Saat ini didengungkan wacana ‘abad
partisipasi penuh perempuan’ (full participation age for women). Seperti pernah
dilontarkan Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton tentang vitalnya peran
perempuan saat ini bagi kemajuan dunia.
Propaganda pemberdayaan (khusunya di
bidang ekonomi) perempuan telah menggiring perempuan pada aktivitas tambahan di
luar tugas pokoknya sebagai ibu dan pengatur rumah tangga. Kondisi ini tentu
sangat berpengaruh terhadap pelaksanaan kewajiban utamanya tersebut. Sebab, ibu
kini lebih di sibukkan pada urusan mencari tambahan nafkah dibandingkan
mengurus anak dan rumah tangga. Akibatnya, anak-anak kurang mendapat perhatian
dan bimbingan. Hasilnya, generasi yang dilahirkan tanpa kasih sayang yang cukup
tentulah generasi yang rendah kualitasnya.
Di sisi rumah tangga, kesibukan isteri
pada aktivitas mencari tambahan nafkah, terbukti menambah tingkat perceraian,
bukan malah mengurangi sebagaimana klaim sebagian pihak. Dengan tambahan
pendapatan, para isteri ini merasa mampu hidup mandiri, tidak bergantung suami.
Sikap ini juga berujung pada kesiapan hidup sendiri tanpa suami (bercerai).
Angka perceraian pasangan di Indonesia
terus meningkat drastis. Badan Urusan Peradilan Agama (Badilag) Mahkamah Agung
(MA) mencatat selama periode 2005 hingga 2010 terjadi peningkatan perceraian
hingga 70 persen. Pada tahun 2010, terjadi 285.184 perceraian di seluruh
Indonesia. Penyebab pisahnya pasangan jika diurutkan tiga besar paling banyak
akibat faktor ketidakharmonisan sebanyak 91.841 perkara, tidak ada
tanggungjawab 78.407 perkara, dan masalah ekonomi 67.891 perkara. (lihat REPUBLIKA.CO.ID,
Selasa, 24 Januari 2012, 08:03 WIB.)
Pergeseran peran perempuan itu
disebabkan terutama oleh paham kapitalisme yang diterapkan di Indonesia.
Program pemberdayaan perempuan ke sektor publik yang bermuara pada oritentasi
ekonomi merupakan akibat dari penerapan sistem kapitalismedi Indonesia, kapitalisme secara nyata
menunjukkan perlakukan keji terhadap perempuan karena menilai perempuan sebagai
komoditi yang layak dieksploitasi demi mendatangkan materi. Kapitalisme juga
mengukur partisipasi perempuan dalam pembangunan bangsa hanya dari kontribusi
materi.
Perempuan didorong sebagai penghasil
uang. Perempuan diberdayakan secara fisik, baik dengan bekerja di sektor-sektor
industri, jasa, bahkan hiburan. Selain itu, digelontorkan pula modal khusus
perempuan agar memiliki usaha rumahan sehingga menjadi perempuan mandiri secara
finansial. Dengan kiprah mereka di bidang ekonomi ini, perempuan turut menggelindingkan
roda perekonomian.
Perempuan didorong berperan dalam
mengaruskan konsumtifisme. Berkat kemandirian finansial di mana perempuan mampu
menghasilkan uang sendiri, maka perempuan tetap memiliki daya beli. Ia pun
mampu memenuhi hasrat konsumtifnya. Tingginya tingkat konsumtifisme akan
mendorong proses produksi sehingga mampu memutar roda perekonomian. Perempuan
pun makin enjoy dan bahagia karena bisa memenuhi kebutuhan konsumtifnya sendiri
tanpa harus bergantung pada laki-laki.
Berbeda dengan kapitalisme, Islam
menempatkan perempuan pada posisi bermartabat. Peran kaum Muslimah ini sudah
digariskan dengan jelas. Bahwa perempuan memiliki peran utama di rumah, sebagai
ummun wa rabbatul bayt dan pendidik anak. Karena itu, Islam memberi perhatian
lebih pada peran vital perempuan dalam pembentukan keluarga dan pelahir
generasi ini.
Misalnya, Islam tidak membebankan
masalah finansial pada perempuan, sehingga ia fokus mengurus rumah tangga dan
anak-anak. Namun, ia berdiri men-support suami guna menguatkan
perannya dalam berbagai kiprah. Perannya ini akan menjaga bangunan institusi
keluarga sebagai unit terkecil dari masyarakat dan negara.
Dengan ini, muslimah diwajibkan cerdas
dengan terus menuntut ilmu dan mengkaji tsaqofah Islam sebagai bekalnya. Ilmu
dapat diperoleh di rumah ataupun di luar rumah seperti ke majelis ilmu atau
pendidikan formal. Siapa yang mengajarkan? Bisa sesama Muslimah. Karena itu,
peran strategis Muslimah di ranah publik juga sebagai daiyah yang berkontribusi
dalam mencerdaskan kaumnya.
Peran ini bukan remeh temeh. Ini adalah
peran politik dan strategis perempuan dalam pandangan Islam yang memiliki
kontribusi sangat besar dalam pembentukan keluarga yang tangguh, generasi
terbaik dan masyarakat madani.
Karena itu, semestinya pengarusutamaan
peran Muslimah saat ini adalah berupa pencerdasan politik pada perempuan. Ini
agar mereka memahami hakikat diri dan berkiprah sesuai fitrahnya. Jangan sampai
Muslimah tenggelam dalam arus pemberdayaan ala Barat yang akan menggerus dan
selanjutnya menghilangkan identitasnya sebagai Muslimah sejati.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar