Kemiskinan adalah salah satu dari sekian banyak masalah yang belum bisa diselesaikan oleh negeri ini. Kemiskinan menjadi pintu munculnya masalah-masalah lain seperti kriminalitas, perceraian dan buruknya kesehatan masyarakat. Seperti yang terjadi di daerah Cileunyi, seorang perempuan malang harus pasrah terbaring karena kelumpuhan. Seperti dikutip dari jabar.tribunnews.com, SR (22), warga Kampung Sekejengkol, Desa Cileunyi, Cileunyi Kulon, Kecamatan Cileunyi, Kabupaten Bandung, hanya bisa berbaring di atas kasur selama 20 tahun terakhir.
Berawal pada tahun 1998 ketika berusia 1,5 tahun, SR mengalami demam tinggi disertai kejang-kejang, sehingga kedua orang tuanya memutuskan untuk membawa SR ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ujung Berung, Kota Bandung. Setelah mendapatkan perawatan dari rumah sakit, seminggu kemudian, kedua orang tuanya merasakan adanya kejanggalan. SR jadi lebih diam dan kesulitan bergerak, berbeda seperti satu hari setelah mendapatkan perawatan dari rumah sakit. Kemalangan pun bertambah, dua tahun kemudian, ibu SR, memutuskan berpisah dan bekerja di Arab Saudi menjadi tenaga kerja wanita (TKW). Ibu SR menyerahkan hak asuh sepenuhnya kepada ayah SR dan tidak lama kemudian ibu SR kembali memiliki tambatan hati lain.
Pihak Dinsos dan warga setempat pernah beberapa kali memberi bantuan ala kadarnya untuk pengobatan SR, namun tetap saja tak mampu menyelesaikan secara tuntas terkait kebutuhan pengobatan dan peningkatan kualitas hidup SR. Tentu kasus seperti yang dialami SR butuh proses pengobatan yang tidak singkat dan membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Perlu pengobatan komprehensif dan peningkatan taraf hidup agar hidup bersih dan sehat terwujud.
Kisah SR hanyalah satu dari ribuan kisah serupa yang terjadi di negeri ini. Negeri yang katanya kaya raya tapi nyatanya rakyat masih berkutat dengan masalah yang paling mendasar yakni kesehatan. Sejatinya kesehatan adalah salah satu kebutuhan mendasar bagi rakyat. Akan tetapi pada hari ini tidak sedikit masyarakat yang kesulitan mengakses pelayanan kesehatan karena kemiskinan. Seperti kasus Santi di atas, setelah lumpuh Santi tidak mendapatkan perawatan kesehatan karena himpitan ekonomi yang dialami keluarganya. Pada faktanya terjadi ketimpangan ekonomi di masyarakat. Di satu sisi, sebagian masyarakat bisa mengakses pelayanan kesehatan dengan mudah tapi di sisi lain tak sedikit yang kisahnya harus berujung maut karena tak mampu untuk melakukan pengobatan.
Maka diperlukan peran negara yang mampu mengurusi rakyat dalam memenuhi kebutuhannya. Negara sebagai pranata tertinggi dalam sebuah komunitas masyarakat seharusnya mengambil peran untuk menjamin kesehatan bagi setiap rakyatnya. Hari ini kesehatan menjadi sesuatu yang mahal. Seakan-akan rakyat miskin dilarang sakit. Penerapan ideologi kapitalis menjadikan negara hanya sebagai penyedia pelayanan kesehatan tanpa memastikan setiap rakyat mampu mengaksesnya dengan mudah dan murah.
Lebih jauh pemerintah justru menjadikan hubungan negara dan rakyat layaknya penjual dan pembeli. Padahal sejatinya negara selayaknya memposisikan diri sebagai ibu yang mengurus, memenuhi segala kebutuhan dan menyayangi rakyatnya bagai anak kandungnya tanpa mengharap keuntungan materi. Maka malangnya rakyat yang kini harus hidup dalam pusara sistem kapitalis, ketika mereka tak mampu menjangkau akses kesehatan mereka hanya bisa pasrah menunggu ajal datang.
Berbeda halnya dengan Islam. Islam memandang kesehatan adalah salah satu kebutuhan mendasar masyarakat yang dijamin pemenuhannya oleh negara. Negara memastikan setiap individu terpenuhi hajat hidupnya. Sejarah kegemilangan Islam mencatat rumah sakit pertama dibangun pada abad pertama hijriah. Pelayanan dilakukan dengan bebas biaya atau gratis, tanpa memandang apakah pasien dari kalangan miskin atau kaya, juga tanpa melihat agamanya. Selama ia berstatus warga negara maka pasien akan mendapatkan pelayanan dengan cepat dan berkualitas.
Dana pelayanan kesehatan bisa semaju dan sebaik itu didapat dari kas negara yakni Baitul Mal, yang diperuntukkan bagi kesejahteraan rakyat diantaranya kesehatan. Sumber lain adalah wakaf dari masyarakat. Inilah sinergi positif di antara masyarakat dan negara.
Indonesia pun negeri yang amat kaya, sumber daya alam demikian melimpah. Hanya saja hampir semua dikelola oleh swasta baik asing maupun dalam negeri. Pada gilirannya negara kehilangan sumber-sumber pendapatannya. Kekayaan alam negeri tak mampu diatur dan dikelola untuk kesejahteraan rakyatnya.
Di sinilah letak urgensitas penerapan sistem Islam dalam bingkai Daulah Khilafah yang akan mau dan mampu mengelola kekayaan negeri demi kesejahteraan rakyat. Hal ini dikarenakan Allah SWT memerintahkan penguasa untuk bertanggung jawab atas seluruh urusan rakyatnya, termasuk tentu menjamin kebutuhan pokok mereka. Rasulullah saw. bersabda:
فَالْإِمَامُ الَّذِي عَلَى النَّاسِ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
Pemimpin atas manusia adalah pengurus dan ia bertanggung jawab atas rakyat yang dia urus (HR al-Bukhari, Muslim dan Ahmad).
Wallahu a'lam bi ash-shawab
A blog that a bit weird and ambiguous, but you can take something from it, whether it be reproach or contemplation.
Jumat, Juli 19, 2019
Selasa, Juli 09, 2019
"Pengantin Pesanan" : Perempuan Menjadi Komoditas Kapitalis
Ramai pemberitaan tentang puluhan WNI yang diduga menjadi korban “Pengantin Pesanan” di China. Seperti yang dikutip dari situs detik.com, Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta dan Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI) menyebut sebanyak 29 WNI menjadi korban pengantin pesanan di China. Data tersebut diperoleh berdasarkan pengaduan korban sepanjang 2016-2019. Dengan iming-iming nafkah yang besar, para perempuan itu dibawa dan dinikahkan di China. Namun, kata Sekjen SBMI Bobi Anwar Maarif, perempuan ini malah ‘dieksploitasi’ dengan bekerja di pabrik tanpa upah. Mereka diduga menjadi korban perdagangan orang yang melibatkan sindikat China dan Indonesia.
Tentu ini bukan kali pertama masyarakat disuguhkan berita tentang kasus perdagangan orang. Indonesia merupakan salah satu negara korban perdagangan manusia. Banyak kasus perdagangan manusia terjadi sepanjang 2013 hingga 2018. Pada April 2018 lalu, Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri mencatat sekitar 1.154 warga negara Indonesia (WNI) menjadi korban tindak pidana perdagangan orang (TPPO). Salah satu upaya yang dilakukan untuk menindak pelaku perdagangan manusia adalah adanya UU TPPO (Tindak Pidana Perdagangan Orang) Nomor 21 tahun 2007.
Namun pada kenyataannya, UU Nomor 21 Tahun 2007 ini belum berhasil menjawab permasalahan human trafficking di negeri ini. Maka menjadi hal yang niscaya kejadian serupa akan kembali terulang di kemudian hari. Dan ini merupakan ancaman yang sangat berbahaya untuk masyarakat, khususnya kaum perempuan yang telah banyak menjadi korban. Jika kita amati, setidaknya ada beberapa hal yang mendorong TPPO terus bermunculan.
Pertama, kehidupan sekuler yang kapitalistik. Akibat penerapan sistem sekuler, manusia menjadi makhluk yang bebas aturan. Agama tak lagi dijadikan dasar dalam menjalani kehidupan. Pemikiran kapitalistik yang begitu mendewakan materi menghasilkan manusia yang hanya mengejar kehidupan dunia dengan kacamata uang. Halal haram tak lagi menjadi standar perbuatan. Dalam pandangan kapitalisme perempuan menjadi komoditas yang bisa digunakan untuk meraup keuntungan.
Kedua, tuntutan ekonomi. Dengan kondisi masyarakat saat ini yang banyak berpenghasilan rendah, mereka akan mudah tergiur oleh tawaran pekerjaan dengan bayaran tinggi. Sehingga mengabaikan nilai-nilai agama dan norma hukum.
Ketiga, lemahnya penegakan hukum. Sekalipun sudah diatur dalam undang-undang dengan hukuman yang tidak ringan, tetap saja tidak menimbulkan efek jera terhadap para pelaku. Akhirnya kasus-kasus baru yang semisal terus bermunculan.
Sebagaian pihak memandang bahwa permasalahan perdagangan manusia khususnya perdagangan perempuan terjadi akibat adanya perlakuan hukum yang diskriminatif terhadap perempuan. Sehingga yang harus dimunculkan adalah pandangan yang setara terhadap laki-laki dan perempuan agar perempuan tidak selalu menjadi kaum marjinal. Tentu saja ini tidak tepat karena kasus perdagangan orang pun banyak terjadi pada kaum laki-laki, di Indonesia pun salah satunya terjadi pada para nelayan.
Solusi dari permasalahan perdagangan manusia ini adalah dengan mewujudkan sistem paripurna yang datang dari Zat Yang Maha Sempurna yakni Allah SWT bukan menyetarakan antara perempuan dan laki-laki. Justru Islam memandang bahwa perempuan adalah kehormatan yang wajib dijaga, maka tidak akan pernah terjadi perempuan pergi meninggalkan rumahnya tanpa jaminan keamanan, dalam hal ini negara akan ikut campur dan bertindak tegas mengurusi hal ini.
Hanya syariah Islam dalam bingkai Daulah Khilafah yang akan mampu menjamin kesejahteraan, menjaga dan melindungi kehormatan perempuan, sebagaimana dahulu Khalifah Mu'tashim Billah mengerahkan pasukannya dari Baghdad ke kota Amuria untuk melindungi kehormatan seorang perempuan yang dilecehkan tentara Romawi. Bahkan akhirnya berhasil menaklukan kota tersebut. Inilah bukti keagungan Islam dan sistemnya.
Kemudian dengan penerapan aturan Islam, masyarakat akan terdorong untuk memiliki keimanan yang kuat, mereka tidak akan mudah tergiur dengan iming-iming uang untuk melakukan tindak kejahatan. Negara pun wajib menyediakan lapangan pekerjaan agar masyarakat mempunyai mata pencaharian yang halal dan tidak harus mencarinya ke negeri lain.
Islam datang berupa seperangkat aturan bagi kehidupan. Termasuk di dalamnya terdapat aturan bernegara dan sistem persanksian. Dengan sanksi yang berat maka para pelaku akan jera dan ini akan mencegah masyarakat untuk melakukan perbuatan yang sama.
Selasa, Agustus 23, 2016
Teman, Mati, Dilupakan
Agak syerem kah letupan yang terjadi di dalam otak saya kali ini? Entah apa yang terjadi di dalam sana memang, inspirasi sedang meletup-letup memaksa keluar. Karena banyak kegelisahan itu akan membuat mu berpikir, maka banyak-banyak lah menulis saat gelisah. :D
Siklus hidup bukan kah memang begitu? Hidup, mati lalu dilupakan? Dan teman, ada banyak sekali jumlahnya di dunia ini. Entah berapa banyak nama teman yang ada dalam ingatan saya, banyak sekali. Tapi kamu tau, yang kita ingat selalu saja nama-nama mereka yang meninggalkan kesan mendalam. Bukan mereka yang melupakan kita saat kita butuh, kebalikannya justru mereka yang ada setiap saat kita di posisi rendah dalam hidup.
TK, SD, SMP, SMA, kuliah, kerja. Pasti selalu ada teman baru. Dan hari ini saya sedang banyak mengingat teman lama. Teman yang sudah sejak lama tidak menjalin komunikasi, hanya melihatnya dari kejauhan. Dan melihatnya dari mana kau tau? Tentu saja jejaring sosial, begitu mudah pada jaman ini ketika kita ingin tau keadaan orang lain.
Mereka adalah teman terbaik yang menyambut saya pada saat saya masih jadi anak bawang dalam kehidupan ini. Teman mencari jati diri, sayang akhir pencarian kami berbeda. Maka mungkin itulah penyebab kami berjauhan. Hanya saja saya tetap tidak bisa melupakan mereka karena kebaikan mereka pada saat darah ini masih begitu mendidih. Ingin rasanya memeluk mereka lalu meminta maaf atas segala ego dan berterima kasih atas kebaikan mereka. Tapi sayang entah kapan itu bisa terwujud. Karena untuk bertegur sapa saja sudah begitu sulit.
Ada seorang teman yang mengajarkan saya untuk pertama kalinya menggunakan handphone. Saat itu tahun 2003, saya belum pernah punya hp, padahal teman-teman sekolah dulu sudah ada yang menggunakan hp berkamera. Pada masa itu tidak ada yang spesial, hanya ada seorang teman yang membimbing temannya, wajar dan sangat biasa bukan? Tapi mengapa saat terkenang masa itu menjadi sangat spesial. Padahal bisa saja teman saya ini sudah tak ingat kejadian itu. Dan mungkin bagi dia saya sudah dilupakan. Lalu? Tak apa siklus hidup bukan kah memang begitu?
Banyak lagi teman-teman yang memberikan kesan mendalam kepada saya. Dia yang selama bertahun-tahun satu kelas dan satu meja, kemana-mana pergi bareng, kalau ngobrol klop dan nyambung nya cucok banget.
Hai, apa kabar kalian di sana? Semoga selalu sehat. Ada yang sudah menikah, punya anak, meraih cita-cita. Senang nya saya dari kejauhan menyaksikan kalian terlihat bahagia. Maafkan jika saya sebagai teman tak mencari mu dan melewatkan banyak hal dalam hidup mu. Terima kasih untuk kesan mendalam yang kalian sisakan. Aku dari kejauhan mendoakan mu, semoga kelak kita berkumpul di syurga Nya. Dan aku, tak usah risau tentang ku, aku di sini baik-baik saja dan sudah siap untuk dilupakan. :)
Tak apa aku dilupakan hari ini ketika aku masih menjadi penghuni dunia, karena aku tau kelak saat aku meninggalkan dunia pun akhirnya aku akan dilupakan. Jika kalian rindu aku, sila intip tulisan-tulisan aneh di blog ini dan jangan lupa lisankan doa terindah untuk ku kawan. :)
Membuat Jejak
Facebook adalah jejaring sosial pertama yang saya miliki. Lalu susul menyusul banyak sekali jejaring sosial lain bermunculan. Tidak banyak yang saya ikuti karena saya bukan tipe orang yang suka menjadikan akun medsos sebagai diari pribadi. Lebih kepada fungsi untuk mendapat informasi, ceritanya biar ga ketinggalan jaman kayak si doel yang anak betawi itu. Justru buat saya punya akun fb saja saya ngerasa kewalahan mengikuti info dan berita yang terus berubah tiap detiknya, apalagi harus punya akun di jejaring sosial lain, cape deh kalo harus buka semua akun.
Dan akhirnya sekitar beberapa bulan lalu saya memutuskan membuat akun di instagram. Sampai hari ini pun saya tidak begitu tertarik menekuni nya, karena awal membuat akun pun atas dasar provokasi segelintir orang untuk tujuan yang sifatnya bukan kepentingan pribadi. Awal punya akun ga banyak foto yang saya post. Sampe akhirnya saya tau akun ig ini harus diapain supaya ga sia-sia.
Karena saya ga suka post foto pribadi di jejaring sosial, jadi bingung kan apa yang mau di post di ig. Akhirnya saya poto-poto geje alam sekitar terus saya post plus caption yang isinya ingin menebar inspirasi kepada orang lain. Saya ingin setelah orang baca tulisan saya, mereka lebih ingat Allah dan hari akhir.
Dan yang menjadi tujuan saya menulis adalah karena saya ingin membuat jejak. Kita ketahui bersama hidup ini sementara, hidup ini hanya senda gurau, hidup ini ada ujungnya. Kita semua ini kan camat alias calon mati/mayat. Dan saya ingin ketika orang-orang mendengar kabar kematian saya, mereka mungkin akan kepo tentang kehidupan saya dan biasanya yang jadi sasaran adalah akun medsos. Terlebih lagi sebetulnya sasaran saya ini bukanlah orang lain yang ga ada hubungannya dengan saya, justru saya ingin ketika mungkin saya pergi mendahului suami dan anak, mereka mengingat dan mengenang saya melalui tulisan-tulisan saya ini, yang mungkin tidak sempat saya bahas atau ceritakan kepada mereka. Inginnya sih ninggalin jejak sebuah karya semisal buku, tapi agaknya untuk saat ini itu masih sebatas cita-cita, maka saya tuangkan dulu apa yang melompat teu daek cicing dari pikiran saya lewat tulisan di blog, ig ataupun fb (jarang banget kalau di fb mah).
Maka apa yang saya tulis di blog dan akun medsos lainnya itulah yang saya ingin orang ketahui dan kenang tentang saya. Entah sampai kapan saya akan membuat jejak ini. Tapi saya harap semua ini sekaligus menjadi ilmu yang bermanfaat, menjadi amal jariyah, menjadi pahala yang terus mengalir kepada saya walaupun saya sudah masuk ke dalam liang lahat. Maka yang harus saya tulis tentu saja harus bersifat berbagi ilmu dan nasihat, semoga memang begitu. Semoga blog ini bukan hanya sekedar tong sampah tempat saya nulis ngacapruk ga puguh. Dan jika kalian memang suka intip blog ini, maka doakan lah saya agar di alam sesudah alam dunia, saya hidup dalam kebahagiaan yang abadi yakni masuk syurga plus bertemu sang Pencipta, aamiin.
Jumat, Agustus 05, 2016
Ajal dan aku bukanlah seorang artis
Kematian. Sungguh ia sangat dekat.
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْت
“Setiap jiwa pasti akan merasakan mati,” (QS. Ali Imran: 185).
Setiap yang berjiwa pasti akan mati. Kita ini, dan anda yang lagi asik buka blog saya ini adalah makhluk-makhluk bernyawa bukan? Maka sudahkah kita sadar bahwa nyawa ini akan meninggalkan raga, atau kita masih berkata, "apaan sih, baru juga masuk SMA, baru juga lulus SMA, ngapain mikirin mati?". Oke, whatever your thought. Postingan kali ini yang menjadi fokus adalah saya, bukan anda. Saya hanya sedang menakar diri, seberapa saya ingat dan siap jika ajal sudah rindu untuk bertegur sapa. Menaati titah Tuhan Nya untuk mencabut nyawa manusia, tentu subjek pencabut nyawa di sini adalah malaikat izrail.
Berpikir, jika sudah masuk ke dalam lubang kecil itu apa yang akan saya rasakan? Apa yang akan disesali? Apa yang sangat diinginkan? Jawaban saya kali ini adalah waktu dan kesempatan untuk beramal sholih, iya amal sholih bukan hanya sekedar berbuat baik.
Lalu alur pikiran ini meloncat kepada pertanyaan apa yang saya tinggalkan? Apakah orang tua, suami, anak? Kemudian, apa yang orang lain akan ingat tentang saya? Jujur saja, saya tak begitu ingin diingat manusia ketika saya wafat, karena itu tak menambah apa pun di alam barzah. Seperti gajah mati meninggalkan gading, jika pun akhirnya ada yang mengingat saya, apakah yang mereka ingat tentang saya? Tapi, saya tak ingin orang lain mengingat saya karena wajah saya, merk baju apa yang saya kenakan, bagaimana model baju harian saya, apa saja yang saya lakukan di setiap bulan, minggu, hari, bahkan jam. Bukan pula karena banyaknya tempat yang saya kunjungi, menggugahnya menu sarapan saya hari ini, bukan karena megahnya tempat tinggal, bukan karena mahalnya kendaraan, bukan karena mewahnya resepsi pernikahan. Bukan pula karena tampannya pasangan hidup, cantik dan gantengnya para pewaris nama, bukan juga karena berjejernya gelar dan tingginya jabatan serta kedudukan.
Kenapa? Karena saya bukan seorang artis, saya hanya seorang hamba biasa. Yang saya ingin adalah orang lain mengingat saya karena nasihat dan ilmu yang bermanfaat. Tujuan tulisan ini dibuat pun karena ingin menebar manfaat. Lalu jika suatu hari nanti saya sudah tak jadi penghuni dunia lagi, semoga anda mendoakan kebaikan untuk saya. Semoga di akhirat, saya beserta kelurga saya ditempatkan di syurga firdaus bersama para Rasul, Nabi, shohabat dan para syuhada, tak lupa doakan pula saya bisa menatap wajah Allah di sana. Aamiin.
أَيْنَمَا تَكُونُوا يُدْرِكُكُمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنْتُمْ فِي بُرُوجٍ مُشَيَّدَةٍ
“Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh.” (QS. An Nisa’: 78).
قُلْ إِنَّ الْمَوْتَ الَّذِي تَفِرُّونَ مِنْهُ فَإِنَّهُ مُلَاقِيكُمْ ثُمَّ تُرَدُّونَ إِلَى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ
“Katakanlah: “Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. Jumu’ah: 8).
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۖ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ
Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan. (QS. Ali Imran: 185)
Langganan:
Postingan (Atom)
Aksi Mujahid 212: Saatnya Ulama dan Umat Bersatu Terapkan Syariah Kaffah
Beberapa waktu lalu, tepatnya pada Sabtu (28/9/19), telah berlangsung Aksi Mujahid 212 Selamatkan NKRI di Jakarta. Aksi yang diselenggarakan...
-
Ini tentang suatu hal yang remeh temeh, bukan suatu hal yang besar. Tetapi sangat penting, mungkin untuk yang menyadari. Seharga oksi...
-
Tulisan kali ini adalah sesi curhat. Karena si insom lagi mampir, jadilah pikiran di otak meloncat-loncat ramai, ngetuk-ngetuk minta keluar...
-
Terkadang rumusnya itu begini: jika kita terlampau menginginkan sesuatu, Allah malah tidak mengabulkan keinginan kita. Bisa jadi, itu karen...