Ikhlas.
Hmm, sebetulnya ini hanya gabungan huruf-huruf saja tak ada yang spesial bukan,
karena nggak pake telor.. lho????!! :P
Sebetulnya
saya ragu untuk membuat tulisan dengan judul ini. Iya, kayaknya berat banget ya
buat bahasnya juga. Dan pasti riskan salah.. heu
Tapi
entahlah saya tetap ingin menulis, dan seperti harapan-harapan saya di tulisan
sebelumnya, semoga ada manfaat walaupun hanya seberat zarrah.. :)
Menurut
saya, ini adalah hal yang diharuskan namun kita tak pernah tau kita benar
melakukannya atau tidak. Coba saja anda pikir, apakah ada alat ataupun
indikator pengukur keikhlasan? Jangankan secara kuantitatif secara kualitatif
pun tak ada yang dapat mengukurnya. Maksud saya, jangankan mengukur berapa
persen ke-ikhlas-an kita dalam beribadah, untuk mencari tau saja ada atau tidak
keikhlasan itu, kita tak akan pernah bisa.. padahal justru inilah salah satu
dari dua syarat diterimanya amal. Artinya ini memang perkara yang penting
bukan?
Tapi
mungkin andaikan ikhlas dapat diukur, bisa jadi ketika kita memulai suatu amal
lalu kita tau di awal kita mengerjakannya tidak ikhlas, secara otomatis kita
akan berhenti melakukan amal tersebut karena kita akan merasa sia-sia. Untung
saja Allah merahasiakannya dari kita, untuk apa? Mungkin agar kita terus
berusaha karena tidak tau apakah diterima atau tidak, maka kita akan lebih
maksimal dan terus berbenah.. mungkin……..
Ikhlas
sering didefinisikan oleh para ulama dengan: beramal semata-mata karena Allah.
Jadi ketika kita ikhlas dalam beramal, yakni beramal semata-mata karena Allah,
berarti kita harus benar-benar menunjukkan bahwa amal kita semata-mata hanya
dipersembahkan untuk-Nya, bukan untuk selain-Nya. Pertanyaannya: Apakah sesuatu
yang dipersembahkan hanya untuk Allah itu cukup yang biasa-biasa saja,
minimalis dan terkesan asal-asalan? Apakah sesuatu yang dipersembahkan khusus
untuk Allah itu harus yang berkualitas, istimewa dan optimal?
Ketika
seseorang mempersembahkan sesuatu hanya khusus bagi orang yang dicintainya, ia
tentu akan mempersembahkan yang terbaik dan istimewa untuknya; bukan yang
biasa-biasa saja, apalagi yang berkualitas buruk. Demikian pula seseorang yang
ikhlas, yang mempersembahkan amalnya hanya untuk Allah, Penciptanya; ia hanya
akan mempersembahkan amalan terbaik dan istimewa untuk-Nya. Walhasil, ikhlas
sesungguhnya harus berbuah ihsan yakni amalan terbaik sesuai dengan yang Allah
kehendaki.
Meski
pun di awal tadi saya sudah sebutkan bahwa keikhlasan itu pure hanya Allah yang
tau, tapi kita sebagai hamba dapat melihat tanda-tanda bahwa kita tidak ikhlas.
Sekali lagi, ini tanda-tanda tidak ikhlas, bilapun kita sudah merasa tidak
mengalami tanda-tanda di bawah ini, tetap saja ikhlas atau tidaknya amal kita,
hanya Allah saja yang tau. Ini hanya bahan evaluasi untuk diri kita
masing-masing.
Ciri
kurang/tidak ikhlas: mengerjakan amal di waktu sisa, bermalas-malasan dalam
mengerjakan amal tsb, berusaha mencari dalih/alasan agar tidak usah mengerjakan amal
tsb, terkesan tidak sungguh-sungguh (asal-asalan) dalam mengerjakan aktivitas
tsb (tidak optimal), mudah putus asa (bahkan gugur/menyerah) ketika menghadapi
rintangan dalam mengerjakan amal tsb.
