Selasa, Januari 05, 2016

Ummu Nusaibah

Hhmm.. entah apa yang terjadi.. tiba-tiba saja tangan ini tergerak untuk membuka blog lama yang belum usang lalu bernostalgia membaca judul-judul tulisan dan klik, membaca satu tulisan saja. Mungkin ini qadla Allah, ketika si "tukang rem" sedang melakukan sebuah aktivitas dan nusaibah ku asyik bermain dalam mimpinya, ada dorongan untuk membuka blog, membaca tulisan lama dan finally nulis lagi (yeeaayyy).. tak terpikir sedetik lalu kalau akhirnya malam ini menjadi malam pertama menulis lagi, hanya bedanya dulu ngetik di notebook sekarang ngetik di smartphone. Bersyukur teknologi terus berkembang memudahkan hidup manusia, seharusnya ini memacu semangat manusia untuk terus berkarya lebih produktif lagi. Bukan malah jadi orang-orang pemalas. Maksud saya berkarya adalah manusia pada jaman ini lebih mudah untuk membaca apa pun dan dimana pun. Lebih mudah terinspirasi harusnya, yang pada akhirnya lebih mudah dan lebih banyak berkarya. Tapi yang kita lihat ada beberapa manusia yang dengan kecanggihan teknologi ini menjadi makhluk malas minim karya. Hanya nonton video yang tak jelas tak ada faedahnya ataupun nge-game sepanjang hari. 

Anyway, saya tidak akan membahas mendalam tentang apa pun. Saya hanya sekedar ingin memulai apa yang dahulu pernah saya mulai. Dengan status dan job yang berbeda dari saya di tulisan-tulisan sebelum nya. Agak sedikit alay, ini tulisan pertama saya semenjak saya sudah menyempurnakan dien a.k.a jadi istri si "tukang rem" dan jadi ibu bagi nusaibah kecil ku. Semoga hari-hari berikutnya saya bisa menulis pikiran, keresahan, pengalaman lagi di blog ini. Dan kalian dapat mengambil pelajaran, semoga.. :D

Sabtu, Mei 31, 2014

ISLAM: SOLUSI TUNTAS PEDOFILIA



Beberapa kasus pedofilia akhir-akhir ini menjadi trending topic di berbagai kalangan masyarakat. Berbagai lapisan masyarakat kompak angkat bicara mengenai kasus memilukan ini, mulai dari rakyat biasa, artis, para aktivis, pejabat hingga presiden pun ikut mengomentari kasus pedofilia ini. Kekompakkan ini muncul akibat dari perasaan yang sama, yakni geram terhadap para pelaku pedofilia (predator anak). Hingga muncullah tagline ‘Indonesia Darurat Pedofilia’. Nampaknya tagline ini tidak berlebihan dikarenakan banyaknya kasus yang bersusulan muncul.    
Kasus JIS (Jakarta International School) merupakan kasus yang menghentak publik di tahun 2014 ini. Lalu disusul munculnya kasus-kasus lain di beberapa daerah.  Seperti di Medan, kasus serupa menimpa 11 pelajar, pelakunya adalah guru yang merupakan warga negara Singapura. Juga di Tenggarong, Kalimantan Timur, seorang guru melakukan sodomi kepada muridnya. Di tahun 2010 lalu ada kasus kekerasan seksual yang menggegerkan, yang dilakukan oleh Baikuni alias Babe terhadap 14 anak jalanan, bahkan Babe membunuh dan memutilasi anak-anak tersebut. Yang terbaru dan tidak kalah mencengangkan adalah kasus di Sukabumi yang dilakukan oleh Andri Sobari alias Emon (24 tahun). Lebih dari 110 anak menjadi korban kebejatan Emon ini. Dan masih banyak lagi kasus serupa. Memang kasus pedofilia ini bak fenomena gunung es, yang terlihat di permukaan hanyalah sebagian kecilnya saja, yang tidak terungkap jauh lebih banyak lagi.
            Masyarakat bertambah geram karena hukuman yang diberikan kepada predator anak ini adalah hukuman penjara makimal 15 tahun. Hal ini tak sebanding dengan dampak yang akan ditanggung oleh anak sebagai korban. Pelecehan seksual terhadap anak dapat mengakibatkan dampak negatif jangka pendek dan panjang, termasuk dampak psikologis di kemudian hari. Dampak psikologis, emosional, fisik dan sosialnya meliputi depresi, gangguan stress pasca trauma, kegelisahan, gangguan makan, rasa rendah diri yang buruk, kekacauan kepribadian. Juga menyebabkan terjadinya gangguan psikologis, gangguan syaraf, sakit kronis, perubahan perilaku seksual, masalah sekolah/belajar dan masalah perilaku termasuk penyalahgunaan obat terlarang, perilaku menyakiti diri sendiri, kriminalitas ketika dewasa bahkan bunuh diri.
            Juga ada dampak mengerikan lainnya yaitu siklus pedofilia, abused-abused cycle. Ihsan Gumilar, peneliti dan dosen Psikologi Pengambilan Keputusan menjelaskan, yaitu  berawal dari korban (abused) pelecehan semasa kecil, lalu tumbuh dewasa jadi orang yang memakan korban (abuser). Orang yang jadi korban pelecehan seksual saat kecil, saat dewasa akan berpikir melampiaskan seks dapat dilakukan pada anak kecil. Itulah yang terjadi pada ZA salah satu tersangka pelaku sodomi di JIS yang pada usia 14 tahun disodomi oleh William James Vahey, seorang pedofil buronan FBI yang pernah mengajar di JIS selama 10 tahun. Itulah siklus pedofil menghasilkan pedofil baru. (lihat, tribunnews.com, 28/4/2014)
            Ada beberapa hal yang menjadi faktor penyebab maraknya kasus pedofilia ini, yang paling utama adalah derasnya ide kebebasan atau liberalime yang lahir dari barat masuk ke Indonesia ini. Dengan mengatasnamakan kebebasan seolah-olah manusia legal untuk bertingkah laku sekehendaknya sendiri. Penerapan sistem demokrasi di Indonesia pun menyambut baik kehadiran ide kebebasan ini, jadilah marak dan subur perilaku-perilaku yang menyimpang ini. Ditambah dengan sekulerisme yang menjadi ciri khas sistem demokrasi, menjadikan masyarakat hidup tanpa terikat dengan nilai-nilai agama (Islam). Masyarakat memandang bahwa agama harus dipisahkan dari kehidupan umum. Maka nilai moral dan akhlak di kalangan masyarakat pun tercerabut hingga ke akar-akarnya.
            Faktor berikutnya adalah lalainya lingkungan keluarga terhadap penanaman aqidah dan pemahaman Islam pada anak, khususnya pendidikan seks dalam Islam terhadap anak sehingga memudahkan pelaku untuk melakukan perbuatan bejatnya Kerapkali ini terjadi akibat kesibukan orang tua untuk bekerja. Lalu Lingkungan masyarakat yang permisif dan tak acuh, membuat pelaku kejahatan bebas melakukan aksinya.  Ide permisif ini membuat masyarakat menjadi biasa bahkan tidak merasa aneh lagi ketika melihat penyimpangan-penyimpangan yang terjadi di sekitarnya. Misalnya saja, ketika anak SD zaman sekarang sudah berpacaran, orang tua dan lingkungan masyarakat merasa biasa saja, padahal pacaran lah yang menjadi gerbang perzinaan. Adapun untuk kasus pedofilia ini, misalnya ketika masyarakat tak acuh terhadap anak-anak yang dipakaikan busana minim. Maka ini membuat para predator semakin tertarik untuk menyakiti anak-anak. Seharusnya walaupun anak belum baligh, belum diwajibkan untuk menutup auratnya, seharusnya orang tua dan lingkungan masyarakat membiasakan anak untuk menutup auratnya, minimal berpakaian yang sopan.
