Selasa, Mei 07, 2013

Islam: Jalan Kebangkitan Hakiki dan Shohih

Telah ramai kita ketahui bahwa tanggal 20 Mei diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Tetapi tidak banyak yang mengetahui latar belakang munculnya Hari Kebangkitan Nasional ini. Sejarah Hari Kebangkitan Nasional ini bermula dari bangkitnya rasa dan semangat persatuan, kesatuan, dan nasionalisme serta kesadaran untuk memperjuangkan kemerdekaan Republik Indonesia, yang sebelumnya tidak pernah muncul selama penjajahan Belanda dan Jepang. Masa ini ditandai dengan dua peristiwa penting yaitu berdirinya Boedi Oetomo (20 Mei1908) dan ikrar Sumpah Pemuda (28 Oktober1928) (www.wikipedia.org). Dari sini dapat kita simpulkan bahwa latar belakang munculnya Hari Kebangkitan Nasional ini adalah karena kolonialisme yang mencengkram negeri ini pada pra kemerdekaan. Sehingga rasa persatuan dan rasa cinta tanah air muncul dan menjadi penyebab diperingatinya Hari Kebangkitan Nasional ini.

Apabila kita kembali melihat realitas yang terjadi hari ini, Hari Kebangkitan Nasional ini menjadi sangat ambigu.  Disatu sisi Hari Kebangkitan Nasional terus diperingati setiap tahunnya, tetapi disisi lain kita sebagai warga negara tidak merasakan makna kebangkitan itu. Apa yang kita lihat adalah hilangnya rasa persatuan ketika Timor Timur melepaskan diri tahun 1999 dan menjadi negara merdeka bernama Timor Leste. Dan kemanakah rasa kesatuan itu ketika pemerintah hanya diam menyaksikan Aceh dan Papua bergejolak ingin memisahkan diri? Lalu dimana kah mereka menyimpan kata bangkit yang selalu dengan bangga mereka gaungkan? Kemanakah rasa nasionalisme yang menjadi penyebab lahirnya Hari Kebangkitan Nasional, ketika perut kita kelaparan akibat harta kita dirampok oleh asing? Dimana kah para tokoh nasionalis itu ketika sumber daya alam kita dikeruk setiap detik untuk kemaslahatan negara lain? Memang penjajahan fisik telah pergi dari negeri ini, namun penjajahan non fisik ternyata masih mencengkram kuat di seluruh sendi kehidupan; baik di sektor politik, ekonomi, sosial, budaya maupun keamanan. Apakah kebangkitan yang seperti ini yang kita harapkan? Lalu seperti apakah seharusnya kebangkitan itu?





Makna Kebangkitan



Kebangkitan dalam kamus besar Bahasa Indonesia adalah (1) bangun (dr tidur, duduk) lalu berdiri, (2) bangun (hidup) kembali, (3) timbul atau terbit ( marah), (4) kambuh (penyakit), (5) beterbangan ke udara (debu dsb), (6) mulai memuai (adonan) (www.kamusbahasaindonesia.org). Maka kata bangkit itu sendiri mempunyai makna berpindah. Berubah posisi, bangun dari duduk menjadi berdiri. Menurut Syaikh Hafidz Shalih, maksud dari kebangkitan ialah perpindahan umat, bangsa atau individu dari suatu keadaan menuju ke keadaan yang lebih baik (Hafidz Shalih, Falsafah Kebangkitan: Dari Ide Hingga Metode. (terj. An-Nahdhah)). Lebih jelas, Syaikh Taqiyyudin an-Nabhani dalam kitab Nizham al-Islam menyatakan bahwa kebangkitan yang hakiki harus dimulai dengan perubahan pemikiran (taghyir al-afkar) secara mendasar (asasiy[an]) dan menyeluruh (syamil[an]) menyangkut pemikiran tentang kehidupan, alam semesta dan manusia, serta hubungan antara kehidupan dunia dengan sebelum dan sesudahnya. Maka, kebangkitan hakiki suatu bangsa hanya akan dapat diperoleh saat taraf berfikir masyarakatnya meningkat, yakni dengan memeluk suatu pemikiran yang mendasar dan menyeluruh atau memeluk sebuah ideologi. Jadi kesimpulannya adalah makna kebangkitan dapat dilihat dari dua sisi yakni, secara bahasa adalah berpindah posisi, dan makna kebangkitan secara hakiki adalah perubahan yang berlandaskan ideologi.

Seperti yang telah kita ketahui bersama bahwa didunia ini hanya ada tiga ideologi, yaitu Sosialisme, Kapitalisme dan Islam. Uni Soviet pernah bangkit dengan sosialisme. Amerika bangkit dengan kapitalisme nya.Tetapi apakah Indonesia sudah bisa dikatakan  bangkit dengan Pancasila nya?

Sosialisme adalah suatu paham yang menghendaki segala sesuatu harus diatur bersama dan hasilnya dinikmati bersama-sama. Dengan kata lain, sosialisme adalah paham yang menghendaki kemakmuran bersama dan terwujutnya kesejahteraan masyarakat secara merata. Sosialisme diterapkan sebagai sebuah asas negara di Uni Soviet pada bulan Desember 1922 dengan Lenin sebagai Pemimpin Uni Soviet yang pertama. Dalam sejarahnya sosialisme mampu memberikan kesejahteraan kepada rakyat dengan cara menghapus strata di kalangan masyarakat, menghilangkan kepemilikan individu, sehingga kesejahteraan dapat dirasakan oleh setiap warga negara secara merata. Pada masa kepemimpinan Gorbachev, Uni Soviet menjadi negara yang lebih terbuka. Banyak perubahan-perubahan yang muncul pada masa Gorbachev, salah satunya adalah program glasnost (keterbukaan politik) yang memberikan kebebasan berbicara yang lebih besar dan menjadikan pers lebih jauh terbuka. Program glasnost mengakibatkan Partai Komunis kehilangan genggamannya yang mutlak terhadap media. Akibatnya media mulai menyingkapkan masalah-masalah sosial dan ekonomi yang parah yang telah lama disangkal dan ditutup-tutupi oleh pemerintah Soviet. Masalah-masalah seperti perumahan yang buruk, alkoholisme, penyalahgunaan obat-obatan dan korupsi kecil-kecilan hingga yang besar-besaran, yang kesemuaya selama ini telah diabaikan oleh media resmi, mendapatkan perhatian yang semakin besar. Secara keseluruhan, pandangan yang sangat positif mengenai kehidupan Soviet yang telah lama disajikan kepada publik oleh media resmi, dengan cepat menjadi rontok, dan aspek-aspek kehidupan negatif ditampilkan ke permukaan. Hal ini menggerogoti keyakinan publik terhadap sistem Soviet dan merontokkan basis kekuasaan sosial Partai Komunis, mengancam identitas dan integritas Uni Soviet sendiri. Pada tanggal 7 Februari 1990, Komite Pusat Partai Komunis setuju untuk melepaskan monopoli atas kekuasaan. Republik-republik anggota Uni Soviet mulai menegaskan kedaulatan nasional mereka. Puncaknya, Majelis Agung Uni Soviet membubarkan dirinya pada tanggal 26 Desember 1991 yang sekaligus menandakan bubarnya Uni Soviet sebagai suatu negara. Artinya memang ada pergerseran ideologi, dari sosialis menjadi lebih kapitalis-demokratis. Jadi, ideologi sosialis hanyalah menawarkan kebangkitan semu.

Pasca keruntuhan Uni Soviet yang mengusung sosialisme, Kapitalisme menjadi satu-satunya ideologi yang menonojol yang diemban oleh suatu negara. Asas dari kapitalisme adalah sekulerisme maka apa-apa yang dihasilkan ideologi ini tidak ada sangkut paut dengan agama ataupun Tuhan.  Akibat paham sekulerisme ini lahir pula paham libelarisme yakni paham kebebasan tanpa batas, mencakup kebebasan berpendapat, berperilaku, kepemilikan dan beragama. Negara terbesar yang mengemban ideologi kapitalisme adalah Amerika. Saat ini Amerika maju sebagai negara nomor satu didunia dengan membawa perubahan yang didasari oleh ideologi. Dia menjadi pembaharu dikancah dunia dengan menerapkan kapitalisme secara sempurna. Menawarkan kebahagiaan hidup melalui kebebasan, pembolehan terhadap aktivitas apapun. Tetapi ide ini menjadi bumerang untuk para pengembannya, akhirnya karena ide kebebasan Amerika menjadi negara dengan kasus kriminal yang tinggi. Amerika sebagai jantung kapitalisme, semakin hari kita lihat semakin melemah. Bank-bank disana collapse, buruh-buruh mengalami PHK. Sehingga kapitalisme pun digugat dinegaranya sendiri. Amerika yang diunggulkan menjadi negara adidaya ternyata sedang menunggu ajalnya saat ini. Ketika kapitalis sebagai ideologi utama yang diterapkan hampir di seluruh negara ini akan runtuh artinya kebangkitan berasaskan kapitalisme adalah kebangkitan yang semu. Kebangkitan yang tidak menghantarkan kepada kesejahteraan dunia dan kebahagiaan akhirat.

Negara Indonesia sendiri menjadikan Pancasila sebagai ideologi kebangkitannya. Namun ada yang terlupa, bahwa Pancasila sebenarnya baru sekedar falsafah, belum berupa ideologi, karena Pancasila tidak dapat menjawab tiga pertanyaan mendasar manusia, yakni darimana dia berasal, untuk apa dia hidup dan akan kemana setelah hidup. Pancasila bukan lah sebuah aqidah yang darinya terpancar sebuah sistem aturan yang dapat menyelesaikan setiap problematika kehidupan. Oleh karena nya,  Pancasila dalam praktiknya bisa ditarik-tarik ke arah sosialis seperti pada masa Orde Lama dan ke arah kapitalis seperti pada masa Orde Baru atau ke arah kapitalis-liberal seperti pada era Reformasi.

Pancasila bukanlah mabda dan bukan pula aqidah. Dari Pancasila kita tidak menemukan jawaban atas hubungan alam semesta, manusia dan kehidupan. Pancasila tidak dapat di imani. Pun dari pancasila tidak terpancar seperangkat aturan. Untuk membuktikannya adalah dengan mengajukan beberapa masalah dan kita lihat apakah pancasila dapat memberi solusi atau tidak. Sebagai permisalan, apakah pancasila dapat menjawab siapakah pencipta manusia? Konsep seperti apakah yang pancasila miliki untuk mengatur masalah kepemilikan harta benda? Pancasila tidak dapat menjawab itu semua. Karena memang dia bukanlah sebuah ideologi, dia hanya sekedar falsafah atau buah pemikiran manusia. Dia hanyalah sekedar konsep khayali. Dia tidak punya tata cara untuk merealisasikan konsepnya tersebut. Dengan kata lain pancasila hanyalah fiqroh yang tidak memiliki thoriqoh. Ketika itu hanya sekedar fiqroh, sudah jelas itu tidak dapat kita ambil sebagai landasan kehidupan. Karena kehidupan ini nyata dan penuh dengan amal-amal perbuatan. Artinya kita tidak dapat menjadikan pancasila sebagai landasan kebangkitan. Alih-alih menjadi landasan, dia malah berlandaskan dari sesuatu hal yang lain, yakni ideologi kapitalisme.

Kapitalisme adalah ideologi yang berasaskan pemisahan agama dari kehidupan. Yang menjadi pilarnya adalah kebebasan. Salah satu hasil dari faham kebebasan inilah lahir pancasila. Karena pancasila lahir pada saat manusia dibebaskan untuk berpendapat, manusia bebas untuk mengekspresikan pemikirannya, maka berarti pancasila lahir dari rahim ideologi kapitalis. Kesimpulannya Indonesia tidak akan pernah bangkit dengan pancasila karena dia bukan sebuah ideologi. Dan sesungguhnya ideologi yang Indonesia terapkan saat ini sebetulnya bukanlah pancasila tapi yakni kapitalisme. Aturan-aturan yang diterapkan Indonesia adalah aturan yang tercipta dari tangan-tangan manusia, hasil pemikiran makhluk. Artinya Indonesia telah memisahkan agama dari kehidupan, menghapus peran Tuhan sebagai pembuat hukum.

Kemudian ideologi Islam. Rasulullah bersama kaum muslimin genarasi awal pernah menjadikan Islam sebagai landasan kebangkitannya. Dan seperti yang kita ketahui bersama Rasulullah dan para sahabat berhasil bangkit, ditandai dengan adanya perubahan yang menyeluruh yaitu ditegakkannya Khilafah Islamiyah di Madinah, perubahan sistem kehidupan jahiliyah menjadi sistem kehidupan Islam. Islam diemban oleh sebuah negara eksis selama 1300 tahun lebih. Dengan menorehkan tinta emas. Banyak ilmuwan yang lahir pada masa kejayaan Islam dan banyak pula pembangunan-pembangunan infrastruktur negara yang pertama kali di bangun ternyata di masa keemasan Islam seperti rumah sakit dan universitas. Kebangkitan dengan Islam ini melahirkan individu-individu yang bertaqwa serta berhasil mensejahterakan warga negaranya. Kebutuhan-kebutuhan mendasar setiap warga negara dipenuhi oleh negara. Namun akhirnya Islam runtuh pada Maret 1924, atas usaha orang-orang kafir yang dibantu oleh antek Barat yakni Mustafa Kemal Attaturk.



Islam Jalan Kebangkitan Hakiki dan Shohih



Fakta empirik menunjukkan ideologi-ideologi batil tersebut justru menimbulkan efek kesengsaraan dan penderitaan bagi umat manusia. Hal ini menjadi sangat wajar mengingat, paradigma kedua ideologi tersebut tidak sesuai dengan fitrah manusia dan tidak memuaskan akal. Akidah dari sosialisme-komunis adalah materialisme yang menafikan adanya sang Pencipta. Padahal secara fitrah manusia memiliki kecendrungan untuk mensucikan atau menyembah sang Pencipta. Ideologi sosialisme-komunis juga bertentangan dengan akal. Pasalnya, mustahil manusia, alam semesta dan kehidupan ini ada dengan sendirinya alias tidak ada penciptanya.

Adapun akidah dari ideologi kapitalisme adalah sekulerisme. Meski mengakui adanya Tuhan, ideologi ini menolak campur-tangan Tuhan dalam mengatur kehidupan. Ini juga tidak sesuai fitrah manusia yang serba lemah dan terbatas, yang sangat membutuhkan aturan dari Tuhan sang Pencipta.

Maka dari sini kita dapat mengambil pelajaran bahwa Sosialisme dan Kapitalisme bukanlah landasan kebangkitan yang shohih. Sebab untuk mencapai kebangkitan yang hakiki dan shohih harus didasari oleh ideologi yang shohih pula. Sedangkan ideologi Islam berpijak pada akidah Islam, satu-satunya akidah yang shohih, bersumberkan dari Al-Quran dan as-Sunnah. Inilah akidah yang sesuai dengan fitrah manusia, memuaskan akal dan menentramkan jiwa. Kebangkitan yang shohih tentunya harus bersumber dari ideologi (mabda) yang shohih. Dan Ideologi (mabda) yang shohih harus berpijak di atas aqidah yang shohih. Akidah Islam memiliki karakteristik sebagai aqidah ruhiyah sekaligus akidah ri’ayah yang haq. Akidah ini memancarkan sebuah sistem (aturan) kehidupan yang menyeluruh, mengatur urusan pribadi, keluarga maupun negara. Ideologi shohih terpancar dari aqidah yang shohih. Sekalipun Islam pernah runtuh tetapi bukan dikarenakan kesalahan pada ideologi ataupun aqidahnya ini adalah karena usaha-usaha yang dilakukan oleh orang-orang kafir yang senantiasa membenci Islam,

Maka jelaslah hanya Islam satu-satunya aqidah dan ideologi yang shohih. Islam sebagai aqidah mampu untuk memuaskan akal, menentramkan hati dan sesuai fitrah manusia. Sedangkan sebagai ideologi Islam mampu mengurai berbagai macam problematika kehidupan dalam berbagai aspek. Jika kita merindukan kembali kebangkitan hakiki maka satu-satunya cara adalah mengambil Islam sebagai landasan kebangkitan kita. Alasan saat ini Islam belum bangkit adalah karena kaum muslimin belum mengemban Islam sebagai ideologi, Islam hanya di akui sebagai aqidah saja. Dengan demikian, kita harus mengemban Islam sebagai ideologi. Menyuarakan kembali ke-shohihan Islam sebagai landasan kehidupan yang dapat menghantarkan kepada kebangkitan hakiki.

Mengemban Islam sebagai mabda bukanlah hal yang utopis dan baru. Justru inilah yang diperjuangkan oleh Rasul kita tercinta, Muhammad SAW. Rasulullah bukan hanya mengajak masyarakat jahiliyah mengesakan Allah, lebih dari itu Rasul menyerukan untuk mengambil Islam sebagai aturan kehidupan. Rasul tidak hanya mencela berhala-berhala orang-orang jahiliah, tetapi juga menyerang setiap pemikiran dan aktivitas mereka yang bersumber dari selain Islam, seperti praktik riba, zina, membunuh dsb di kalangan masyarakat Mekah. Dan Rasul mengarahkan dakwahnya untuk mendirikan sebuah institusi yang menjadikan Islam sebagai asas kehidupan, institusi tersebut adalah Daulah Khilafah Islam, yang akhirnya tegak pertama kali di Madinah. Sebuah negara yang pembentukannya dilakukan atas dasar keimanan kepada Allah. Diperjuangkan oleh orang-orang yang ingin menerapkan Islam secara kaffah disetiap sendi kehidupan semata-mata untuk meraih ridho-Nya. Inilah bukti bahwa Allah tidak akan mengingkari janji-Nya. Inilah gambaran perjuangan kebangkitan hakiki dan shohih yakni kebangkitan yang didasari oleh ideologi yang shohih yakni ideologi Islam. Sudah seharusnya, semakin kuat keimanan kita kepada Allah maka semakin dalam kita mencintai Rasulullah saw. Semakin besar pula kita melipatgandakan usaha kita untuk mewujudkan kebangkitan hakiki tersebut yang tidak lain adalah penerapan Islam secara kaffah di dalam seluruh sendi kehidupan yakni dalam naungan Khilafah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Aksi Mujahid 212: Saatnya Ulama dan Umat Bersatu Terapkan Syariah Kaffah

Beberapa waktu lalu, tepatnya pada Sabtu (28/9/19), telah berlangsung Aksi Mujahid 212 Selamatkan NKRI di Jakarta. Aksi yang diselenggarakan...