Rabu, September 18, 2013

Ikhlas kah?



Ikhlas. Hmm, sebetulnya ini hanya gabungan huruf-huruf saja tak ada yang spesial bukan, karena nggak pake telor.. lho????!! :P

Sebetulnya saya ragu untuk membuat tulisan dengan judul ini. Iya, kayaknya berat banget ya buat bahasnya juga. Dan pasti riskan salah.. heu

Tapi entahlah saya tetap ingin menulis, dan seperti harapan-harapan saya di tulisan sebelumnya, semoga ada manfaat walaupun hanya seberat zarrah.. :)

Menurut saya, ini adalah hal yang diharuskan namun kita tak pernah tau kita benar melakukannya atau tidak. Coba saja anda pikir, apakah ada alat ataupun indikator pengukur keikhlasan? Jangankan secara kuantitatif secara kualitatif pun tak ada yang dapat mengukurnya. Maksud saya, jangankan mengukur berapa persen ke-ikhlas-an kita dalam beribadah, untuk mencari tau saja ada atau tidak keikhlasan itu, kita tak akan pernah bisa.. padahal justru inilah salah satu dari dua syarat diterimanya amal. Artinya ini memang perkara yang penting bukan?

Tapi mungkin andaikan ikhlas dapat diukur, bisa jadi ketika kita memulai suatu amal lalu kita tau di awal kita mengerjakannya tidak ikhlas, secara otomatis kita akan berhenti melakukan amal tersebut karena kita akan merasa sia-sia. Untung saja Allah merahasiakannya dari kita, untuk apa? Mungkin agar kita terus berusaha karena tidak tau apakah diterima atau tidak, maka kita akan lebih maksimal dan terus berbenah.. mungkin……..

Ikhlas sering didefinisikan oleh para ulama dengan: beramal semata-mata karena Allah. Jadi ketika kita ikhlas dalam beramal, yakni beramal semata-mata karena Allah, berarti kita harus benar-benar menunjukkan bahwa amal kita semata-mata hanya dipersembahkan untuk-Nya, bukan untuk selain-Nya. Pertanyaannya: Apakah sesuatu yang dipersembahkan hanya untuk Allah itu cukup yang biasa-biasa saja, minimalis dan terkesan asal-asalan? Apakah sesuatu yang dipersembahkan khusus untuk Allah itu harus yang berkualitas, istimewa dan optimal? 

Ketika seseorang mempersembahkan sesuatu hanya khusus bagi orang yang dicintainya, ia tentu akan mempersembahkan yang terbaik dan istimewa untuknya; bukan yang biasa-biasa saja, apalagi yang berkualitas buruk. Demikian pula seseorang yang ikhlas, yang mempersembahkan amalnya hanya untuk Allah, Penciptanya; ia hanya akan mempersembahkan amalan terbaik dan istimewa untuk-Nya. Walhasil, ikhlas sesungguhnya harus berbuah ihsan yakni amalan terbaik sesuai dengan yang Allah kehendaki. 

Meski pun di awal tadi saya sudah sebutkan bahwa keikhlasan itu pure hanya Allah yang tau, tapi kita sebagai hamba dapat melihat tanda-tanda bahwa kita tidak ikhlas. Sekali lagi, ini tanda-tanda tidak ikhlas, bilapun kita sudah merasa tidak mengalami tanda-tanda di bawah ini, tetap saja ikhlas atau tidaknya amal kita, hanya Allah saja yang tau. Ini hanya bahan evaluasi untuk diri kita masing-masing. 


Ciri kurang/tidak ikhlas: mengerjakan amal di waktu sisa, bermalas-malasan dalam mengerjakan amal tsb, berusaha mencari dalih/alasan agar tidak usah mengerjakan amal tsb, terkesan tidak sungguh-sungguh (asal-asalan) dalam mengerjakan aktivitas tsb (tidak optimal), mudah putus asa (bahkan gugur/menyerah) ketika menghadapi rintangan dalam mengerjakan amal tsb. 

Silakan, anda pikirkan baik-baik kelima hal di atas. Anda cerminkan kepada ibadah-ibadah yang anda lakukan, entah itu sholat wajib, sholat sunnah, shaum sunnah ataupun dakwah!

Dan adakalanya mungkin kita terjebak dalam pemikiran bahwa yang berpahala besar itu apabila yang kita lakukan pun adalah sebuah amal yang besar. Contoh simpel, terkadang kita berpikir akan lebih besar pahalnya jika kita berinfaq uang sebesar 100 ribu rupiah dibanding dengan 5 ribu rupiah, betul tidak? Ataupun contoh lainnya, kita akan berpikir dalam dakwah, pahala yang besar itu hanya untuk orang-orang yang berbicara di depan forum. Tapi kalo cuman sekedar ngajak ngaji mah itu pahalanya sedikit. Hemm, kata siapa? Iya, memang itu kata saya, kan saya yang nulis barusan. Ya, memang terkadang ada pemikiran seperti itu. Padahal ingat diterimanya sebuah amal adalah tergantung dari keikhlasan dan kesesuaian amal tsb dengan apa yang telah ditetapkan oleh Allah (hukum Syara'). Janganlah kita berpikir demikian, karena jika demikian maka kita akan menjadi orang yang pemilih dalam beramal. Hanya akan beramal apabila pahalanya pi-gede-eun padahal nggak ada bahasa kaya gitu. Hanya mau dakwah kalo depan forum hanya mau infaq kalo lagi ada duit gede. Padahal kesempatan mengisi sebuah forum itu tidak selalu datang bukan? Dan bukankah ada kalanya kita hanya punya uang recehan?

Maka, beramallah walau itu hanya sekedar mengantarkan barang, atau mengantar teman yang ingin mengkaji Islam, atau meminjamkan uang, atau berinfaq 1 ribu rupiah, atau “hanya sekedar” tersenyum kepada temanmu. Karena bisa jadi yang ikhlas kita kerjakan adalah hal-hal yang dianggap oleh orang sebagai remeh temeh bukan yang bergengsi. Akan lebih mudah bukan menjaga keikhlasan apabila kita mengerjakan amal tanpa dilihat orang lain? Maka tak perlu merasa rendah jika mendapat amanah yang ringan dan tak perlu merasa bangga bila mendapat amanah yang besar. Ingat penilaian Allah lah yang seharusnya kita khawatirkan. Bukan, bukan pandangan manusia yang tak sedikitpun mampu memberi pahala kepada kita. Yang menghisab itu Allah, bukan manusia. Dan kata seorang guru, ikhlas itu bila dipuji tidak bertambah amalnya dan bila dicela tak berkurang amalnya. Jelas, karena yang kita perhatikan bukan lisan manusia, tapi ridho Allah. Dan apabila di awal kita merasa yang diharap itu bukan ridho Allah, ketika kita sadari hal itu maka tidak seharusnya pula kita berhenti beramal. Karena itu sama saja beramal bukan karena Allah alias nggak ikhlas. Maka lanjutkan saja amalnya. Terus tempa diri kita supaya kita bisa ikhlas menjalani aktivitas tersebut. Jangan berhenti, lanjutkan saja, karena bisa jadi ketika kita khawatir tidak ikhlas dan kita terus berusaha memaksimalkan dan mengikhlaskan, itulah yang Allah nilai…..

Jadi, teruslah bergerak. Bukan untuk dilihat ataupun didengar, tapi untuk ditimbang, sebagai bukti bahwa kita beriman dan bertaqwa kepada-Nya. Bukankah taat itu harus dibuktikan?



Referensi: Hikmah-hikmah Bertutur untuk Jiwa yang Mudah Futur. (Arief B. Iskandar)

Selasa, September 10, 2013

Dunia Terbalik



Apabila kita melihat ke sekitar, saat ini banyak hal-hal aneh terjadi. Hal-hal yang dulu dibenci sekarang disukai dan sebaliknya hal yang dulu disukai menjadi hal yang dibenci. Inilah dunia terbalik.

Entah apa yang terjadi dengan dunia. Nampaknya kacamata menilai sudah berubah. Bagaimana bisa berubah? Tentunya karena adanya pergeseran pemikiran yang mengakibatkan berubahnya standard baik dan buruk. 

Dulu ketika saya masih kecil anak-anak pergi ke luar rumah untuk mengaji itu hal yang wajar bahkan dianjurkan oleh orangtua, tetapi saat ini orangtua mengkhawatirkan anaknya apabila mereka pergi untuk mengkaji Islam. Namun mereka akan mudah memberi izin untuk anaknya jika mereka malah pergi ke mall. Ini realitas yang saya temukan sob.

Dulu imej pacaran itu masih jelek, banyak orangtua yang melarang anaknya pacaran, baik dengan alasan agama ataupun alasan pendidikan yang harus menjadi prioritas, tapi saat ini orangtua merasa was-was jika anaknya yang usia SMP atau bahkan SD belum punya pacar. #eeaa

Dulu pandangan orang kepada perempuan berbaju minim itu jelek. Tapi saat ini, hal itu dikatakan hal yang wajar dan modern alias mengikuti perkembangan zaman. Dan kebalikannya perempuan dengan menutup aurat secara sempurna itu kuno alias ketinggalan zaman katanye.

Lalu ada pula hal-hal aneh lain yang terjadi di masyarakat, sebetulnya itu adalah penilaian-penilaian yang salah. Seperti, masyarakat saat ini baik di lingkungan sekolah ataupun lingkungan rumah bisa jadi di lingkungan kerja, akan cenderung mendorong seseorang untuk bermaksiat, semisal berpacaran. Jika ada perempuan atau laki-laki belum punya pacar maka dia akan disindir sebagai penyuka sesama jenis, maho dan sejenisnya lah. Miris bukan? Ataupun jika ada seseorang yang menghindari aktivitas riba maka orang lain akan berkomentar, “Untuk zaman sekarang, bagaimana kita bisa punya rumah, mobil, motor jika tidak ikut dalam aktivitas riba?”. Ya mereka berdalih, asal ada manfaat mengapa tak kita ambil saja manfaatnya? Yang jelas sih dosanya yang kita dapet mah. -_-

Apakah sudah terbaca oleh anda bahwa saat ini orang mendorong orang lain untuk bermaksiat dan mencela kepada orang-orang yang berusaha mematuhi Syariat? Mereka tidak hanya diam apabila seseorang menjauhi larangan Allah, tetapi mereka mencela. Astagfirullah. Dan tentu sebaliknya, mereka nyinyir kepada orang-orang yang taat Syariat dan bukan hanya diam. Wahai, apa yang terjadi dengan manusia saat ini?

Begitu pula dalam menyikapi penyelanggaraan kontes kecantikan internasional yang akan diadakan di negeri ini. Tentu saja sebagai negeri dengan jumlah muslim terbesar akan banyak terjadi penolakan dari berbagai lapisan masyarakat. Mudah saja ini adalah bentuk kemaksiatan kepada Allah. Apabila sudah terang ini kemaksiatan, lalu apa lagi yang ditunggu? Apakah azab dari Allah? Naudzubillah.

Entahlah mengapa mereka acuh bahkan mendukung acara rendah ini. Dan lebih mengherankan lagi mereka pun mencela orang-orang yang menolak diselenggarakannya acara tsb. Saya tidak mengerti bagian mana dari acara ini yang merupakan aktivitas ma’rifah kepada Allah? Dari sisi non-agama pun, acara ini seharusnya ditolak, tidakkah mereka para perempuan merasa terhina dengan ajang ini? Mereka dilombakan dengan patokan fisik walaupun berbalut dengan brand kecerdasan ataupun kepribadian. Sejak kapan ajang kecerdasan pake diukur tinggi badan? Sejak kapan pula kepribadian dinilai dari lingkar pinggul? Ya, inilah bentuk perendahan bagi perempuan. Karena kemuliaan hanya ditentukan dengan batasan yang sempit, yakni fisik. Padahal dalam pandangan Islam derajat tinggi untuk seorang muslim adalah dilihat dari ketaqwaannya.

Kemudian, untuk orang-orang yang menyuarakan kabaikan, yang istiqomah menyerukan kepada yang ma’ruf, ada sebagian orang yang mencap  mereka “omdo” alias omong doang. Katanya no action talk only. Sejak kapan pula ngomong itu bukan action? Wahai, ada apa dengan dunia? Sudahlan tak perlu bahas detil masalah “ngomong” ini. Cukup kita lihat apa yang diperbuat Rasul ketika menyebarkan Islam, dan itu ngomong doang loh. Apakah berani mereka bilang Rasul omdo? :(

Apakah menurut mereka, tidak cukup dengan berbicara? Apa yang mereka maksud dengan action? Mengapa mereka memandang sebelah mata? Entahlah, bagi saya bicara itu aktivitas yang real manusia lakukan. Dan bagi saya efeknya pun jelas. Banyak perubahan yang terjadi didunia ini hanya karena “ngomong doang”. Ketika pun anda yang membaca tulisan ini seorang muslim, yakin lah Islam sampai kepada orangtua anda itu lewan lisan.
Apakah belum cukup anda teryakinkan akan pentingnya sebuah “omongan” yang notabene hanya untaian kata tak bermakna? Kalian tau menikah? Bagaimana seseorang menjadi halal untuk lawan jenisnya? Akad! Ya, janji. Dan kau tau itu pun hanyalah kata-kata. “Ngomong doang”, tapi itu dapat “menghalalkan” yang sebelumnya haram dan “mengharamkan” yang sebelumnya halal.

Semoga anda mengambil pelajaran dari sekedar tulisan saya yang tanpa action ini. Ya, blog ini hanyalah kumpulan kata-kata tanpa makna. Tapi jika memang anda mengambil manfaat dari ini, maka berhentilah berkata bahwa ini hanya “ngomong doang”! :D

Lalu apa yang terjadi dengan masyarakat yang mulai pandangannya terbolak-balik? Menurut saya itu karena perubahan standar yang mereka gunakan. Kok bisa berubah? Karena memang mereka tidak punya standar baku. Standar mereka adalah perasaan. Baik dan buruk mereka timbang berdasarkan timbangan hati mereka saja. Jika kita ingin punya standar yang sama dalam menilai dan tidak ragu dalam memutuskan mana hal yang benar dan salah ataupun yang baik dan buruk atau juga terpuji dan tercela, maka kembalikanlah penilaian tersebut kepada Syara’. Ya kepada Al-Kholiq Al-Mudabbir. Hanya Dia yang berhak menentukan batas-batasnya. Maka jika kita ingin tau mana batasannya, cari tahulah. Jangan stop baca blog amatir ini saja. Searchinglah tentang berbagai hukum dalam Islam yang belum banyak kita ketahui, kajilah Islam selama masih ada sisa umur.

Maka, di akhir saya hanya ingin mengingatkan. Kita sebagai muslim, janganlah menilai segala hal dari manfaatnya. Tapi pandanglah segala sesuatu dari kaca mata hukum Syara’, apakah hal tersebut halal atau haram. Mengapa? Karena hanya itu yang dapat menyelamatkan kita di yaumil hisab nanti. Semoga Allah berkenan mengumpulkan kita didalam Jannah-Nya. :)

Senin, September 09, 2013

Bye malas ! :)



Hii malas! Iya kamu. Sudahlah tak perlu kau bersembunyi. Iya benar, kamu Malas! Rasa yang banyak menghinggapi manusia, merayunya agar mereka tak berbuat apapun, atau melakukan aktivitas yang bukan menjadi target mereka.

Wahai, mengapa kamu selalu hadir? Pun ketika mereka sudah mulai untuk memperbaiki diri dan mencoba mengalahkanmu. Aku akui, kamu sangat lihai menghinggapi kami dan memperberat tubuh kami untuk melakukan aktivitas-aktivitas yang bermanfaat.

Pernah aku coba tuk melepaskan cengkramanmu dari tubuhku, walau sulit tetap aku coba. Pernah lepas, tapi nyatanya kamu memang bukan makhluk yang mudah putus asa. Maka, apakah harus aku belajar untuk menjadi orang yang tidak putus asa kepadamu?

Ah, sudahlah monolog aneh ini menjadi semakin gila.

Mungkin banyak manusia yang akhirnya dapat melepaskan diri darimu hanya karena mereka termotivasi oleh perkataan orang lain. Apakah dari lisan seorang guru atau untaian kata yang mengagumkan dari sang motivator kondang? Tapi aku pikir itu tak akan lama. Ya, aku pernah mengalaminya. Lalu aku mulai memikirkan kembali, apa yang dapat membuat mu pergi dan ketika kau kembali aku tetap kuat untuk menghalaumu? Ternyata jawabannya adalah Hari Penghisaban. ??? Aku serius. Dengan berpikir bahwa setiap perbuatan kita akan dipertanggungjawabkan di yaumil hisab, maka kita akan terdorong untuk berusaha maksimal. Ya artinya mengenyahkan si malas. So, sadarlah wahai teman kita akan dihisab, jangan tunda lagi amal-amal sholih itu. :)

Aksi Mujahid 212: Saatnya Ulama dan Umat Bersatu Terapkan Syariah Kaffah

Beberapa waktu lalu, tepatnya pada Sabtu (28/9/19), telah berlangsung Aksi Mujahid 212 Selamatkan NKRI di Jakarta. Aksi yang diselenggarakan...