            Selanjutnya adalah negara yang abai terhadap masalah kekerasan anak. Pembahasan peran negara umumnya hanya sebatas sebagai pemberi sanksi. Sanksi kejahatan seksual terhadap anak yang hanya maksimal 15 tahun penjara dianggap terlalu ringan. Kalau kita mau menelaah secara mendalam, sebenarnya negara lah yang semestinya menempati posisi sebagai pihak yang paling bertanggung jawab atas terjadinya kasus kekerasan seksual pada anak. Mengapa demikian?Pada dasarnya, penyebab munculnya kekerasan seksual pada anak ini adalah penyebab yang bersifat sistemik, seperti yang telah disebutkan sebelumnya, yakni akibat dari penerapan sistem sekulerisme, liberalisme dan demokrasi yang merupakan anak-anak dari kapitalisme. Kebebasan yang kebablasan dari cara hidup liberal telah menghalalkan berbagai sarana pemuasan nafsu, tanpa memandang lagi akibat yang ditimbulkan. Negara membiarkan masyarakat berhadapan dengan serbuan pornografi dari berbagai media massa, terutama internet. Alasannya negara tidak mampu mengontrol semua situs yang beredar.
Islam adalah satu-satunya agama yang memiliki mekanisme untuk mencegah dan mengatasi masalah kekerasan seksual terhadap anak. Secara sistem, penerapan Islam secara sempurna akan menjamin penghapusan tindak kekerasan terhadap anak. Islam adalah satu-satunya agama yang tidak hanya mengatur ritual atau aspek ruhiyah. Islam juga merupakan aqidah siyasi, yaitu aqidah yang memancarkan seperangkat aturan untuk mengatur kehidupan di setiap aspeknya.Penerapan aturan Islam ini dibebankan kepada negara. Rasulullah saw. bersabda terkait dengan tanggung jawab pemimpin negara: “Sesungguhnya imam itu laksana perisai, tempat orang-orang berperang di belakangnya dan berlindung kepadanya.” (HR Muslim). Dalam hadits lainnya, “Imam adalah pengurus dan ia akan diminta pertanggungjawaban terhadap rakyat yang diurusnya.” (HR Muslim dan Ahmad).
Secara rinci, tanggung jawab negara dalam melindungi anak-anak dari kekerasan seksual adalah sebagai berikut :
1.      Dalam masalah ekonomi, Islam mewajibkan negara menyediakan lapangan kerja yang luas agar para kepala keluarga dapat bekerja dan memberikan nafkah untuk keluarganya. Semua sumberdaya alam strategis adalah milik umat yang dikelola negara. Negara berkewajiban mendistribusikan seluruh hasil kekayaan negara untuk kesejahteraan warganegara, baik untuk mencukupi kebutuhan pokok, kesehatan, maupun pendidikan. Dengan jaminan seperti ini, para ibu tidak perlu bekerja sehingga bisa berkonsentrasi menjalankan tugas utamanya mendidik, memantau dan menjaga anak-anaknya.
2.      Negara wajib menjaga suasana taqwa terus hidup di tengah masyarakat. Negara membina warganegara sehingga mereka menjadi manusia yang bertaqwa dan memahami hukum-hukum agama. Pembinaan dilakukan baik di sekolah, di masjid, dan di lingkungan perumahan.
3.      Negara mengatur mekanisme peredaran informasi di tengah masyarakat. Media massa di dalam negeri bebas menyebarkan berita. Tetapi mereka terikat dengan kewajiban untuk memberikan pendidikan bagi umat, menjaga aqidah dan kemuliaan akhlak serta menyebarkan kebaikan di tengah masyarakat. Bila ada yang melanggar ketentuan ini, negara akan menjatuhkan sanksi kepada penanggung jawab media.
4.      Negara mengatur kurikulum sekolah yang bertujuan membentuk kepribadian Islam bagi para siswa. Kurikulum ini berlaku untuk seluruh sekolah yang ada di dalam negara, termasuk sekolah swasta.
5.      Negara membuat aturan pergaulan antara laki-laki dan perempuan di masyarakat berdasarkan hukum-hukum syara’.Laki-laki dan perempuan diperintahkan untuk menutup aurat, menahan pandangan, menjauhi ikhtilat (interaksi laki-laki dan perempuan) yang diharamkan, dan seterusnya. Dengan metode ini, aurat tidak dipertontonkan dan seks tidak diumbar sembarangan. Terbiasanya orang melihat aurat perempuan dan melakukan seks bebas, akan membuat sebagian orang kehilangan hasrat seksnya dan mereka membutuhkan sesuatu yang lain untuk membangkitkannya. Muncullah kemudian penyimpangan seksual seperti pedofilia, homo dan lesbi. Inilah yang dihindarkan dengan penerapan aturan pergaulan sosial dalam Islam.
  1. Negara menjatuhkan hukuman tegas terhadap para penganiaya dan pelaku kekerasan seksual terhadap anak. Pemerkosa dicambuk 100 kali bila belum menikah, dan dirajam bila sudah menikah. Penyodomi dibunuh. Termasuk juga melukai kemaluan anak kecil dengan persetubuhan dikenai denda 1/3 dari 100 ekor unta, atau sekitar 750 juta rupiah, selain hukuman zina (Abdurrahman Al Maliki, 1990, hal 214-238). Dengan hukuman seperti ini, orang-orang yang akan melakukan kekerasan seksual terhadap anak akan berpikir beribu kali sebelum melakukan tindakan.
  2. Anak-anak yang menjadi korban sodomi akan direhabilitasi dan ditangani secara khusus untuk menghilangkan trauma dan menjauhkan mereka dari kemungkinan menjadi pelaku pedofilia baru nantinya.
  3. Negara mencegah masuknya isme dan budaya yang bertentangan dengan Islam atau membahayakan kehidupan masyarakat seperti liberalism, sekulerisme, homoseksualisme dan sejenisnya dari saluran mana pun. Media massa, buku, bahkan orang asing yang masuk sebagai turis atau pedagang dilarang membawa atau meyebarkan hal tersebut. Bila mereka melanggar, dikenakan sanksi berdasarkan hukum Islam.
Dan yang mampu menjalankan fungsi dan tanggung jawab seperti di atas, tidak lain hanyalah negara yang menerapkan sistem Islam secara utuh, yakni Daulah Khilafah Islamiyyah. Mari bersama-sama saling bahu membahu menegakkan Islam dalam naungan Khilafah Islamiyyah melalui metode yang telah Rasulullaah SAW contohkan. Sehingga anak-anak kita bisa terlindung, aman dunia dan akhirat.

