Minggu, April 10, 2016

Rumus


Terkadang rumusnya itu begini: jika kita terlampau menginginkan sesuatu, Allah malah tidak mengabulkan keinginan kita. Bisa jadi, itu karena Allah ingin menguji sejauh mana kita mampu bersabar.

Nb: jadi jangan ngebet2 banget kalo kepengen sesuatu. Yakin saja Allah tau yg terbaik bagi kita dan Allah ga akan pernah salah.

Rabu, April 06, 2016

Kaki yang Pincang


Allah menciptakan sepasang kaki untuk manusia, 1 kaki kanan dan 1 kaki kiri. Lalu bayangkan jika salah satu nya sakit. Entah itu lebam, linu, berdarah atau sekedar kesemutan. Kira-kira bisa dipakai buat jalan ga kaki nya? Jika saya yang merasakan itu jawaban saya adalah saya tidak akan bisa berjalan atau minimal jalan saya akan terganggu, kecepatan berjalan pun akan menurun. Bayangkan jika Allah mencabut nikmat kaki kanan atau kaki kiri, salah satu kaki kita lumpuh atau harus diamputasi, na'udzubillah.. tentu kita akan kesusahan untuk berjalan bukan. Berjalan saja sulit apalagi harus berlari. Maka pahamilah dua kaki itu ideal, jangan sampai pincang salah satu nya, karena itu akan menghambat kecepatan berjalan kita dan tentunya akan memperlambat kita untuk sampai tujuan. Hei lihat! Orang lain hampir mencapai garis finish kita masi asyik di belakang terseok dekat garis start. Sungguh malang.

Ini hanyalah sebuah analogi. Dan semoga anda mengerti maksud saya.

Senin, Februari 29, 2016

Game dan Smartphone


Tulisan kali ini adalah sesi curhat. Karena si insom lagi mampir, jadilah pikiran di otak meloncat-loncat ramai, ngetuk-ngetuk minta keluar. Terpikir untuk menulis judul ini karena kemarin untuk ke sekian kalinya dan orang ke sekian yang ngoprek hp saya, bilang kalo hp saya ga rame karena ga ada game nya.. aneh memang, untuk ukuran smartphone jaman 2016 gini yang aplikasi apa pun ada, ko ga ada game satu pun..

