Tak ada satu manusia pun yang tak
pernah berharap ataupun tak punya harapan. Nyaris semua orang pernah mengucap
kata; ingin, mau, semoga, jika saja, seandainya, dsb. Berharap adalah aktivitas
yang dilakukan oleh manusia secara universal, tanpa memandang suku, ras, agama,
pendidikan, tingkat ekonomi atau ideologi sekalipun. Karena ia adalah bentuk
penampakan dari ghorizah tadayyun atau naluri untuk mensucikan/menyembah
sesuatu.
Manifestasi dari berharap ini
adalah doa. Berharap ada Zat yang lebih kuat dari kita untuk memberi apa yang
kita minta, memohon untuk dipenuhi kebutuhannya. Tidak salah jika anda
menginginkan sesuatu lalu anda berdoa. Atau mungkin ketika anda dalam kondisi
terjepit maupun berbahagia, yang anda lakukan adalah berdoa.
Doa adalah senjata yang tidak
pernah meleset, panah yang tidak pernah gagal mengenai sasaran serta benteng
kokoh tempat berlindung seorang Muslim. Tentu ini jika dipandang dari segi
sudut pandang Islam.
Namun sayangnya, kebanyakan dari
kita tidak menyadari urgensitas dari doa. Dan tidak mengerti hakikat dari
berdoa. Mungkin masih ada sebagian orang yang berdoa hanya sekedar meminta agar
keinginannya diwujudkan oleh Allah. Mereka akan fokus terhadap pengabulan
doanya. Berdoa alakadarnya, tanpa meyadari bahwa berdoa adalah ibadah. Maka doa
pun diucapkan dengan tergesa-gesa, tak terlihat bersungguh-sungguh, tidak yakin
dan penuh harap, yaa tidak khusyu.
Umar bin al-Khaththtab ra. berkata,
“Saya tidak terlalu peduli dengan pengabulan doa. Saya lebih fokus pada doanya
itu sendiri. Sebab, jika saya diberi kesadaran untuk berdoa, doa saya pasti
dikabulkan.”
Dengan doa, Allah SWT
menyelamatkan Nabu Nuh as. beserta kaum mukmin serta menenggelamkan orang-orang
kafir (lihat QS al-Qamar [54]: 10-14). Dengan doa pula, Allah SWT menyelamatkan
Nabi Yunus as. dari perut ikan paus (lihat QS al-Anbiya [21]: 87-88). Dengan doa
pula Allah SWT menghilangkan musibah Nabi Ayyub as. (lihat QS al-Anbiya [21]:
83-84). Dan Allah SWT menyelamatkan Nabi
Musa as. dari kejaran Fir’aun dan pasukannnya (lihat QS al-Qashash [28]: 21). Dan
masih banyak contoh-contoh semisal yang menggambarkan betapa pentingnya
doa. Ia lah faktor penting bagi
datangnya kebaikan, hilangnya keburukan, turunnya rahmat, sirnanya penderitaan
dan tercapainya kemenangan.
Ketika doa pun sering kita
panjatkan, maka kita pun sampai kepada pertanyaan ‘mengapa doa tak kunjung
dikabulkan?’. Dan ada pula orang yang menanyakan hal ini lalu ia berhenti dari
memanjatkan doa. Ia tak memiliki harapan lagi bahwa doanya akan dikabulkan. Sikap
seperti ini dilarang oleh Rasulullah saw., “Doa
salah seorang di antara kalian pasti dikabulkan selama tidak terburu-buru agar
doanya segera dikabulkan hingga ia berkata, “Aku telah berdoa kepada Tuhanku,
tetapi doaku tidak dikabulkan.” (HR al-Bukhori, Muslim, Abu Dawud,
at-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ahmad). Dalam riwayat Muslim disebutkan: Ditanyakan,
“Wahai Rasulullah, apa yang dimaksud
dengan terburu-buru?” Rasulullah saw. Bersabda, “Hamba itu berkata, “Aku berdoa dan terus berdoa, tetapi doaku tidak
dikabulkan.”” (HR. Muslim)
Hendaknya kita tau, banyak sebab
mengapa doa tidak segera Allah kabulkan, dan ada hikmah di balik tidak di
kabulkannnya doa dalam waktu cepat. Di antara sebab dan hikmah itu adalah sebagai
berikut:
1. Boleh
jadi penyebab tertundanya pengabulan doa kita adalah karena kita belum memenuhi
syarat-syarat diterimanya doa. Kadang-kadang mungkin karena kita tidak
menghadirkan kalbu kita saat berdoa, atau waktu berdoa kita bukan waktu
dikabulkannya doa, atau kita berdoa tanpa disertai kekhusyuan, merendahkan
diri, dan sikap pasrah secara total kepada-Nya serta syarat-syarat penting
lainnya dalam berdoa.
2. Boleh
jadi, tidak dikabulkannya doa adalah karena sebab tertentu, atau karena dosa
kita yang belum kita tobati, atau ada dosa yang tidak kita tobati dengan jujur,
atau makanan kita mengundang syubhat, atau ada hak milik orang lain pada diri
kita dan kita belum mengembalikannya. Rasulullah saw. pernah bersabda: Hai Saad (ibn Abi Waqqash), makanlah makanan
yang baik-baik, niscaya engkau akan menjadi orang yang doanya dikabulkan.
3. Boleh
jadi Allah SWT sengaja menyimpan pahala dan balasan doa kita di akhirat kelak
atau Allah menghilangkan keburukan dari kita. Diriwayatkan dari Ubadah bin
Ash-Shamit ra. bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda:
“Tidaklah seorang Muslim yang ada di atas
bumi berdoa kepada Allah dengan suatu doa kecuali Dia pasti mengabulkan doa itu
atau menghilangkan keburukan darinya selama ia tidak berdoa untuk keburukan
atau untuk memutuskan hubungan silaturahmi.” Seseorang berkata, “Bagaimana jika
kita memperbanyak doa?” Rasulullah saw. Bersabda, “Allah lebih banyak lagi
mengabulkan doanya atau menghilangkan keburukan darinya.” (HR at-tirmidzi,
Ahmad dan al-Hakim).
4. Penundaan
terkabulnya doa merupakan ujian dari Allah SWT kepada hamba-Nya. Dengan itu
Allah SWT ingin menguji keimanan orang itu dan menyeleksinya. Sebab, ketika doa
tidak dikabulkan setan membisikkan pikiran jahat kepadanya dengan berkata, “Kemuliaan
itu luas, sementara kebakhilan telah ditutup. Lalu apa faedahnya doa tidak
segera dikabulkan?” Demikian pula dengan bisikan-bisikan jahat lainnya. Karena itu,
seorang hamba Muslim harus melawan bisikan jahat seperti itu dan mengusirnya
dari dirinya dengan segala sarana. Ia juga harus sadar bahwa jika hikmah dibalik
doa tidak dikabulkan dengan segera ialah Allah ingin menguji hamba-Nya dengan
cara memerangi iblis maka hikmah itu sudah cukup baginya.
5. Hikmah
lain doa tidak segera dikabulkan ialah seorang Muslim akan menyadari satu
hakikat penting, yakni bahwa ia hanyalah hamba Allah, sementara Allah adalah
Pemilik segala-galanya, dan Pemilik berhak berbuat apa saja terhadap miliknya,
dengan cara memberi atau tidak memberi. Jika Dia mau memberi maka itu berasal
dari karunia-Nya. Jika Dia tidak memberi maka itu adalah salah satu bentuk
keadilan-Nya dan Dia memiliki alasan kuat di dalamnya. Dengan itu, kita juga akan menyadari bahwa ternyata kita
bukan buruh yang langsung marah jika gajinya tidak segera diberikan dan kita
tau makna sabda Rasulullah saw. setelah Perdamaian Hudaibiyah, “Aku adalah Rasulullah dan Allah tidak akan
pernah menelantarkanku.” (HR. Al-Bukhori, Muslim dan Ahmad)
Ketika doa tidak
segera dikabulkan maka iman seseorang teruji dan terlihat perbedaan antara
Mukmin sejati dan Mukmin ‘palsu’. Sikap Mukmin sejati tidak berubah terhadap
Tuhannya ketika doanya tidak segera dikabulkan dan ia malah semakin rajin
beribadah kepada-Nya.
Setiap muslim
juga harus ingat bahwa ketika Nabi Ya’qub as. kehilangan putranya Nabi Yusuf as.,
beliau tidak henti-hentinya berdoa dan berdoa. Akan tetapi, pengabulan beliau
tertunda hingga waktu yang lama hingga ada yang mengatakan, “Nabi Ya’qub berdoa
selama empat puluh tahun.”
6. Kadang-kadang
doa yang tidak segera dikabulkan itu membuat kita selalu berdiri dihadapan
Allah SWT, selalu merendahkan diri dan berlindung kepada-Nya. Sebaliknya, jika
permintaan kita dikabulkan maka kita lebih sibuk, lalu kita melupakan Allah
swt; tidak lagi meminta dan berdoa kepada-Nya. Padahal doa adalah inti ibadah. Inilah
realitas sebagian besar kita. Buktinya, saat tidak ada cobaan, kita tidak
berlindung diri kepada Allah SWT.
7. Boleh
jadi tatkala doa kita segera dikabulkan Allah SWT, kita malah terjatuh dalam perbuatan
dosa, atau menimbulkan madarat pada agama kita, atau memunculkan fitnah bagi
kita, atau apa yang kita minta itu sekilas baik bagi kita padahal sebetulnya
buruk bagi kita; teruama bagi orang yang tidak berdoa dengan doa-doa yang
diriwayatkan dari Rasulullah saw. dan mengajukan permintaan tertentu kepada
Allah SWT.
8. Setiap
doa memiliki ketentuan dan takaran. Sesungguhnya tidak masuk akal jika hari ini
kita berdoa agar Khilafah berdiri, lalu kita menunggu dengan harapan besok pagi
terwujud. Doa yang agung ini dan kejadian amat penting dan sulit ini tentu
mempunyai ketentuan, takaran, syarat, sebab, prolog, hasil, kerja keras,
pengorbanan besar serta kaderisasi generasi yang dididik Allah SWT secara
langsung dan Dia siapkan untuk berkuasa di atas muka bumi.
Seorang ahli
tafsir menyebutkan betapa jauhnya jarak doa Nabi Musa as. dan pengabulannya
oleh Allah SWT, yakni empat puluh tahun (lihat QS Yunus [10]: 88-89)
Mari kita
renungkan perkara ini. Pihak yang berdoa adalah Nabi Musa as., salah seorang dari
para rasul yang digelari Ulul Azmi. Lalu pihak yang meng-amin-kan ialah Nabi
Harun as,. Juga seorang nabi yang mulia. Keduanya telah memenuhi syarat dan
adab berdoa. Kemudian pihak yang didoakan celaka ialah Fir’aun dan para
kroninya, yang notabene manusia paling zalim, fasik dan kafir saat itu. Meski begitu,
doa Nabi Musa as. tidak segera dikabulkan. Itulah takaran dan ketentuan doa
tersebut. Padahal dia bukan sembarang doa. Poin ini sangat penting bagi siapa
saja yang merenungkan dan memikirkannya.
Referensi: Pesan-pesan Menggugah untuk
pengemban dakwah - Dr. Najih Ibrahim – Al Ahzar Press

Tidak ada komentar:
Posting Komentar