Jumat, November 15, 2013

Ketika Ayah Harus Melepasmu, wahai Putri Kecil Ayah....


Apa kabarmu disana nak?

Di kota yang berjarak dua jam perjalanan dari sini, apa kau masih mengingat orang tua renta ini? Yang setiap saat tak henti mendoakan segala yang terbaik untukmu.
Ah.. ayah ingat ketika siang itu, sebelum berangkat kekota, dengan wajah malu-malu kau bercerita tentang niat seorang laki-laki untuk meminangmu. Kau tahu nak, sudah lama ayah bersiap untuk menanti kabar ini, kabar tentang seorang yang akan membawamu pergi jauh dari ayah. Kabar tentang laki-laki yang meminta pengalihan tanggung jawab dari ayah.. sungguh sudah lama ayah mempersiapkan diri. Tapi tetap saja siang itu ayah terkejut, meski mungkin tidak begitu terlihat diwajah ayah.

Siapa dia nak? Siapa laki-laki yang berani memintamu dari ayah? Bawa dia kesini.. biar ayah lihat dulu, seberapa mampu dia meyakinkan ayah bahwa dia akan memperlakukan dan menjagamu tidak kurang dari ayah. Bawa dia kesini nak.. biar ayah nilai dulu, seberapa tulus dia menyayangi dan membimbingmu tidak kurang dari ayah. Ayo bawa dia kesini.. biar ayah pertimbangkan dulu, seberapa baik agamanya, seberapa besar tanggung jawabnya, dan seberapa sabar dia menghadapi putri kecil ayah.

Nak, ayah tahu siang itu akan datang, siang yang mengharuskan ayah untuk menyadari bahwa putri kecil ayah akan segera menggenapkan setengah agamanya, dengan bakti pada dia yang belum ayah kenali. Padahal dimata ayah, kamu masih gadis kecil yang beberapa waktu lalu merengek minta dibelikan benang untuk layangan, sebab teman-teman seusiamu yang rata-rata laki-laki sudah punya benang yang panjang untuk layangan mereka. Rasanya kamu masih gadis kecil ayah yang mengadu dengan mata berkaca-kaca bahwa benang layangannya telah kusut, yang terkantuk-kantuk menunggui ayah memperbaikinya agar bisa bermain lagi esok paginya. Yang dulu melempar sepatunya kelaut sebagai alasan meminta ayah mengizinkanmu bermain air. Yang dulu membongkar tas ayah, mencari receh untuk celengan ayammu diatas lemari.

Dan kemarin, ketika dengan izin ayah, kau pergi berkenalan dengan keluarga besarnya. Kembali ayah harus segera menyadari bahwa binar yang kau bawa pulang itu tidak biasa, binar yang belum pernah ayah lihat ketika dengan antusias kau bercerita. Sebenarnya nak, ayah cemburu. ayah mencemburui dia yang tiba-tiba datang tapi sudah mampu menghadirkan getar-getar rasa yang terlihat dirona wajahmu. Tapi percayalah nak,, kecemburuan itu segera ayah tepis, ayah usir dengan keyakinan bahwa posisi ayah dan posisinya itu tidak disatu tempat. Bahwa warna cinta untuk ayah tidak sama dengan warna cinta untuknya. Ayah tidak salah, bukan?

Sedikit pesan ayah.. setelah nanti kau ayah serahkan dengan disaksikan oleh para malaikat. Jadilah pendamping yang patuh nak, yang  senantiasa bersyukur dan berterimakasih, yang menjaga diri dan hartanya, yang tidak mudah menuduh dan menyakiti hatinya, yang menyimpan rahasia dan menutupi aibnya. sebab tidak mudah untuk menjadi seorang suami, tidak mudah untuk menjadi orang yang bertanggung jawab penuh terhadap orang lain, yang harus menjaga dirinya dan ahlinya dari api neraka. Jadi sekali lagi nak.. jangan bebani dia, tapi bantulah dia sesuai peran yang kau punya.





# Ini tulisan bajakan dari http://www.eramuslim.com/akhwat/muslimah/siapa-laki-laki-itu-nak.htm#.UoVOc1NBR7A . Bacanya bikin air mata pengen keluar melihat dunia.. Jleb banget, mungkin inilah sudut pandang sang ayah ketika harus melepas anak perempuannya. Entahlah saya harus ngetik apalagi. Yaa, begitulah seperti yang anda rasakan ketika membaca tulisan ini. Menikah bukanlah hal yang main-main, karena pertanggungjawaban atas diri kita berpindah dan kita bertambah tanggungjawab. Bukan seberapa ingin, tapi seberapa siap untuk menanggung kehidupan yang baru ini, manis dan pahitnya. Maka niatkan melangkah karena ibadah supaya tidak sia-sia dan punya tujuan.


*
Siapa dia nak? Siapa laki-laki yang berani memintamu dari ayah? Bawa dia kesini.. biar ayah lihat dulu, seberapa mampu dia meyakinkan ayah bahwa dia akan memperlakukan dan menjagamu tidak kurang dari ayah. Bawa dia kesini nak.. biar ayah nilai dulu, seberapa tulus dia menyayangi dan membimbingmu tidak kurang dari ayah. Ayo bawa dia kesini.. biar ayah pertimbangkan dulu, seberapa baik agamanya, seberapa besar tanggung jawabnya, dan seberapa sabar dia menghadapi putri kecil ayah.

Kamis, Oktober 24, 2013

Wahai Tukang Rem...

Hmm, mungkin ini akan menjadi tulisan tergeje yang saya post di blog ini. Tapi, karena masih kemungkinan, jadi bisa saja esok akan ada tulisan yang lebih geje dari ini.. :D

Tukang rem...
Entahlah, mengapa saya menamakan itu. Bukan, ini bukan cerita orang yang naik motor atau mobil di jalan terus dia suka ngerem, sampai akhirnya mengahalangi jalannya pengendara lain. Bukan itu yang saya maksud.

Tukang rem adalah orang di sekitar anda yang menjadi "pengerem" tingkah laku anda. Dengan apa dia mengerem? Dengan Amar ma'ruf, nahi munkar, tentu saja. Sangat menyenangkan bila kita punya seorang tukang rem kepercayaan. Yang menahan ketika kita kelepasan, yang menjaga kita ketika kita akan  menabrak. Mereka lah yang nyatanya menjaga kita dari berbuat munkar. Dia yang setia mengingatkan kita. walau kadang kita kaget ketika dia ngerem, tapi tak bisa dipungkiri kita bahagia di "rem" olehnya. Bukankah mengingatkan adalah tanda sayang? Dan bukankah dakwah adalah sebaik-baik ucapan?

Bersyuskurlah jika kau punya satu atau bahkan lebih. Maka jika kau belum punya, temukanlah ia! Bisa jadi dia adalah seorang teman, sahabat, kaka, adik, orang tua, guru atau teman hidup mu. :)



Rabu, September 18, 2013

Ikhlas kah?



Ikhlas. Hmm, sebetulnya ini hanya gabungan huruf-huruf saja tak ada yang spesial bukan, karena nggak pake telor.. lho????!! :P

Sebetulnya saya ragu untuk membuat tulisan dengan judul ini. Iya, kayaknya berat banget ya buat bahasnya juga. Dan pasti riskan salah.. heu

Tapi entahlah saya tetap ingin menulis, dan seperti harapan-harapan saya di tulisan sebelumnya, semoga ada manfaat walaupun hanya seberat zarrah.. :)

Menurut saya, ini adalah hal yang diharuskan namun kita tak pernah tau kita benar melakukannya atau tidak. Coba saja anda pikir, apakah ada alat ataupun indikator pengukur keikhlasan? Jangankan secara kuantitatif secara kualitatif pun tak ada yang dapat mengukurnya. Maksud saya, jangankan mengukur berapa persen ke-ikhlas-an kita dalam beribadah, untuk mencari tau saja ada atau tidak keikhlasan itu, kita tak akan pernah bisa.. padahal justru inilah salah satu dari dua syarat diterimanya amal. Artinya ini memang perkara yang penting bukan?

Tapi mungkin andaikan ikhlas dapat diukur, bisa jadi ketika kita memulai suatu amal lalu kita tau di awal kita mengerjakannya tidak ikhlas, secara otomatis kita akan berhenti melakukan amal tersebut karena kita akan merasa sia-sia. Untung saja Allah merahasiakannya dari kita, untuk apa? Mungkin agar kita terus berusaha karena tidak tau apakah diterima atau tidak, maka kita akan lebih maksimal dan terus berbenah.. mungkin……..

Ikhlas sering didefinisikan oleh para ulama dengan: beramal semata-mata karena Allah. Jadi ketika kita ikhlas dalam beramal, yakni beramal semata-mata karena Allah, berarti kita harus benar-benar menunjukkan bahwa amal kita semata-mata hanya dipersembahkan untuk-Nya, bukan untuk selain-Nya. Pertanyaannya: Apakah sesuatu yang dipersembahkan hanya untuk Allah itu cukup yang biasa-biasa saja, minimalis dan terkesan asal-asalan? Apakah sesuatu yang dipersembahkan khusus untuk Allah itu harus yang berkualitas, istimewa dan optimal? 

Ketika seseorang mempersembahkan sesuatu hanya khusus bagi orang yang dicintainya, ia tentu akan mempersembahkan yang terbaik dan istimewa untuknya; bukan yang biasa-biasa saja, apalagi yang berkualitas buruk. Demikian pula seseorang yang ikhlas, yang mempersembahkan amalnya hanya untuk Allah, Penciptanya; ia hanya akan mempersembahkan amalan terbaik dan istimewa untuk-Nya. Walhasil, ikhlas sesungguhnya harus berbuah ihsan yakni amalan terbaik sesuai dengan yang Allah kehendaki. 

Meski pun di awal tadi saya sudah sebutkan bahwa keikhlasan itu pure hanya Allah yang tau, tapi kita sebagai hamba dapat melihat tanda-tanda bahwa kita tidak ikhlas. Sekali lagi, ini tanda-tanda tidak ikhlas, bilapun kita sudah merasa tidak mengalami tanda-tanda di bawah ini, tetap saja ikhlas atau tidaknya amal kita, hanya Allah saja yang tau. Ini hanya bahan evaluasi untuk diri kita masing-masing. 


Ciri kurang/tidak ikhlas: mengerjakan amal di waktu sisa, bermalas-malasan dalam mengerjakan amal tsb, berusaha mencari dalih/alasan agar tidak usah mengerjakan amal tsb, terkesan tidak sungguh-sungguh (asal-asalan) dalam mengerjakan aktivitas tsb (tidak optimal), mudah putus asa (bahkan gugur/menyerah) ketika menghadapi rintangan dalam mengerjakan amal tsb. 

