudhu itu wajib, mungkin
adalah mereka yang belum tau. Artinya kesalahan adalah akibat dari kurangnya
ilmu.
So, agar ngga salah amal harus gimana dong?
Harus tau ilmunya! Bagaimana kita tau ilmunya? Gimana coba? Ya mau ga mau kita harus belajar, harus
mencari ilmunya, harus mengkaji kebenarannya! Banyak orang ingin masuk Syurga
tapi ngga mau beramal sholih, banyak yang ingin beramal sholih tapi ngga mau
menuntut ilmu Islam, ya gimana bisa tau amal yang benernya to? Ya jangan banyak ngga mau dong, maunya aja gede pengen masuk
Jannah, ko pengorbanannya minimalis? (#muhasabah diri sendiri)
Ilmu dan amal bagaikan satu paket
yang tidak bisa dipisahkan. Ketika kita mengamalkan sesuatu tidak mungkin tanpa
ilmu bukan? La wong kita tau
sesuatunya itu dari siapa kalo sebelumnya tidak ada informasi yang anda
dapatkan. Artinya keberadaan ilmu itu mutlak adanya, dan memang dengan ilmulah
kita dapat beramal sholih karena kita bisa mengamalkan perbuatan yang sesuai
aturan Allah. Jadi jelas yah, kita sangat-sangat butuh akan ilmu.. :)
Lalu, sekarang untuk apa kita
menumpuk ilmu memenuhi memori otak kita tanpa ada yang kita amalkan? Amal tanpa
ilmu itu sama dengan nol kawan! Kita tau menutup aurat itu wajib, tapi tidak
kita amalkan/kerjakan. Kita tau dakwah itu wajib tapi kita enggan untuk
mencobanya walau hanya sekedar menyampaikan satu ayat, kalau sudah begitu kapa
kita dapat pahalanya? Bukankah yang akan berniali dihadapan Allah itu adalah
amal yang didasari ilmu dan keihlasan? So, belajarlah dan beramallah dan
niatkan semuanya karena Allah, semoga Allah mempertemukan kita di Jannah-Nya. :)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar