Selasa, Desember 25, 2012

Kepribadian Islam


Belakangan muncul istilah ‘Islam KTP’ eh ada sinetronnya juga malah, dan ternyata banyak yang nonton sinetron ini. Atau beberapa taun ke belakang ada istilah ‘STMJ’ a.k.a ‘sholat terus, maksiyat jalan’. Pernah mikir ga kenapa istilah-istilah aneh beginian bisa muncul? Dulu sebelum mengkaji Islam, jujur saya tuh aneh ngedenger istilah kaya gitu. Ko bisa ya ada istilah yang kaya gini? Saya jadi bingung dan mempertanyakan apa boleh ‘STMJ’ itu? Atau memang adakah istilah ‘Islam KTP’ di dalam Islam sendiri?

Bingung lah saya hingga beruntungnya saya dipertemukan Allah dengan orang-orang yang sholiha, yang tidak pelit membagi ilmunya kepada saya. Dari sejak itulah saya mulai intensif mempelajari Islam. Menyelami setiap dahan, ranting, daun-daun hingga buah di dalam Islam, tentu sebelumnya mengkaji dari akarnya.
Kajian itu membuat saya membuka mata, hati dan telinga. Menyadari setiap kebenaran dan kesempurnaan Islam, lalu menjadikannya sebagai keyakinan yang kuat. Dan terus mencoba agar semua pemahaman itu dapat mengkristal di dalam diri saya, semoga, aamiin :)

Dari sanalah saya tau bahwa Islam bukanlah sekedar agama ritual semata, maksudnya Islam tidak hanya mengatur urusan ibadah saja. Tapi ternyata ia mengatur seluruh aspek kehidupan manusia. Dari bidang politik, ekonomi, sosial, budaya, kemanan dan pertahanan. Tentu tentang pendidikan dan kesehatan pun ada. Tentu anda yakin kan bahwa Al-Qur’an itu mencakup ilmu apa pun tanpa kecuali. Karena memang Islam mengatur kehidupan kita dari mulai bangun tidur sampai tidur lagi, dan Islam punya aturan tentang bagaimana masuk toilet hingga masuk Syurga. Betul-betul sempurna bukan? Sehinggah Islam menjadi agama yang khas, bukan sekedar agama tapi ia punya seperangkat aturan (sistem) yang mengatur kehidupan kita. Maka dari sini, Islam tidak sekedar agama tetapi Islam adalah sebuah ideologi (landasan hidup) yang darinya semua problematika hidup dapat dipecahkan. Ya simple nya kita bisa bilang kalo Islam adalah solusi dari segala problematika kehidupan.. :D

Lalu, Islam pun mempunyai beberapa karakteristik, di antaranya adalah; syamil (menyeluruh), kamil (sempurna), universal, manusiawi, aplikatif dan tetap. Sebetulnya enam karakteristik ini masih ada penjelasan terperincinya, mungkin lain kali saya akan perinci ditulisan berikutnya, atau mungkin jika anda penasaran anda bisa hubungi saya langsung untuk mendapat rinciannya, tentu jika anda seorang muslimah. :)

Nah kembali ke istilah ‘Islam KTP’, jika saya analisis (ciee, maklum emang kerjaanya analisa di laboratorium, hehe) istilah itu muncul karena memang ada sebagian orang Islam (muslim) yang tidak merepresentasikan ajaran Islam di dalam kehidupannya. Arti dari istilah ‘Islam KTP’ itu sendiri kan ketika seseorang menjadikan Islam hanya sebagai label, bukan sebagai pegangan hidupnya. Nyambung ke istilah ‘STMJ’, mungkin bisa dibilang 'STMJ' ini manifestasi dari ‘Islam KTP’. Jadi orang yang menjadikan Islam hanya sebagai label, maka dia akan ‘sholat sih masih tapi maksiyat juga ga ketinggalan’. Haduh -__-

Ini terjadi karena pemahaman mereka terhadap Islam kurang. Mereka tidak menyadari kesempurnaan Islam maka mereka pun tidak mencari bagaimana Islam lebih jauh mengatur kehidupannya. Tentu saja ini adalah kesalahan yang fatal. Kita tak akan masuk Syurga hanya dengan sholat aja sis! Bagaimana tentang hukum pembagian harta warisan, bagaimana hukum bayi tabung, bagaimana tentang pengelolaan sumber daya alam oleh negara, bagaimana Islam memandang toleransi antar umat beragama, bagaimana siroh Nabi Muhammad, dan masih banyak lagi hal-hal yang belum kita ketahui. Kita memang tak akan pernah merasa cukup dengan tau Islam ala kadarnya. Bukankah Syurga yang ingin kita masuki adalah Syurga yang sama dimasuki oleh ‘Aisyah, Fatimah bahkan Khodijah? Lalu mengapa amal dan ilmu kita sangat minimal? Apalagi jika dibandingkan para shohabiyat? Serius pengen masuk Syurga? Maka kita pun harus menyeriusi kehidupan ini. Hey, bukti keseriusan itu adalah tindakan. Saya tidak akan percaya jika anda mengatakan anda orang yang suka menolong, tetapi anda diam ketika melihat orang lain terjatuh misal ketika sedang menyebrang dijalan. Buktikanlah keseriusan mu!

Begini teman, di dalam Islam ada yang namanya Syakhshiyah (kepribadian). Syakhshiyah pada setiap manusia terbentuk oleh ‘aqliyah (pola pikir) dan nafsiyah (pola sikap). Jadi bentuk fisik, wajah, dsb bukan lah unsur pembentuk syakhshiyah ya.

‘Aqliyah (pola pikir) adalah cara yang digunakan untuk memikirkan sesuatu, singkatnya ia adalah pola pikir seseorang, dengan landasan apa ia berpikir. Sedangkan nafsiyah (pola sikap) adalah cara yang digunakan seseorang untuk memenuhi tuntutan ghorizah (naluri) dan hajat al-‘adhawiyah (kebetuhan jasmani); yakni upaya memenuhi tuntutan tersebut berdasarkan kaidah yang diimani dan diyakininya.
Syakhshiyah Islamiyah (kepribadian Islam) akan terbentuk jika ‘aqliyah dan nafsiyah nya pun Islami. Maksudnya pola pikir dan pola sikap orang tersebut berdasarkan aqidah Islam. Tetapi jika salah satunya tidak Islami maka tidak akan muncul kepribadian Islam, keduanya adalah syarat mutlak yang harus terpenuhi untuk terwujudnya kepribadian Islam.

Contoh, sesorang berfikir bahwa setiap masalah yang muncul dalam kehidupan harus diselesaikan dengan aturan Islam. Tetapi dalam kehidupan sehari-hari dia tetap memakan harta riba, itu artinya pola pikir dia sudah Islami tetapi pola sikapnya tidak Islami. Atau walaupun ia memakan makanan yang halal dan tidak memakan makanan yang harom tapi ia percaya bahwa semua agama itu benar (pluralisme) maka dia pun tidak dikatakan berkepribadian Islam.

Jadi memang ‘aqliyah dan nafsiyah ini harus klop. Jika kedua aspek ini sama-sama dibangun atas dasar aqidah Islam maka akan terpancar kepribadian yang khas, yakni kepribadian Islam. Apakah anda pernah bertemu dengan sosok seorang muslim yang dia berpikir bahwa setiap amal itu harus terikat dengan aturan Islam lalu ia mempraktekkan dalam kehidupannya. Ia tidak berpacaran walaupun orang mengejeknya, ia menghindari riba ketika orang-orang di sekelilingnya menjadikan riba sebagai solusi dalam masalah ekonomi. Jika anda pernah mengindera sosok seperti itu, itulah sedikit cerminan tentang seorang muslim yang ber-syakhshiyah Islam.

Jika setiap muslim menyadari hakikat kepribadian Islam ini maka tidak ada lagi yang namanya ‘Islam KTP’ ataupun ‘STMJ’. Dan ingat ini bukan soal pilihan, kita mau menjadi muslim yang seperti apa? Kepribadian mana yang dapat menghantarkan kita ke dalam Jannah-Nya? Jika memang tujuan hidup kita untuk mendapat ridho-Nya. Bukankah kita amat nyaman jika bertemu dengan orang-orang yang berkepribadian Islam ini? Maka jadilah kita pun seperti sosok tersebut. Jika pun hari ini belum, maka berusahalah, bersabarlah dalam berproses. Mungkin tidak dalam waktu seminggu, sebulan, sesemester kita akan berubah. Mungkin tahun depan atau dua tahun ke depan, tapi berproseslah!! Memulai setiap kebaikan dari hari ini. :)

Dan tentu seharusnya ketika kita terus meng-up grade ‘aqliyah kita, maka nafsiyah kita pun menjadi ter-up grade. Seharusnya grafik antara ‘aqliyah dan nafsiyah itu linier. Semakin anda ‘penuh’ dengan tsaqofah-tsaqofah islam maka pola sikap anda pun akan lebih baik, lebin indah, dan lebih sempurna dimata Rabb kita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Aksi Mujahid 212: Saatnya Ulama dan Umat Bersatu Terapkan Syariah Kaffah

Beberapa waktu lalu, tepatnya pada Sabtu (28/9/19), telah berlangsung Aksi Mujahid 212 Selamatkan NKRI di Jakarta. Aksi yang diselenggarakan...