A blog that a bit weird and ambiguous, but you can take something from it, whether it be reproach or contemplation.
Jumat, November 15, 2013
Ketika Ayah Harus Melepasmu, wahai Putri Kecil Ayah....
Apa kabarmu disana nak?
Di kota yang berjarak dua jam perjalanan dari sini, apa kau masih mengingat orang tua renta ini? Yang setiap saat tak henti mendoakan segala yang terbaik untukmu.
Ah.. ayah ingat ketika siang itu, sebelum berangkat kekota, dengan wajah malu-malu kau bercerita tentang niat seorang laki-laki untuk meminangmu. Kau tahu nak, sudah lama ayah bersiap untuk menanti kabar ini, kabar tentang seorang yang akan membawamu pergi jauh dari ayah. Kabar tentang laki-laki yang meminta pengalihan tanggung jawab dari ayah.. sungguh sudah lama ayah mempersiapkan diri. Tapi tetap saja siang itu ayah terkejut, meski mungkin tidak begitu terlihat diwajah ayah.
Siapa dia nak? Siapa laki-laki yang berani memintamu dari ayah? Bawa dia kesini.. biar ayah lihat dulu, seberapa mampu dia meyakinkan ayah bahwa dia akan memperlakukan dan menjagamu tidak kurang dari ayah. Bawa dia kesini nak.. biar ayah nilai dulu, seberapa tulus dia menyayangi dan membimbingmu tidak kurang dari ayah. Ayo bawa dia kesini.. biar ayah pertimbangkan dulu, seberapa baik agamanya, seberapa besar tanggung jawabnya, dan seberapa sabar dia menghadapi putri kecil ayah.
Nak, ayah tahu siang itu akan datang, siang yang mengharuskan ayah untuk menyadari bahwa putri kecil ayah akan segera menggenapkan setengah agamanya, dengan bakti pada dia yang belum ayah kenali. Padahal dimata ayah, kamu masih gadis kecil yang beberapa waktu lalu merengek minta dibelikan benang untuk layangan, sebab teman-teman seusiamu yang rata-rata laki-laki sudah punya benang yang panjang untuk layangan mereka. Rasanya kamu masih gadis kecil ayah yang mengadu dengan mata berkaca-kaca bahwa benang layangannya telah kusut, yang terkantuk-kantuk menunggui ayah memperbaikinya agar bisa bermain lagi esok paginya. Yang dulu melempar sepatunya kelaut sebagai alasan meminta ayah mengizinkanmu bermain air. Yang dulu membongkar tas ayah, mencari receh untuk celengan ayammu diatas lemari.
Dan kemarin, ketika dengan izin ayah, kau pergi berkenalan dengan keluarga besarnya. Kembali ayah harus segera menyadari bahwa binar yang kau bawa pulang itu tidak biasa, binar yang belum pernah ayah lihat ketika dengan antusias kau bercerita. Sebenarnya nak, ayah cemburu. ayah mencemburui dia yang tiba-tiba datang tapi sudah mampu menghadirkan getar-getar rasa yang terlihat dirona wajahmu. Tapi percayalah nak,, kecemburuan itu segera ayah tepis, ayah usir dengan keyakinan bahwa posisi ayah dan posisinya itu tidak disatu tempat. Bahwa warna cinta untuk ayah tidak sama dengan warna cinta untuknya. Ayah tidak salah, bukan?
Sedikit pesan ayah.. setelah nanti kau ayah serahkan dengan disaksikan oleh para malaikat. Jadilah pendamping yang patuh nak, yang senantiasa bersyukur dan berterimakasih, yang menjaga diri dan hartanya, yang tidak mudah menuduh dan menyakiti hatinya, yang menyimpan rahasia dan menutupi aibnya. sebab tidak mudah untuk menjadi seorang suami, tidak mudah untuk menjadi orang yang bertanggung jawab penuh terhadap orang lain, yang harus menjaga dirinya dan ahlinya dari api neraka. Jadi sekali lagi nak.. jangan bebani dia, tapi bantulah dia sesuai peran yang kau punya.
# Ini tulisan bajakan dari http://www.eramuslim.com/akhwat/muslimah/siapa-laki-laki-itu-nak.htm#.UoVOc1NBR7A . Bacanya bikin air mata pengen keluar melihat dunia.. Jleb banget, mungkin inilah sudut pandang sang ayah ketika harus melepas anak perempuannya. Entahlah saya harus ngetik apalagi. Yaa, begitulah seperti yang anda rasakan ketika membaca tulisan ini. Menikah bukanlah hal yang main-main, karena pertanggungjawaban atas diri kita berpindah dan kita bertambah tanggungjawab. Bukan seberapa ingin, tapi seberapa siap untuk menanggung kehidupan yang baru ini, manis dan pahitnya. Maka niatkan melangkah karena ibadah supaya tidak sia-sia dan punya tujuan.
*
Siapa dia nak? Siapa laki-laki yang berani memintamu dari ayah? Bawa dia kesini.. biar ayah lihat dulu, seberapa mampu dia meyakinkan ayah bahwa dia akan memperlakukan dan menjagamu tidak kurang dari ayah. Bawa dia kesini nak.. biar ayah nilai dulu, seberapa tulus dia menyayangi dan membimbingmu tidak kurang dari ayah. Ayo bawa dia kesini.. biar ayah pertimbangkan dulu, seberapa baik agamanya, seberapa besar tanggung jawabnya, dan seberapa sabar dia menghadapi putri kecil ayah.
Kamis, Oktober 24, 2013
Wahai Tukang Rem...
Hmm, mungkin ini akan menjadi tulisan tergeje yang saya post di blog ini. Tapi, karena masih kemungkinan, jadi bisa saja esok akan ada tulisan yang lebih geje dari ini.. :D
Tukang rem...
Entahlah, mengapa saya menamakan itu. Bukan, ini bukan cerita orang yang naik motor atau mobil di jalan terus dia suka ngerem, sampai akhirnya mengahalangi jalannya pengendara lain. Bukan itu yang saya maksud.
Tukang rem adalah orang di sekitar anda yang menjadi "pengerem" tingkah laku anda. Dengan apa dia mengerem? Dengan Amar ma'ruf, nahi munkar, tentu saja. Sangat menyenangkan bila kita punya seorang tukang rem kepercayaan. Yang menahan ketika kita kelepasan, yang menjaga kita ketika kita akan menabrak. Mereka lah yang nyatanya menjaga kita dari berbuat munkar. Dia yang setia mengingatkan kita. walau kadang kita kaget ketika dia ngerem, tapi tak bisa dipungkiri kita bahagia di "rem" olehnya. Bukankah mengingatkan adalah tanda sayang? Dan bukankah dakwah adalah sebaik-baik ucapan?
Bersyuskurlah jika kau punya satu atau bahkan lebih. Maka jika kau belum punya, temukanlah ia! Bisa jadi dia adalah seorang teman, sahabat, kaka, adik, orang tua, guru atau teman hidup mu. :)
Tukang rem...
Entahlah, mengapa saya menamakan itu. Bukan, ini bukan cerita orang yang naik motor atau mobil di jalan terus dia suka ngerem, sampai akhirnya mengahalangi jalannya pengendara lain. Bukan itu yang saya maksud.
Tukang rem adalah orang di sekitar anda yang menjadi "pengerem" tingkah laku anda. Dengan apa dia mengerem? Dengan Amar ma'ruf, nahi munkar, tentu saja. Sangat menyenangkan bila kita punya seorang tukang rem kepercayaan. Yang menahan ketika kita kelepasan, yang menjaga kita ketika kita akan menabrak. Mereka lah yang nyatanya menjaga kita dari berbuat munkar. Dia yang setia mengingatkan kita. walau kadang kita kaget ketika dia ngerem, tapi tak bisa dipungkiri kita bahagia di "rem" olehnya. Bukankah mengingatkan adalah tanda sayang? Dan bukankah dakwah adalah sebaik-baik ucapan?
Bersyuskurlah jika kau punya satu atau bahkan lebih. Maka jika kau belum punya, temukanlah ia! Bisa jadi dia adalah seorang teman, sahabat, kaka, adik, orang tua, guru atau teman hidup mu. :)
Rabu, September 18, 2013
Ikhlas kah?
Ikhlas.
Hmm, sebetulnya ini hanya gabungan huruf-huruf saja tak ada yang spesial bukan,
karena nggak pake telor.. lho????!! :P
Sebetulnya
saya ragu untuk membuat tulisan dengan judul ini. Iya, kayaknya berat banget ya
buat bahasnya juga. Dan pasti riskan salah.. heu
Tapi
entahlah saya tetap ingin menulis, dan seperti harapan-harapan saya di tulisan
sebelumnya, semoga ada manfaat walaupun hanya seberat zarrah.. :)
Menurut
saya, ini adalah hal yang diharuskan namun kita tak pernah tau kita benar
melakukannya atau tidak. Coba saja anda pikir, apakah ada alat ataupun
indikator pengukur keikhlasan? Jangankan secara kuantitatif secara kualitatif
pun tak ada yang dapat mengukurnya. Maksud saya, jangankan mengukur berapa
persen ke-ikhlas-an kita dalam beribadah, untuk mencari tau saja ada atau tidak
keikhlasan itu, kita tak akan pernah bisa.. padahal justru inilah salah satu
dari dua syarat diterimanya amal. Artinya ini memang perkara yang penting
bukan?
Tapi
mungkin andaikan ikhlas dapat diukur, bisa jadi ketika kita memulai suatu amal
lalu kita tau di awal kita mengerjakannya tidak ikhlas, secara otomatis kita
akan berhenti melakukan amal tersebut karena kita akan merasa sia-sia. Untung
saja Allah merahasiakannya dari kita, untuk apa? Mungkin agar kita terus
berusaha karena tidak tau apakah diterima atau tidak, maka kita akan lebih
maksimal dan terus berbenah.. mungkin……..
Ikhlas
sering didefinisikan oleh para ulama dengan: beramal semata-mata karena Allah.
Jadi ketika kita ikhlas dalam beramal, yakni beramal semata-mata karena Allah,
berarti kita harus benar-benar menunjukkan bahwa amal kita semata-mata hanya
dipersembahkan untuk-Nya, bukan untuk selain-Nya. Pertanyaannya: Apakah sesuatu
yang dipersembahkan hanya untuk Allah itu cukup yang biasa-biasa saja,
minimalis dan terkesan asal-asalan? Apakah sesuatu yang dipersembahkan khusus
untuk Allah itu harus yang berkualitas, istimewa dan optimal?
Ketika
seseorang mempersembahkan sesuatu hanya khusus bagi orang yang dicintainya, ia
tentu akan mempersembahkan yang terbaik dan istimewa untuknya; bukan yang
biasa-biasa saja, apalagi yang berkualitas buruk. Demikian pula seseorang yang
ikhlas, yang mempersembahkan amalnya hanya untuk Allah, Penciptanya; ia hanya
akan mempersembahkan amalan terbaik dan istimewa untuk-Nya. Walhasil, ikhlas
sesungguhnya harus berbuah ihsan yakni amalan terbaik sesuai dengan yang Allah
kehendaki.
Meski
pun di awal tadi saya sudah sebutkan bahwa keikhlasan itu pure hanya Allah yang
tau, tapi kita sebagai hamba dapat melihat tanda-tanda bahwa kita tidak ikhlas.
Sekali lagi, ini tanda-tanda tidak ikhlas, bilapun kita sudah merasa tidak
mengalami tanda-tanda di bawah ini, tetap saja ikhlas atau tidaknya amal kita,
hanya Allah saja yang tau. Ini hanya bahan evaluasi untuk diri kita
masing-masing.
Ciri
kurang/tidak ikhlas: mengerjakan amal di waktu sisa, bermalas-malasan dalam
mengerjakan amal tsb, berusaha mencari dalih/alasan agar tidak usah mengerjakan amal
tsb, terkesan tidak sungguh-sungguh (asal-asalan) dalam mengerjakan aktivitas
tsb (tidak optimal), mudah putus asa (bahkan gugur/menyerah) ketika menghadapi
rintangan dalam mengerjakan amal tsb.
Silakan,
anda pikirkan baik-baik kelima hal di atas. Anda cerminkan kepada ibadah-ibadah
yang anda lakukan, entah itu sholat wajib, sholat sunnah, shaum sunnah ataupun
dakwah!
Dan adakalanya
mungkin kita terjebak dalam pemikiran bahwa yang berpahala besar itu apabila
yang kita lakukan pun adalah sebuah amal yang besar. Contoh simpel, terkadang
kita berpikir akan lebih besar pahalnya jika kita berinfaq uang sebesar 100
ribu rupiah dibanding dengan 5 ribu rupiah, betul tidak? Ataupun contoh
lainnya, kita akan berpikir dalam dakwah, pahala yang besar itu hanya untuk
orang-orang yang berbicara di depan forum. Tapi kalo cuman sekedar ngajak ngaji
mah itu pahalanya sedikit. Hemm, kata siapa? Iya, memang itu kata saya, kan
saya yang nulis barusan. Ya, memang terkadang ada pemikiran seperti itu. Padahal
ingat diterimanya sebuah amal adalah tergantung dari keikhlasan dan kesesuaian
amal tsb dengan apa yang telah ditetapkan oleh Allah (hukum Syara'). Janganlah kita berpikir
demikian, karena jika demikian maka kita akan menjadi orang yang pemilih dalam
beramal. Hanya akan beramal apabila pahalanya pi-gede-eun padahal nggak ada
bahasa kaya gitu. Hanya mau dakwah kalo depan forum hanya mau infaq kalo lagi
ada duit gede. Padahal kesempatan mengisi sebuah forum itu tidak selalu datang
bukan? Dan bukankah ada kalanya kita hanya punya uang recehan?