Silakan,
anda pikirkan baik-baik kelima hal di atas. Anda cerminkan kepada ibadah-ibadah
yang anda lakukan, entah itu sholat wajib, sholat sunnah, shaum sunnah ataupun
dakwah!
Dan adakalanya
mungkin kita terjebak dalam pemikiran bahwa yang berpahala besar itu apabila
yang kita lakukan pun adalah sebuah amal yang besar. Contoh simpel, terkadang
kita berpikir akan lebih besar pahalnya jika kita berinfaq uang sebesar 100
ribu rupiah dibanding dengan 5 ribu rupiah, betul tidak? Ataupun contoh
lainnya, kita akan berpikir dalam dakwah, pahala yang besar itu hanya untuk
orang-orang yang berbicara di depan forum. Tapi kalo cuman sekedar ngajak ngaji
mah itu pahalanya sedikit. Hemm, kata siapa? Iya, memang itu kata saya, kan
saya yang nulis barusan. Ya, memang terkadang ada pemikiran seperti itu. Padahal
ingat diterimanya sebuah amal adalah tergantung dari keikhlasan dan kesesuaian
amal tsb dengan apa yang telah ditetapkan oleh Allah (hukum Syara'). Janganlah kita berpikir
demikian, karena jika demikian maka kita akan menjadi orang yang pemilih dalam
beramal. Hanya akan beramal apabila pahalanya pi-gede-eun padahal nggak ada
bahasa kaya gitu. Hanya mau dakwah kalo depan forum hanya mau infaq kalo lagi
ada duit gede. Padahal kesempatan mengisi sebuah forum itu tidak selalu datang
bukan? Dan bukankah ada kalanya kita hanya punya uang recehan?
Maka,
beramallah walau itu hanya sekedar mengantarkan barang, atau mengantar teman
yang ingin mengkaji Islam, atau meminjamkan uang, atau berinfaq 1 ribu rupiah,
atau “hanya sekedar” tersenyum kepada temanmu. Karena bisa jadi yang ikhlas
kita kerjakan adalah hal-hal yang dianggap oleh orang sebagai remeh temeh bukan
yang bergengsi. Akan lebih mudah bukan menjaga keikhlasan apabila kita
mengerjakan amal tanpa dilihat orang lain? Maka tak perlu merasa rendah jika
mendapat amanah yang ringan dan tak perlu merasa bangga bila mendapat amanah yang
besar. Ingat penilaian Allah lah yang seharusnya kita khawatirkan. Bukan, bukan
pandangan manusia yang tak sedikitpun mampu memberi pahala kepada kita. Yang menghisab
itu Allah, bukan manusia. Dan kata seorang guru, ikhlas itu bila dipuji tidak
bertambah amalnya dan bila dicela tak berkurang amalnya. Jelas, karena yang
kita perhatikan bukan lisan manusia, tapi ridho Allah. Dan apabila di awal kita
merasa yang diharap itu bukan ridho Allah, ketika kita sadari hal itu maka tidak
seharusnya pula kita berhenti beramal. Karena itu sama saja beramal bukan
karena Allah alias nggak ikhlas. Maka lanjutkan saja amalnya. Terus tempa diri kita supaya kita
bisa ikhlas menjalani aktivitas tersebut. Jangan berhenti, lanjutkan saja,
karena bisa jadi ketika kita khawatir tidak ikhlas dan kita terus berusaha
memaksimalkan dan mengikhlaskan, itulah yang Allah nilai…..
Jadi,
teruslah bergerak. Bukan untuk dilihat ataupun didengar, tapi untuk ditimbang,
sebagai bukti bahwa kita beriman dan bertaqwa kepada-Nya. Bukankah taat itu
harus dibuktikan?
Referensi:
Hikmah-hikmah Bertutur untuk Jiwa yang Mudah Futur. (Arief B. Iskandar)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar