Belakangan muncul istilah ‘Islam KTP’ eh ada sinetronnya juga malah, dan ternyata banyak yang nonton sinetron ini. Atau beberapa taun ke belakang ada istilah ‘STMJ’ a.k.a ‘sholat terus, maksiyat jalan’. Pernah mikir ga kenapa istilah-istilah aneh beginian bisa muncul? Dulu sebelum mengkaji Islam, jujur saya tuh aneh ngedenger istilah kaya gitu. Ko bisa ya ada istilah yang kaya gini? Saya jadi bingung dan mempertanyakan apa boleh ‘STMJ’ itu? Atau memang adakah istilah ‘Islam KTP’ di dalam Islam sendiri?
Bingung lah saya hingga
beruntungnya saya dipertemukan Allah dengan orang-orang yang sholiha, yang
tidak pelit membagi ilmunya kepada saya. Dari sejak itulah saya mulai intensif
mempelajari Islam. Menyelami setiap dahan, ranting, daun-daun hingga buah di
dalam Islam, tentu sebelumnya mengkaji dari akarnya.
Kajian itu membuat saya membuka
mata, hati dan telinga. Menyadari setiap kebenaran dan kesempurnaan Islam, lalu
menjadikannya sebagai keyakinan yang kuat. Dan terus mencoba agar semua pemahaman
itu dapat mengkristal di dalam diri saya, semoga, aamiin :)
Dari sanalah saya tau bahwa Islam
bukanlah sekedar agama ritual semata, maksudnya Islam tidak hanya mengatur
urusan ibadah saja. Tapi ternyata ia mengatur seluruh aspek kehidupan manusia. Dari
bidang politik, ekonomi, sosial, budaya, kemanan dan pertahanan. Tentu tentang
pendidikan dan kesehatan pun ada. Tentu anda yakin kan bahwa Al-Qur’an itu
mencakup ilmu apa pun tanpa kecuali. Karena memang Islam mengatur kehidupan
kita dari mulai bangun tidur sampai tidur lagi, dan Islam punya aturan tentang
bagaimana masuk toilet hingga masuk Syurga. Betul-betul sempurna bukan? Sehinggah
Islam menjadi agama yang khas, bukan sekedar agama tapi ia punya seperangkat
aturan (sistem) yang mengatur kehidupan kita. Maka dari sini, Islam tidak
sekedar agama tetapi Islam adalah sebuah ideologi (landasan hidup) yang darinya
semua problematika hidup dapat dipecahkan. Ya simple nya kita bisa bilang kalo
Islam adalah solusi dari segala problematika kehidupan.. :D
Lalu, Islam pun mempunyai
beberapa karakteristik, di antaranya adalah; syamil (menyeluruh), kamil
(sempurna), universal, manusiawi, aplikatif dan tetap. Sebetulnya enam
karakteristik ini masih ada penjelasan terperincinya, mungkin lain kali saya
akan perinci ditulisan berikutnya, atau mungkin jika anda penasaran anda bisa
hubungi saya langsung untuk mendapat rinciannya, tentu jika anda seorang
muslimah. :)
Nah kembali ke istilah ‘Islam KTP’,
jika saya analisis (ciee, maklum emang kerjaanya analisa di laboratorium, hehe)
istilah itu muncul karena memang ada sebagian orang Islam (muslim) yang tidak
merepresentasikan ajaran Islam di dalam kehidupannya. Arti dari istilah ‘Islam
KTP’ itu sendiri kan ketika seseorang menjadikan Islam hanya sebagai label,
bukan sebagai pegangan hidupnya. Nyambung ke istilah ‘STMJ’, mungkin bisa
dibilang 'STMJ' ini manifestasi dari ‘Islam KTP’. Jadi orang yang menjadikan
Islam hanya sebagai label, maka dia akan ‘sholat sih masih tapi maksiyat juga
ga ketinggalan’. Haduh -__-
Ini terjadi karena pemahaman
mereka terhadap Islam kurang. Mereka tidak menyadari kesempurnaan Islam maka
mereka pun tidak mencari bagaimana Islam lebih jauh mengatur kehidupannya. Tentu
saja ini adalah kesalahan yang fatal. Kita tak akan masuk Syurga hanya dengan
sholat aja sis! Bagaimana tentang hukum pembagian harta warisan, bagaimana
hukum bayi tabung, bagaimana tentang pengelolaan sumber daya alam oleh negara,
bagaimana Islam memandang toleransi antar umat beragama, bagaimana siroh Nabi
Muhammad, dan masih banyak lagi hal-hal yang belum kita ketahui. Kita memang
tak akan pernah merasa cukup dengan tau Islam ala kadarnya. Bukankah Syurga
yang ingin kita masuki adalah Syurga yang sama dimasuki oleh ‘Aisyah, Fatimah
bahkan Khodijah? Lalu mengapa amal dan ilmu kita sangat minimal? Apalagi jika
dibandingkan para shohabiyat? Serius pengen masuk Syurga? Maka kita pun harus menyeriusi kehidupan ini. Hey, bukti
keseriusan itu adalah tindakan. Saya tidak akan percaya jika anda mengatakan
anda orang yang suka menolong, tetapi anda diam ketika melihat orang lain
terjatuh misal ketika sedang menyebrang dijalan. Buktikanlah keseriusan mu!
Begini teman, di dalam Islam ada
yang namanya Syakhshiyah (kepribadian). Syakhshiyah pada setiap manusia
terbentuk oleh ‘aqliyah (pola pikir) dan nafsiyah (pola sikap). Jadi bentuk
fisik, wajah, dsb bukan lah unsur pembentuk syakhshiyah ya.
‘Aqliyah (pola pikir) adalah cara
yang digunakan untuk memikirkan sesuatu, singkatnya ia adalah pola pikir
seseorang, dengan landasan apa ia berpikir. Sedangkan nafsiyah (pola sikap)
adalah cara yang digunakan seseorang untuk memenuhi tuntutan ghorizah (naluri)
dan hajat al-‘adhawiyah (kebetuhan jasmani); yakni upaya memenuhi tuntutan
tersebut berdasarkan kaidah yang diimani dan diyakininya.
Syakhshiyah Islamiyah (kepribadian
Islam) akan terbentuk jika ‘aqliyah dan nafsiyah nya pun Islami. Maksudnya pola
pikir dan pola sikap orang tersebut berdasarkan aqidah Islam. Tetapi jika salah
satunya tidak Islami maka tidak akan muncul kepribadian Islam, keduanya adalah
syarat mutlak yang harus terpenuhi untuk terwujudnya kepribadian Islam.
Contoh, sesorang berfikir bahwa
setiap masalah yang muncul dalam kehidupan harus diselesaikan dengan aturan
Islam. Tetapi dalam kehidupan sehari-hari dia tetap memakan harta riba, itu artinya
pola pikir dia sudah Islami tetapi pola sikapnya tidak Islami. Atau walaupun ia
memakan makanan yang halal dan tidak memakan makanan yang harom tapi ia percaya
bahwa semua agama itu benar (pluralisme) maka dia pun tidak dikatakan
berkepribadian Islam.
Jadi memang ‘aqliyah dan nafsiyah
ini harus klop. Jika kedua aspek ini sama-sama dibangun atas dasar aqidah Islam
maka akan terpancar kepribadian yang khas, yakni kepribadian Islam. Apakah anda
pernah bertemu dengan sosok seorang muslim yang dia berpikir bahwa setiap amal
itu harus terikat dengan aturan Islam lalu ia mempraktekkan dalam kehidupannya.
Ia tidak berpacaran walaupun orang mengejeknya, ia menghindari riba ketika
orang-orang di sekelilingnya menjadikan riba sebagai solusi dalam masalah
ekonomi. Jika anda pernah mengindera sosok seperti itu, itulah sedikit cerminan
tentang seorang muslim yang ber-syakhshiyah Islam.
Jika setiap muslim menyadari
hakikat kepribadian Islam ini maka tidak ada lagi yang namanya ‘Islam KTP’
ataupun ‘STMJ’. Dan ingat ini bukan soal pilihan, kita mau menjadi muslim yang
seperti apa? Kepribadian mana yang dapat menghantarkan kita ke dalam
Jannah-Nya? Jika memang tujuan hidup kita untuk mendapat ridho-Nya. Bukankah kita
amat nyaman jika bertemu dengan orang-orang yang berkepribadian Islam ini? Maka
jadilah kita pun seperti sosok tersebut. Jika pun hari ini belum, maka berusahalah,
bersabarlah dalam berproses. Mungkin tidak dalam waktu seminggu, sebulan,
sesemester kita akan berubah. Mungkin tahun depan atau dua tahun ke depan, tapi
berproseslah!! Memulai setiap kebaikan dari hari ini. :)
Dan tentu seharusnya ketika kita
terus meng-up grade ‘aqliyah kita, maka nafsiyah kita pun menjadi ter-up grade.
Seharusnya grafik antara ‘aqliyah dan nafsiyah itu linier. Semakin anda ‘penuh’
dengan tsaqofah-tsaqofah islam maka pola sikap anda pun akan lebih baik, lebin
indah, dan lebih sempurna dimata Rabb kita.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar