Telah ramai kita ketahui bahwa tanggal
20 Mei diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Tetapi tidak banyak yang
mengetahui latar belakang munculnya Hari Kebangkitan Nasional ini. Sejarah Hari
Kebangkitan Nasional ini bermula dari
bangkitnya rasa dan semangat persatuan, kesatuan, dan nasionalisme
serta kesadaran untuk memperjuangkan kemerdekaan Republik
Indonesia, yang sebelumnya tidak pernah muncul selama penjajahan Belanda
dan Jepang. Masa ini ditandai dengan dua
peristiwa penting yaitu berdirinya Boedi Oetomo
(20 Mei1908) dan ikrar Sumpah Pemuda
(28 Oktober1928) (www.wikipedia.org). Dari sini dapat kita
simpulkan bahwa latar belakang munculnya Hari Kebangkitan Nasional ini adalah
karena kolonialisme yang mencengkram
negeri ini pada pra kemerdekaan. Sehingga rasa persatuan dan rasa cinta tanah
air muncul dan menjadi penyebab diperingatinya Hari Kebangkitan Nasional ini.
Apabila kita kembali melihat realitas
yang terjadi hari ini, Hari Kebangkitan Nasional ini menjadi sangat ambigu. Disatu
sisi Hari Kebangkitan
Nasional
terus diperingati setiap tahunnya, tetapi disisi lain kita sebagai warga negara
tidak merasakan makna kebangkitan itu. Apa yang kita lihat adalah hilangnya rasa persatuan
ketika Timor Timur melepaskan diri tahun 1999 dan menjadi negara merdeka
bernama Timor Leste. Dan kemanakah rasa kesatuan itu ketika pemerintah hanya
diam menyaksikan Aceh dan Papua bergejolak ingin memisahkan diri? Lalu
dimana kah mereka menyimpan kata bangkit yang selalu dengan bangga mereka gaungkan?
Kemanakah
rasa nasionalisme yang menjadi penyebab lahirnya Hari Kebangkitan Nasional,
ketika perut kita kelaparan akibat harta kita dirampok oleh asing? Dimana kah para tokoh nasionalis
itu ketika sumber daya alam kita dikeruk setiap detik untuk kemaslahatan negara
lain? Memang penjajahan fisik telah pergi dari negeri ini, namun penjajahan non
fisik ternyata masih mencengkram kuat di seluruh sendi kehidupan; baik di
sektor politik, ekonomi, sosial, budaya maupun keamanan. Apakah kebangkitan yang seperti ini yang kita
harapkan? Lalu seperti apakah seharusnya kebangkitan itu?
Makna
Kebangkitan
Kebangkitan dalam kamus besar Bahasa Indonesia adalah (1) bangun
(dr tidur, duduk) lalu berdiri, (2) bangun (hidup) kembali, (3) timbul atau
terbit ( marah), (4)
kambuh (penyakit),
(5) beterbangan ke udara (debu dsb), (6) mulai memuai (adonan) (www.kamusbahasaindonesia.org). Maka kata
bangkit itu sendiri mempunyai makna berpindah. Berubah
posisi, bangun dari duduk menjadi berdiri. Menurut Syaikh Hafidz Shalih, maksud
dari kebangkitan ialah perpindahan umat, bangsa atau individu dari suatu
keadaan menuju ke keadaan yang lebih baik (Hafidz Shalih, Falsafah Kebangkitan:
Dari Ide Hingga Metode. (terj. An-Nahdhah)). Lebih
jelas, Syaikh Taqiyyudin an-Nabhani dalam kitab Nizham al-Islam menyatakan
bahwa kebangkitan yang hakiki harus dimulai dengan perubahan pemikiran (taghyir
al-afkar) secara mendasar (asasiy[an]) dan menyeluruh (syamil[an]) menyangkut
pemikiran tentang kehidupan, alam semesta dan manusia, serta hubungan antara
kehidupan dunia dengan sebelum dan sesudahnya. Maka, kebangkitan hakiki suatu bangsa
hanya akan dapat
diperoleh saat taraf berfikir masyarakatnya meningkat, yakni dengan memeluk
suatu pemikiran yang mendasar dan menyeluruh atau memeluk sebuah ideologi. Jadi kesimpulannya adalah makna kebangkitan dapat dilihat dari dua sisi
yakni, secara bahasa adalah berpindah posisi, dan makna kebangkitan secara hakiki adalah perubahan yang berlandaskan
ideologi.
Seperti yang telah kita ketahui bersama bahwa didunia
ini hanya ada tiga ideologi, yaitu Sosialisme, Kapitalisme dan Islam. Uni Soviet pernah bangkit dengan sosialisme. Amerika bangkit dengan kapitalisme nya.Tetapi
apakah Indonesia sudah bisa dikatakan bangkit
dengan Pancasila nya?
Sosialisme
adalah suatu paham yang menghendaki segala sesuatu harus diatur bersama dan
hasilnya dinikmati bersama-sama. Dengan kata lain, sosialisme adalah paham yang
menghendaki kemakmuran bersama dan terwujutnya
kesejahteraan masyarakat secara merata. Sosialisme
diterapkan sebagai sebuah asas negara di Uni Soviet pada
bulan Desember
1922 dengan Lenin
sebagai Pemimpin Uni Soviet yang
pertama. Dalam sejarahnya sosialisme mampu
memberikan kesejahteraan kepada rakyat dengan cara menghapus strata di kalangan
masyarakat, menghilangkan kepemilikan individu, sehingga kesejahteraan dapat
dirasakan oleh setiap warga negara secara merata. Pada masa kepemimpinan
Gorbachev, Uni Soviet menjadi negara yang lebih terbuka. Banyak perubahan-perubahan
yang muncul pada masa Gorbachev, salah satunya adalah program glasnost
(keterbukaan politik)
yang
memberikan kebebasan berbicara yang lebih besar dan menjadikan pers lebih jauh terbuka. Program glasnost mengakibatkan Partai
Komunis kehilangan genggamannya yang mutlak terhadap media. Akibatnya media mulai menyingkapkan
masalah-masalah sosial dan ekonomi yang parah yang telah lama disangkal dan
ditutup-tutupi oleh pemerintah Soviet. Masalah-masalah seperti perumahan yang
buruk, alkoholisme,
penyalahgunaan obat-obatan dan
korupsi
kecil-kecilan hingga yang besar-besaran, yang kesemuaya selama ini telah diabaikan
oleh media resmi, mendapatkan perhatian yang semakin besar. Secara keseluruhan, pandangan yang
sangat positif mengenai kehidupan Soviet yang telah lama disajikan kepada
publik oleh media resmi, dengan cepat menjadi rontok, dan aspek-aspek kehidupan
negatif ditampilkan ke permukaan. Hal ini menggerogoti keyakinan publik
terhadap sistem Soviet dan merontokkan basis kekuasaan sosial Partai Komunis, mengancam
identitas dan integritas Uni Soviet sendiri.
Pada
tanggal 7 Februari
1990, Komite Pusat
Partai Komunis setuju untuk melepaskan monopoli atas kekuasaan. Republik-republik anggota Uni Soviet mulai
menegaskan kedaulatan nasional mereka. Puncaknya, Majelis Agung Uni Soviet membubarkan
dirinya pada tanggal 26 Desember 1991 yang sekaligus
menandakan bubarnya Uni Soviet sebagai suatu negara. Artinya memang ada pergerseran ideologi, dari
sosialis menjadi lebih kapitalis-demokratis. Jadi, ideologi sosialis hanyalah
menawarkan kebangkitan semu.
Pasca keruntuhan Uni Soviet
yang mengusung sosialisme, Kapitalisme menjadi satu-satunya ideologi yang
menonojol yang diemban oleh suatu negara. Asas dari kapitalisme adalah
sekulerisme maka apa-apa yang dihasilkan ideologi ini tidak ada sangkut paut
dengan agama ataupun Tuhan. Akibat paham
sekulerisme ini lahir pula paham libelarisme yakni paham kebebasan tanpa batas,
mencakup kebebasan berpendapat, berperilaku, kepemilikan dan beragama. Negara
terbesar yang mengemban ideologi kapitalisme adalah Amerika. Saat ini Amerika maju sebagai negara nomor satu didunia dengan membawa
perubahan yang didasari oleh ideologi. Dia menjadi pembaharu dikancah dunia
dengan menerapkan kapitalisme secara sempurna. Menawarkan kebahagiaan hidup melalui kebebasan, pembolehan terhadap
aktivitas apapun. Tetapi ide ini menjadi bumerang untuk para pengembannya,
akhirnya karena ide kebebasan Amerika menjadi negara dengan kasus kriminal yang
tinggi. Amerika sebagai jantung kapitalisme, semakin hari kita lihat semakin
melemah. Bank-bank disana collapse,
buruh-buruh mengalami PHK. Sehingga kapitalisme pun digugat dinegaranya
sendiri. Amerika yang diunggulkan menjadi negara adidaya ternyata sedang
menunggu ajalnya saat ini. Ketika
kapitalis sebagai ideologi utama yang diterapkan hampir di seluruh negara ini
akan runtuh artinya kebangkitan berasaskan kapitalisme adalah kebangkitan yang
semu. Kebangkitan yang tidak menghantarkan kepada kesejahteraan dunia dan
kebahagiaan akhirat.
Negara Indonesia
sendiri menjadikan Pancasila sebagai ideologi kebangkitannya. Namun ada yang
terlupa, bahwa Pancasila sebenarnya baru sekedar falsafah, belum berupa
ideologi, karena Pancasila tidak dapat menjawab tiga pertanyaan mendasar
manusia, yakni darimana dia berasal, untuk apa dia hidup dan akan kemana
setelah hidup. Pancasila bukan lah sebuah aqidah yang darinya terpancar sebuah
sistem aturan yang dapat menyelesaikan setiap problematika kehidupan. Oleh
karena nya, Pancasila dalam praktiknya bisa
ditarik-tarik ke arah sosialis seperti pada masa Orde Lama dan ke arah
kapitalis seperti pada masa Orde Baru atau ke arah kapitalis-liberal seperti
pada era Reformasi.
Pancasila bukanlah mabda dan
bukan pula aqidah. Dari Pancasila kita tidak menemukan jawaban atas hubungan
alam semesta, manusia dan kehidupan. Pancasila tidak dapat di imani. Pun dari
pancasila tidak terpancar seperangkat aturan. Untuk membuktikannya adalah
dengan mengajukan beberapa masalah dan kita lihat apakah pancasila dapat
memberi solusi atau tidak. Sebagai permisalan, apakah pancasila dapat menjawab siapakah
pencipta manusia? Konsep seperti apakah yang pancasila miliki untuk mengatur
masalah kepemilikan harta benda? Pancasila tidak dapat menjawab itu semua.
Karena memang dia bukanlah sebuah ideologi, dia hanya sekedar falsafah atau
buah pemikiran manusia. Dia hanyalah sekedar konsep khayali. Dia tidak punya
tata cara untuk merealisasikan konsepnya tersebut. Dengan kata lain pancasila
hanyalah fiqroh yang tidak memiliki thoriqoh. Ketika itu hanya sekedar fiqroh,
sudah jelas itu tidak dapat kita ambil sebagai landasan kehidupan. Karena
kehidupan ini nyata dan penuh dengan amal-amal perbuatan. Artinya kita tidak dapat menjadikan pancasila sebagai landasan kebangkitan. Alih-alih menjadi
landasan, dia malah berlandaskan dari sesuatu hal yang lain, yakni ideologi
kapitalisme.
Kapitalisme adalah ideologi
yang berasaskan pemisahan agama dari kehidupan. Yang menjadi pilarnya adalah
kebebasan. Salah satu hasil dari faham kebebasan inilah lahir pancasila. Karena pancasila lahir pada saat manusia dibebaskan untuk
berpendapat, manusia bebas untuk mengekspresikan pemikirannya, maka berarti pancasila lahir dari rahim ideologi kapitalis. Kesimpulannya Indonesia tidak akan pernah bangkit dengan pancasila
karena dia bukan sebuah ideologi. Dan sesungguhnya ideologi yang Indonesia
terapkan saat ini sebetulnya bukanlah pancasila tapi yakni kapitalisme.
Aturan-aturan yang diterapkan Indonesia adalah aturan yang tercipta dari
tangan-tangan manusia, hasil pemikiran makhluk. Artinya Indonesia telah memisahkan
agama dari kehidupan, menghapus peran Tuhan sebagai pembuat hukum.
Kemudian
ideologi Islam. Rasulullah bersama kaum muslimin genarasi awal pernah
menjadikan Islam sebagai landasan kebangkitannya. Dan seperti yang kita ketahui
bersama Rasulullah dan para sahabat berhasil bangkit, ditandai dengan adanya
perubahan yang menyeluruh yaitu ditegakkannya Khilafah Islamiyah di Madinah,
perubahan sistem kehidupan jahiliyah menjadi sistem kehidupan Islam. Islam
diemban oleh sebuah negara eksis selama 1300 tahun lebih. Dengan menorehkan
tinta emas. Banyak ilmuwan yang lahir pada masa kejayaan Islam dan banyak pula
pembangunan-pembangunan infrastruktur negara yang pertama kali di bangun
ternyata di masa keemasan Islam seperti rumah sakit dan universitas.
Kebangkitan dengan Islam ini melahirkan individu-individu yang bertaqwa serta
berhasil mensejahterakan warga negaranya. Kebutuhan-kebutuhan mendasar setiap
warga negara dipenuhi oleh negara. Namun akhirnya Islam runtuh pada Maret 1924,
atas usaha orang-orang kafir yang dibantu oleh antek Barat yakni Mustafa Kemal
Attaturk.
Islam
Jalan Kebangkitan Hakiki dan Shohih
Fakta empirik menunjukkan
ideologi-ideologi batil tersebut
justru menimbulkan efek kesengsaraan dan penderitaan bagi umat manusia. Hal ini
menjadi sangat wajar mengingat, paradigma kedua ideologi tersebut tidak sesuai
dengan fitrah manusia dan tidak memuaskan akal. Akidah dari sosialisme-komunis
adalah materialisme yang menafikan adanya sang Pencipta. Padahal secara fitrah
manusia memiliki kecendrungan untuk mensucikan atau menyembah sang Pencipta.
Ideologi sosialisme-komunis juga bertentangan dengan akal. Pasalnya, mustahil
manusia, alam semesta dan kehidupan ini ada dengan sendirinya alias tidak ada
penciptanya.
Adapun akidah dari ideologi kapitalisme
adalah sekulerisme. Meski mengakui adanya Tuhan, ideologi ini menolak
campur-tangan Tuhan dalam mengatur kehidupan. Ini juga tidak sesuai fitrah
manusia yang serba lemah dan terbatas, yang sangat membutuhkan aturan dari
Tuhan sang Pencipta.
Maka dari sini kita dapat mengambil
pelajaran bahwa Sosialisme dan Kapitalisme bukanlah landasan kebangkitan yang
shohih. Sebab untuk mencapai kebangkitan yang hakiki dan shohih harus didasari
oleh ideologi yang shohih pula. Sedangkan ideologi Islam berpijak pada akidah
Islam, satu-satunya akidah yang shohih, bersumberkan dari Al-Quran dan
as-Sunnah. Inilah akidah yang sesuai dengan fitrah manusia, memuaskan akal dan
menentramkan jiwa. Kebangkitan yang shohih tentunya harus bersumber dari
ideologi (mabda) yang shohih. Dan Ideologi (mabda) yang shohih harus berpijak
di atas aqidah yang shohih. Akidah Islam memiliki karakteristik sebagai aqidah
ruhiyah sekaligus akidah ri’ayah yang haq. Akidah ini memancarkan sebuah sistem
(aturan) kehidupan yang menyeluruh, mengatur urusan pribadi, keluarga maupun
negara. Ideologi shohih terpancar dari
aqidah yang shohih. Sekalipun Islam pernah runtuh tetapi bukan dikarenakan
kesalahan pada ideologi ataupun aqidahnya ini adalah karena usaha-usaha yang
dilakukan oleh orang-orang kafir yang senantiasa membenci Islam,
Maka
jelaslah hanya Islam satu-satunya aqidah dan ideologi yang shohih. Islam
sebagai aqidah mampu untuk memuaskan akal, menentramkan hati dan sesuai fitrah
manusia. Sedangkan sebagai ideologi Islam mampu mengurai berbagai macam
problematika kehidupan dalam berbagai aspek. Jika kita merindukan kembali
kebangkitan hakiki maka satu-satunya cara adalah mengambil Islam sebagai
landasan kebangkitan kita. Alasan saat ini Islam belum bangkit adalah karena kaum
muslimin belum mengemban Islam sebagai ideologi, Islam hanya di akui sebagai
aqidah saja. Dengan demikian, kita harus mengemban Islam sebagai ideologi.
Menyuarakan kembali ke-shohihan Islam sebagai landasan kehidupan yang dapat menghantarkan
kepada kebangkitan hakiki.
Mengemban
Islam sebagai mabda bukanlah hal yang utopis dan baru. Justru inilah yang
diperjuangkan oleh Rasul kita tercinta, Muhammad SAW. Rasulullah bukan hanya
mengajak masyarakat jahiliyah mengesakan Allah, lebih dari itu Rasul menyerukan
untuk mengambil Islam sebagai aturan kehidupan. Rasul tidak hanya mencela
berhala-berhala orang-orang jahiliah, tetapi juga menyerang setiap pemikiran
dan aktivitas mereka yang bersumber dari selain Islam, seperti praktik riba, zina,
membunuh dsb di kalangan masyarakat Mekah. Dan Rasul mengarahkan dakwahnya
untuk mendirikan sebuah institusi yang menjadikan Islam sebagai asas kehidupan,
institusi tersebut adalah Daulah Khilafah Islam, yang akhirnya tegak pertama
kali di Madinah. Sebuah negara yang pembentukannya dilakukan atas dasar
keimanan kepada Allah. Diperjuangkan oleh orang-orang yang ingin menerapkan
Islam secara kaffah disetiap sendi kehidupan semata-mata untuk meraih ridho-Nya.
Inilah bukti bahwa Allah tidak akan mengingkari janji-Nya.
Inilah
gambaran perjuangan kebangkitan hakiki dan shohih yakni kebangkitan yang didasari
oleh ideologi yang shohih yakni ideologi Islam. Sudah seharusnya, semakin kuat keimanan
kita kepada Allah maka semakin dalam kita mencintai Rasulullah saw. Semakin
besar pula kita melipatgandakan usaha kita untuk mewujudkan kebangkitan hakiki
tersebut yang tidak lain adalah penerapan Islam secara kaffah di dalam seluruh
sendi kehidupan yakni dalam naungan Khilafah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar