Rabu, Mei 08, 2013

Tak Usah di Baca



Ini tentang suatu hal yang remeh temeh, bukan suatu hal yang besar. Tetapi sangat penting, mungkin untuk yang menyadari. Seharga oksigen yang kita hirup per mili secon, sebanyak detakan jantung yang tak kita sadari. Ya begitulah, sering terlupa memang tapi justru itulah hal terpenting. Bukankah tak ada satu manusia pun di dunia ini yang hidup tanpa oksigen dan tak ada satu manusia pun yang mati tanpa terhenti detakan jantungnya. Yah, apa yang saya ingin share kali ini adalah hal kecil yang sering terlupa kadang terasa tak ada tapi ia nyata dan dibutuhkan.
Belakangan ini, tepatnya sejak beberapa bulan yang lalu ada tiga kata yang akhirnya selalu terapung dalam benak saya. Saya kira ini adalah sebuah rangkaian kata-kata yang lahir dari sebuah proses berfikir. Banyak hal yang saya fikirkan. Dan akhirnya saya memutuskan tiga kata ini menjadi salah satu kata kunci yang harus senantiasa saya ingat, iya betul saya, anda tak perlu mengingatnya.
Kata pertama adalah BELAJAR. Sebuah rangkaian huruf pasaran. Maksud saya, ini adalah kata yang sangat dekat dengan kita, sering sekali kita mendengar, membaca, ataupun mengucapkan kata B E L A J A R bukan? Mencoba memikirkan kata tujuh huruf ini agak lebih dalam. The simple word with important meaning. Saya tidak tau harus memulai membahasnya dari mana. Mungkin dari sini, ini berawal ketika saya melihat ke arah diri sendiri, memandangi diri ini rupanya hanya sebuah jasad tanpa prestasi tanpa isi. Tatkala memandang orang-orang di sekitar, ternyata yang terlihat mereka adalah orang-orang hebat. Tapi terkadang hal ini tak terlihat karena tebalnya kotoran yang menutupi hati ini, sehingga kita tak dapat lagi bercermin untuk melihat kekurangan diri, ya kotoran tebal berkarat itu adalah ego. Ego ini adalah penampakan dari fitrah kita sebagai manusia, yakni naluri yang sudah Allah berikan kepada kita bersamaan ketika Allah menciptakan kita, Ghorizah Baqa’ (naluri mempertahan diri / eksistensi), maka yang nampak adalah rasa marah, bahagia, kesal, sedih, bangga, kecewa, sombong etc. saya pernah bertanya kepada siri saya sendiri, apakah yang menyebabkan diri ini enggan untuk berkembang, tak mau berubah malah diam di tempat. Jawabannya adalah karena diri ini tak mau meng-up grade dirinya. Maka suatu saat kita melihat, orang-orang di sekeliling muncul menjadi orang-orang baru yang lebih cakap. Lalu apa yang terjadi dengan diri ini? Yang terjadi adalah, kita merasa sudah bisa ini dan itu. Dan terlalu tinggi menilai diri dan terlalu rendah memandang orang lain. Sehingga kita salah berfikir, untuk tidak mengambil pelajaran dari mereka. Kita sibuk memikirkan kelebihan-kelebihan yang kita punya dibanding yang teman kita punya. Padahal ketika di titik start kita bernilai 5 dan teman bernilai 2, ketika kita keukeuh berprinsip “saya lebih dari dia, saya punya prestasi, saya cukup lebih cerdas dari yang lain”, apabila kata-kata ini mulai terbersit, maka tunggulah kehancuran anda! Bagaimana kita tidak akan hancur, ketika sombong, merasa diri ini sudah pintar (pintar menilai diri sebetulnya :D ), ini berarti kita menutup pintu ilmu dari luar, maka kita akan stagnan kita tidak akan lebih baik, kita akan diam di tempat, sedangkan teman yang bernilai 2, dengan kerendahan hatinya, selalu menilai dirinya kurang, dia akan melejit melahap ilmu dari siapa pun. Dia yang akhirnya berproses dan jauh meninggalkan anda! Akhirnya diri ini tersadar, dia hanyalah makhluk Allah yang lemah. Yang serba kurang dan terbatas. Dan tak ada titik puncak karena ketika kita sudah merasa di puncak itulah tanda kejatuhan. Maka teruslah merasa kurang, tak peduli seberapa penuh kita. Kalaupun penuh biar lah ia luber dengan sendirinya sehingga menumpahkan air yang ada di dalam nya sehingga orang-orang di sekitar dapat merasakan airnya. See? Jadilah gelas kosong, tak peduli seberapa penuh anda. :)