Oke, sejarah perhapean hidup saya adalah saya punya smartphone hanya 2 kali, itu pun 22 nya dibelikan suami, alias punya nya setelah menikah. Pertama beli smartphone ketika saya mengandung 'Nusaibah kecil', dengan alasan biar mudah gugling untuk masalah-masalah perkembangan janin dan masa-masa kehamilan. Dan nanti jika 'Nusaibah kecil lahir' kalo ada pose-pose yang ngegemesin bisa langsung dikirim ke abi nya, ceritanya sih biar pas lagi kerja jadi lebih semangat dan ga ketinggalan cerita perkembangan NK (disingkat aja ya, kepanjangan soalnya).. di smartphone yang pertama ini ternyata sudah terinstall beberapa game. Dan saya pernah mainin game ini dari semenjak hamil sampai melahirkan NK. Game bubble gitu.. hihi. Kenapa main game? Karena ternyata game bisa mengatasi mual-mual yang muncul pada masa kehamilan. Setelah NK  lahir pun saya meng-uninstall game nya. Lalu singkat cerita saya ganti hp dengan smartphone yang lebih canggih. Dan tidak ada satu pun game di hp baru ini. Kenapa? 1. Dari semenjak kecil saya memang ga tertarik main game, lebih suka nonton orang maen game. Ga ada bakat, tapi bukan berarti ga punya kemampuan. Karena kalo mau belajar mah lama-lama juga bisa kan main game, buktinya pas saya pertama kalinya punya smartphone. Dan memang tidak mengembangkan minat dan ketertarikan sama game sih.
2. Merasa waktu yang kita punya ini adalah modal dari Allah untuk beramal sholih. Dan saya yakin kewajiban dari Allah itu lebih banyak dari waktu yang kita  punya, maka untuk apa kita masih buang-buang waktu? Mengisi waktu yang terbatas ini dengan hal yang sia-sia. Saya merasa ga main game aja udah lalai, apalagi sibuk main game? Pengalaman saya main game, kita jadi kecanduan. Dan lebih dari itu, kita ingin level yang lebih tinggi, ingin menyelesaikan kesulitan-kesulitan yang lebih rumit. Ini lah bahaya nya. Kenapa bahaya? Karena main game itu perlu waktu dan fokus. Alih-alih mendekat kepada Allah kita malah jadi marah-marah kalo ada orang yang ganggu. Dan katanya efek main game itu bikin orang jadi tempramen. Pertanyaan saya, kenapa sih ga tertarik tilawah aja, hafalan aja, baca buku aja? Emang tilwahnya udah segimana? Hafalannya? Banyak banget di luar sana ilmu-ilmu yang bisa kita akses dengan gratis. Kok tetep aja asyik sama game? Apalagi jika anda adalah seorang pengemban dakwah yang juga pelajar, mahasiswa, suami ataupun ayah. Alis saya naik beberapa senti, jika hidup anda masih berkutat dengan game. Hello! Pelajaran kalian, tugas-tugas, pengurusan terhadap istri dan anak-anak bagaimana? Kok ya masih anteng aja megangin hp sambil main game tapi lalai sama kewajiban-kewajiban yang Allah bebankan. Ayolah, inget hisab. Hisab itu berat! Saya menulis ini bukan untuk menyindir ataupun mengejek, saya ingin menyadarkan. Ada begitu banyak aktivitas yang lebih penting dan bermanfaat yang bisa menyelamatkan mu di akhirat kelak dibanding mantengin hp, main game. Ayo lah, tugas-tugas mu harus dibereskan belum lagi ujian yang datang silih berganti. Istri mu perlu didengarkan keluh kesah nya, kesulitan-kesulitan nya dalam menjalani hidup yang tak mudah. Mengurusi keperluan-keperluan hidup beberapa orang tak mudah bukan? Hargailah perjuangan ibu dari anak-anak mu yang terpaksa melahap berpuluh-puluh artikel hanya untuk mencari tau tentang resep makanan, tentang tumbuh kembang bayi yang engkau idam-idamkan kehadirannya, tentang parenting, tentang kesehatan keluarga. Ayoo lah, jangan menjadi budak benda segiempat yang dibanting atau dicelupkan ke air langsung rusak.

Dan ini keanehan lainnya, dulu orang main game untuk mengisi waktu luang. Tapi hari ini orang meluangkan waktu demi main game. Apasih yang diberikan game untuk kita? Kebahagiaan? Ketenangan? Bukan kah bahagia itu mendapat ridho Allah? Bukan kah ketenangan itu kita dapatkan dengan mengingat Allah? Jadi untuk apa main game? Atau jangan-jangan anda masih menuruti hawa nafsu dibanding wahyu? Syurga yang Muhammad akan masuki adalah syurga yang kita inginkan bukan? Yuk kita hisab diri kita masing-masing sebelum hari penghisaban yang sesungguhnya tiba.

Selasa, Januari 05, 2016

Ummu Nusaibah

Hhmm.. entah apa yang terjadi.. tiba-tiba saja tangan ini tergerak untuk membuka blog lama yang belum usang lalu bernostalgia membaca judul-judul tulisan dan klik, membaca satu tulisan saja. Mungkin ini qadla Allah, ketika si "tukang rem" sedang melakukan sebuah aktivitas dan nusaibah ku asyik bermain dalam mimpinya, ada dorongan untuk membuka blog, membaca tulisan lama dan finally nulis lagi (yeeaayyy).. tak terpikir sedetik lalu kalau akhirnya malam ini menjadi malam pertama menulis lagi, hanya bedanya dulu ngetik di notebook sekarang ngetik di smartphone. Bersyukur teknologi terus berkembang memudahkan hidup manusia, seharusnya ini memacu semangat manusia untuk terus berkarya lebih produktif lagi. Bukan malah jadi orang-orang pemalas. Maksud saya berkarya adalah manusia pada jaman ini lebih mudah untuk membaca apa pun dan dimana pun. Lebih mudah terinspirasi harusnya, yang pada akhirnya lebih mudah dan lebih banyak berkarya. Tapi yang kita lihat ada beberapa manusia yang dengan kecanggihan teknologi ini menjadi makhluk malas minim karya. Hanya nonton video yang tak jelas tak ada faedahnya ataupun nge-game sepanjang hari. 