Maka,
beramallah walau itu hanya sekedar mengantarkan barang, atau mengantar teman
yang ingin mengkaji Islam, atau meminjamkan uang, atau berinfaq 1 ribu rupiah,
atau “hanya sekedar” tersenyum kepada temanmu. Karena bisa jadi yang ikhlas
kita kerjakan adalah hal-hal yang dianggap oleh orang sebagai remeh temeh bukan
yang bergengsi. Akan lebih mudah bukan menjaga keikhlasan apabila kita
mengerjakan amal tanpa dilihat orang lain? Maka tak perlu merasa rendah jika
mendapat amanah yang ringan dan tak perlu merasa bangga bila mendapat amanah yang
besar. Ingat penilaian Allah lah yang seharusnya kita khawatirkan. Bukan, bukan
pandangan manusia yang tak sedikitpun mampu memberi pahala kepada kita. Yang menghisab
itu Allah, bukan manusia. Dan kata seorang guru, ikhlas itu bila dipuji tidak
bertambah amalnya dan bila dicela tak berkurang amalnya. Jelas, karena yang
kita perhatikan bukan lisan manusia, tapi ridho Allah. Dan apabila di awal kita
merasa yang diharap itu bukan ridho Allah, ketika kita sadari hal itu maka tidak
seharusnya pula kita berhenti beramal. Karena itu sama saja beramal bukan
karena Allah alias nggak ikhlas. Maka lanjutkan saja amalnya. Terus tempa diri kita supaya kita
bisa ikhlas menjalani aktivitas tersebut. Jangan berhenti, lanjutkan saja,
karena bisa jadi ketika kita khawatir tidak ikhlas dan kita terus berusaha
memaksimalkan dan mengikhlaskan, itulah yang Allah nilai…..
Jadi,
teruslah bergerak. Bukan untuk dilihat ataupun didengar, tapi untuk ditimbang,
sebagai bukti bahwa kita beriman dan bertaqwa kepada-Nya. Bukankah taat itu
harus dibuktikan?
Referensi:
Hikmah-hikmah Bertutur untuk Jiwa yang Mudah Futur. (Arief B. Iskandar)
Selasa, September 10, 2013
Dunia Terbalik
Apabila kita melihat ke
sekitar, saat ini banyak hal-hal aneh terjadi. Hal-hal yang dulu dibenci sekarang
disukai dan sebaliknya hal yang dulu disukai menjadi hal yang dibenci. Inilah
dunia terbalik.
Entah apa yang terjadi
dengan dunia. Nampaknya kacamata menilai sudah berubah. Bagaimana bisa berubah?
Tentunya karena adanya pergeseran pemikiran yang mengakibatkan berubahnya
standard baik dan buruk.
Dulu ketika saya masih
kecil anak-anak pergi ke luar rumah untuk mengaji itu hal yang wajar bahkan
dianjurkan oleh orangtua, tetapi saat ini orangtua mengkhawatirkan anaknya
apabila mereka pergi untuk mengkaji Islam. Namun mereka akan mudah memberi izin
untuk anaknya jika mereka malah pergi ke mall. Ini realitas yang saya temukan
sob.
Dulu imej pacaran
itu masih jelek, banyak orangtua yang melarang anaknya pacaran, baik dengan
alasan agama ataupun alasan pendidikan yang harus menjadi prioritas, tapi saat
ini orangtua merasa was-was jika anaknya yang usia SMP atau bahkan SD belum
punya pacar. #eeaa
Dulu pandangan orang
kepada perempuan berbaju minim itu jelek. Tapi saat ini, hal itu dikatakan hal yang
wajar dan modern alias mengikuti perkembangan zaman. Dan kebalikannya perempuan
dengan menutup aurat secara sempurna itu kuno alias ketinggalan zaman katanye.
Lalu ada pula hal-hal aneh
lain yang terjadi di masyarakat, sebetulnya itu adalah penilaian-penilaian yang
salah. Seperti, masyarakat saat ini baik di lingkungan sekolah ataupun
lingkungan rumah bisa jadi di lingkungan kerja, akan cenderung mendorong
seseorang untuk bermaksiat, semisal berpacaran. Jika ada perempuan atau
laki-laki belum punya pacar maka dia akan disindir sebagai penyuka sesama
jenis, maho dan sejenisnya lah. Miris bukan? Ataupun jika ada seseorang yang
menghindari aktivitas riba maka orang lain akan berkomentar, “Untuk zaman
sekarang, bagaimana kita bisa punya rumah, mobil, motor jika tidak ikut dalam
aktivitas riba?”. Ya mereka berdalih, asal ada manfaat mengapa tak kita ambil
saja manfaatnya? Yang jelas sih dosanya yang kita dapet mah. -_-
Apakah sudah terbaca oleh
anda bahwa saat ini orang mendorong orang lain untuk bermaksiat dan mencela
kepada orang-orang yang berusaha mematuhi Syariat? Mereka tidak hanya diam
apabila seseorang menjauhi larangan Allah, tetapi mereka mencela.
Astagfirullah. Dan tentu sebaliknya, mereka nyinyir kepada orang-orang yang taat
Syariat dan bukan hanya diam. Wahai, apa yang terjadi dengan manusia saat ini?
Begitu pula dalam
menyikapi penyelanggaraan kontes kecantikan internasional yang akan diadakan di
negeri ini. Tentu saja sebagai negeri dengan jumlah muslim terbesar akan banyak
terjadi penolakan dari berbagai lapisan masyarakat. Mudah saja ini adalah bentuk
kemaksiatan kepada Allah. Apabila sudah terang ini kemaksiatan, lalu apa lagi
yang ditunggu? Apakah azab dari Allah? Naudzubillah.
Entahlah mengapa mereka
acuh bahkan mendukung acara rendah ini. Dan lebih mengherankan lagi mereka pun
mencela orang-orang yang menolak diselenggarakannya acara tsb. Saya tidak
mengerti bagian mana dari acara ini yang merupakan aktivitas ma’rifah kepada
Allah? Dari sisi non-agama pun, acara ini seharusnya ditolak, tidakkah mereka
para perempuan merasa terhina dengan ajang ini? Mereka dilombakan dengan
patokan fisik walaupun berbalut dengan brand kecerdasan ataupun kepribadian. Sejak
kapan ajang kecerdasan pake diukur tinggi badan? Sejak kapan pula kepribadian
dinilai dari lingkar pinggul? Ya, inilah bentuk perendahan bagi perempuan. Karena
kemuliaan hanya ditentukan dengan batasan yang sempit, yakni fisik. Padahal dalam
pandangan Islam derajat tinggi untuk seorang muslim adalah dilihat dari
ketaqwaannya.
Kemudian, untuk
orang-orang yang menyuarakan kabaikan, yang istiqomah menyerukan kepada yang ma’ruf,
ada sebagian orang yang mencap mereka “omdo”
alias omong doang. Katanya no action talk only. Sejak kapan pula ngomong itu
bukan action? Wahai, ada apa dengan dunia? Sudahlan tak perlu bahas detil
masalah “ngomong” ini. Cukup kita lihat apa yang diperbuat Rasul ketika
menyebarkan Islam, dan itu ngomong doang loh. Apakah berani mereka bilang Rasul
omdo? :(
Apakah menurut mereka,
tidak cukup dengan berbicara? Apa yang mereka maksud dengan action? Mengapa mereka
memandang sebelah mata? Entahlah, bagi saya bicara itu aktivitas yang real
manusia lakukan. Dan bagi saya efeknya pun jelas. Banyak perubahan yang terjadi
didunia ini hanya karena “ngomong doang”. Ketika pun anda yang membaca tulisan
ini seorang muslim, yakin lah Islam sampai kepada orangtua anda itu lewan lisan.
Apakah belum cukup anda
teryakinkan akan pentingnya sebuah “omongan” yang notabene hanya untaian kata
tak bermakna? Kalian tau menikah? Bagaimana seseorang menjadi halal untuk lawan
jenisnya? Akad! Ya, janji. Dan kau tau itu pun hanyalah kata-kata. “Ngomong doang”,
tapi itu dapat “menghalalkan” yang sebelumnya haram dan “mengharamkan” yang sebelumnya
halal.
Semoga anda mengambil
pelajaran dari sekedar tulisan saya yang tanpa action ini. Ya, blog ini
hanyalah kumpulan kata-kata tanpa makna. Tapi jika memang anda mengambil
manfaat dari ini, maka berhentilah berkata bahwa ini hanya “ngomong doang”! :D
Lalu apa yang terjadi
dengan masyarakat yang mulai pandangannya terbolak-balik? Menurut saya itu
karena perubahan standar yang mereka gunakan. Kok bisa berubah? Karena memang
mereka tidak punya standar baku. Standar mereka adalah perasaan. Baik dan
buruk mereka timbang berdasarkan timbangan hati mereka saja. Jika kita ingin
punya standar yang sama dalam menilai dan tidak ragu dalam memutuskan mana hal
yang benar dan salah ataupun yang baik dan buruk atau juga terpuji dan tercela,
maka kembalikanlah penilaian tersebut kepada Syara’. Ya kepada Al-Kholiq
Al-Mudabbir. Hanya Dia yang berhak menentukan batas-batasnya. Maka jika kita
ingin tau mana batasannya, cari tahulah. Jangan stop baca blog amatir ini saja.
Searchinglah tentang berbagai hukum dalam Islam yang belum banyak kita ketahui,
kajilah Islam selama masih ada sisa umur.
Maka, di akhir saya hanya
ingin mengingatkan. Kita sebagai muslim, janganlah menilai segala hal dari
manfaatnya. Tapi pandanglah segala sesuatu dari kaca mata hukum Syara’, apakah hal tersebut halal atau haram. Mengapa?
Karena hanya itu yang dapat menyelamatkan kita di yaumil hisab nanti. Semoga Allah
berkenan mengumpulkan kita didalam Jannah-Nya. :)
Senin, September 09, 2013
Bye malas ! :)
Hii malas! Iya kamu. Sudahlah
tak perlu kau bersembunyi. Iya benar, kamu Malas! Rasa yang banyak menghinggapi
manusia, merayunya agar mereka tak berbuat apapun, atau melakukan aktivitas
yang bukan menjadi target mereka.
Wahai, mengapa kamu selalu
hadir? Pun ketika mereka sudah mulai untuk memperbaiki diri dan mencoba
mengalahkanmu. Aku akui, kamu sangat lihai menghinggapi kami dan memperberat
tubuh kami untuk melakukan aktivitas-aktivitas yang bermanfaat.
Pernah aku coba tuk
melepaskan cengkramanmu dari tubuhku, walau sulit tetap aku coba. Pernah lepas,
tapi nyatanya kamu memang bukan makhluk yang mudah putus asa. Maka, apakah
harus aku belajar untuk menjadi orang yang tidak putus asa kepadamu?
Ah, sudahlah monolog aneh ini
menjadi semakin gila.
Mungkin banyak manusia yang
akhirnya dapat melepaskan diri darimu hanya karena mereka termotivasi oleh
perkataan orang lain. Apakah dari lisan seorang guru atau untaian kata yang
mengagumkan dari sang motivator kondang? Tapi aku pikir itu tak akan lama. Ya,
aku pernah mengalaminya. Lalu aku mulai memikirkan kembali, apa yang dapat
membuat mu pergi dan ketika kau kembali aku tetap kuat untuk menghalaumu?
Ternyata jawabannya adalah Hari Penghisaban. ??? Aku serius. Dengan berpikir
bahwa setiap perbuatan kita akan dipertanggungjawabkan di yaumil hisab, maka
kita akan terdorong untuk berusaha maksimal. Ya artinya mengenyahkan si malas.
So, sadarlah wahai teman kita akan dihisab, jangan tunda lagi amal-amal sholih
itu. :)
Langganan:
Postingan (Atom)
Aksi Mujahid 212: Saatnya Ulama dan Umat Bersatu Terapkan Syariah Kaffah
Beberapa waktu lalu, tepatnya pada Sabtu (28/9/19), telah berlangsung Aksi Mujahid 212 Selamatkan NKRI di Jakarta. Aksi yang diselenggarakan...
-
Ini tentang suatu hal yang remeh temeh, bukan suatu hal yang besar. Tetapi sangat penting, mungkin untuk yang menyadari. Seharga oksi...
-
Tulisan kali ini adalah sesi curhat. Karena si insom lagi mampir, jadilah pikiran di otak meloncat-loncat ramai, ngetuk-ngetuk minta keluar...
-
Terkadang rumusnya itu begini: jika kita terlampau menginginkan sesuatu, Allah malah tidak mengabulkan keinginan kita. Bisa jadi, itu karen...