Silakan, anda pikirkan baik-baik kelima hal di atas. Anda cerminkan kepada ibadah-ibadah yang anda lakukan, entah itu sholat wajib, sholat sunnah, shaum sunnah ataupun dakwah!

Dan adakalanya mungkin kita terjebak dalam pemikiran bahwa yang berpahala besar itu apabila yang kita lakukan pun adalah sebuah amal yang besar. Contoh simpel, terkadang kita berpikir akan lebih besar pahalnya jika kita berinfaq uang sebesar 100 ribu rupiah dibanding dengan 5 ribu rupiah, betul tidak? Ataupun contoh lainnya, kita akan berpikir dalam dakwah, pahala yang besar itu hanya untuk orang-orang yang berbicara di depan forum. Tapi kalo cuman sekedar ngajak ngaji mah itu pahalanya sedikit. Hemm, kata siapa? Iya, memang itu kata saya, kan saya yang nulis barusan. Ya, memang terkadang ada pemikiran seperti itu. Padahal ingat diterimanya sebuah amal adalah tergantung dari keikhlasan dan kesesuaian amal tsb dengan apa yang telah ditetapkan oleh Allah (hukum Syara'). Janganlah kita berpikir demikian, karena jika demikian maka kita akan menjadi orang yang pemilih dalam beramal. Hanya akan beramal apabila pahalanya pi-gede-eun padahal nggak ada bahasa kaya gitu. Hanya mau dakwah kalo depan forum hanya mau infaq kalo lagi ada duit gede. Padahal kesempatan mengisi sebuah forum itu tidak selalu datang bukan? Dan bukankah ada kalanya kita hanya punya uang recehan?

Maka, beramallah walau itu hanya sekedar mengantarkan barang, atau mengantar teman yang ingin mengkaji Islam, atau meminjamkan uang, atau berinfaq 1 ribu rupiah, atau “hanya sekedar” tersenyum kepada temanmu. Karena bisa jadi yang ikhlas kita kerjakan adalah hal-hal yang dianggap oleh orang sebagai remeh temeh bukan yang bergengsi. Akan lebih mudah bukan menjaga keikhlasan apabila kita mengerjakan amal tanpa dilihat orang lain? Maka tak perlu merasa rendah jika mendapat amanah yang ringan dan tak perlu merasa bangga bila mendapat amanah yang besar. Ingat penilaian Allah lah yang seharusnya kita khawatirkan. Bukan, bukan pandangan manusia yang tak sedikitpun mampu memberi pahala kepada kita. Yang menghisab itu Allah, bukan manusia. Dan kata seorang guru, ikhlas itu bila dipuji tidak bertambah amalnya dan bila dicela tak berkurang amalnya. Jelas, karena yang kita perhatikan bukan lisan manusia, tapi ridho Allah. Dan apabila di awal kita merasa yang diharap itu bukan ridho Allah, ketika kita sadari hal itu maka tidak seharusnya pula kita berhenti beramal. Karena itu sama saja beramal bukan karena Allah alias nggak ikhlas. Maka lanjutkan saja amalnya. Terus tempa diri kita supaya kita bisa ikhlas menjalani aktivitas tersebut. Jangan berhenti, lanjutkan saja, karena bisa jadi ketika kita khawatir tidak ikhlas dan kita terus berusaha memaksimalkan dan mengikhlaskan, itulah yang Allah nilai…..

Jadi, teruslah bergerak. Bukan untuk dilihat ataupun didengar, tapi untuk ditimbang, sebagai bukti bahwa kita beriman dan bertaqwa kepada-Nya. Bukankah taat itu harus dibuktikan?



Referensi: Hikmah-hikmah Bertutur untuk Jiwa yang Mudah Futur. (Arief B. Iskandar)

Aksi Mujahid 212: Saatnya Ulama dan Umat Bersatu Terapkan Syariah Kaffah

Beberapa waktu lalu, tepatnya pada Sabtu (28/9/19), telah berlangsung Aksi Mujahid 212 Selamatkan NKRI di Jakarta. Aksi yang diselenggarakan...