Lalu yang kedua yang terngiang dalam benak saya adalah IKHLAS. Ini juga sama, kata yang sangat familiar. Entah berapa kali dalam hidup ini kita menyebutkan kata ikhlas. Mengapa IKHLAS? Karena inilah salah satu syarat dari dua syarat diterimanya amal perbuatan (apabila anda masih merasa bingung, maka saya sarankan anda membaca tulisan lain di blog ini, judulnya Ilmu, Amal dan Ikhlas :D ). Karena ikhlas adalah syarat mutlak, maka setiap amal yang kita lakukan tanpa nya itu akan sia-sia = 0. Apalah arti anda punya segudang ibadah yang anda tabung sejak anda baligh, tapi itu semua anda lakukan bukan karena Allah? Untuk apa? Itu semua tak akan menyelamatkan anda di akhirat nanti. Maka marilah kita BELAJAR meluruskan niat bersama, untuk mengerjakan segala sesuatu hanya karena-Nya. Saya yakin anda sudah faham tentang keikhlasan ini. Yang ingin saya ingatkan kembali adalah, memang sering kali syetan itu datang untuk menggoda, mengalir dalam alirah darah kita tanpa kita sadari, dengan lembut makhluk terkutuk itu merayu kita untuk selalu melanggar syariah. Maka ini lah point yang harus kita ingat, senantiasa luruskan  niat! Terkadang ada saatnya kita tak sadar melakukan sesuatu bukan karena Allah, entahlah karena apa, mungkin anda punya alasan lain, tapi semoga saja tidak. Semisal, mungkin ada orang nun jauh di sana yang mengkaji Islam karena tuntutan orang tua, ada yang rajin tilawah dan sholat sunah nya karena untuk di laporkan kepada guru, etc. Menyedihkan, semoga kita dijauhkan dari hal- hal demikian. Tapi apabila hal ini kadung muncul, maka terus lah jangan pernah anda bosan untuk senantiasa meluruskan niat. Bukan hanya sebelum anda mengerjakan amal sholih, pun setelahnya. Jagalah terus keikhlasan anda, karena syetan akan selalu mencari celah untuk merusak amal kita! Ataupun ketika kita mendapat pujian entah dari siapa pun atau dalam hal apa pun, jangan lantas anda terbang karenanya dan anda merasa cukup dan puas. Tetapi jadikanlah pujian itu menjadikan anda orang yang bersyukur, bersyukur kepada Sang Pencipta anda dan manusia lainnya serta setiap kelebihan yang Ia berikan ke dalam diri anda, termasuk pujian tadi. Sesungguhnya setiap pujian itu bukanlah untuk kita, tetapi untuk pencipta kita. Lantas bagaimana kita bisa sombong? Dan jadikanlah pujian sebagai obor yang menyalakan api semangat anda. Yang mendorong anda untuk melakukan hal yang lebih karena Allah, karena Dia yang memberikan potensi kepada kita. Oke? Lempeng aja, tak usah peduli apa kata sekitar, tak peduli suara-suara sumbang yang tak suka anda berkarya, teruslah berkarya amal sholih karena Allah, karena apabila ikhlas karena Allah, anda tak akan merasa putus asa ataupun kecewa. Karena kita sadar Allah menilai usaha kita, bukan hasil. :) Apakah anda menemukan keterkaitan antara ponit satu dan dua ini? :D
And the last is PRODUKTIF. Ya , apabila anda sudah mengosongkan gelas anda dan siap menerima air jernih yang mengisi anda, dan anda pun sudah meniatkan semuanya karena Allah, selanjutnya adalah bergeraklah, berbuatlah! Bikin sesuatu yang bermanfaat untuk orang lain. Entah itu sekedar kata-kata motivasi ataupun kalimat pengingat yang anda posting di med-sos. Apapun itu, cobalah anda buat (tentunya apa-apa yang diperbolehkan syariah). Seperti begini, saya bukan orang yang pandai dan kreatif, tapi karena dorongan tiga kata di atas akhirnya saya memutuskan untuk membuat blog ini, iya blog yang salah satu tulisan amatirnya sedang anda baca sekarang. Jelas saya bukan orang yang bisa menulis, tapi saya ingin belajar menulis, tak peduli apakah orang akan menilai ocehan-ocehan saya di blog ini kampring ato menarik, yang pasti selama apa yang saya bagi adalah al-haq, semoga itu jadi sumber pahala dan sumber inspirasi anda berubah. Bergeraklah, walau hanya satu mili meter, karena sedikit apa pun anda bergerak itu akan merubah posisi anda. Saya tak bisa membaca al-qur’an dengan satu atau lima kali belajar, tapi itu adalah akibat latihan terus menerus, sehingga akhirnya saya bisa. So belajarlah tentang apa pun selama itu tidak melanggar syariah, niatkan karena Allah lalu bagi lah itu kepada orang-orang disekitar anda.
Mengapa judul tulisan ini seperti di atas, karena tulisan ini saya goreskan (ketikkan maksudnya :D ) bukan untuk anda. Ini untuk mengingatkan saya. Saya yakin anda bukanlah orang seperti saya, yang harus selalu di ingatkan tentang hal remeh seperti di atas. But, btw thanks for read it. ^_^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Aksi Mujahid 212: Saatnya Ulama dan Umat Bersatu Terapkan Syariah Kaffah

Beberapa waktu lalu, tepatnya pada Sabtu (28/9/19), telah berlangsung Aksi Mujahid 212 Selamatkan NKRI di Jakarta. Aksi yang diselenggarakan...