Anyway, saya tidak akan membahas mendalam tentang apa pun. Saya hanya sekedar ingin memulai apa yang dahulu pernah saya mulai. Dengan status dan job yang berbeda dari saya di tulisan-tulisan sebelum nya. Agak sedikit alay, ini tulisan pertama saya semenjak saya sudah menyempurnakan dien a.k.a jadi istri si "tukang rem" dan jadi ibu bagi nusaibah kecil ku. Semoga hari-hari berikutnya saya bisa menulis pikiran, keresahan, pengalaman lagi di blog ini. Dan kalian dapat mengambil pelajaran, semoga.. :D

Sabtu, Mei 31, 2014

ISLAM: SOLUSI TUNTAS PEDOFILIA



Beberapa kasus pedofilia akhir-akhir ini menjadi trending topic di berbagai kalangan masyarakat. Berbagai lapisan masyarakat kompak angkat bicara mengenai kasus memilukan ini, mulai dari rakyat biasa, artis, para aktivis, pejabat hingga presiden pun ikut mengomentari kasus pedofilia ini. Kekompakkan ini muncul akibat dari perasaan yang sama, yakni geram terhadap para pelaku pedofilia (predator anak). Hingga muncullah tagline ‘Indonesia Darurat Pedofilia’. Nampaknya tagline ini tidak berlebihan dikarenakan banyaknya kasus yang bersusulan muncul.    
Kasus JIS (Jakarta International School) merupakan kasus yang menghentak publik di tahun 2014 ini. Lalu disusul munculnya kasus-kasus lain di beberapa daerah.  Seperti di Medan, kasus serupa menimpa 11 pelajar, pelakunya adalah guru yang merupakan warga negara Singapura. Juga di Tenggarong, Kalimantan Timur, seorang guru melakukan sodomi kepada muridnya. Di tahun 2010 lalu ada kasus kekerasan seksual yang menggegerkan, yang dilakukan oleh Baikuni alias Babe terhadap 14 anak jalanan, bahkan Babe membunuh dan memutilasi anak-anak tersebut. Yang terbaru dan tidak kalah mencengangkan adalah kasus di Sukabumi yang dilakukan oleh Andri Sobari alias Emon (24 tahun). Lebih dari 110 anak menjadi korban kebejatan Emon ini. Dan masih banyak lagi kasus serupa. Memang kasus pedofilia ini bak fenomena gunung es, yang terlihat di permukaan hanyalah sebagian kecilnya saja, yang tidak terungkap jauh lebih banyak lagi.
            Masyarakat bertambah geram karena hukuman yang diberikan kepada predator anak ini adalah hukuman penjara makimal 15 tahun. Hal ini tak sebanding dengan dampak yang akan ditanggung oleh anak sebagai korban. Pelecehan seksual terhadap anak dapat mengakibatkan dampak negatif jangka pendek dan panjang, termasuk dampak psikologis di kemudian hari. Dampak psikologis, emosional, fisik dan sosialnya meliputi depresi, gangguan stress pasca trauma, kegelisahan, gangguan makan, rasa rendah diri yang buruk, kekacauan kepribadian. Juga menyebabkan terjadinya gangguan psikologis, gangguan syaraf, sakit kronis, perubahan perilaku seksual, masalah sekolah/belajar dan masalah perilaku termasuk penyalahgunaan obat terlarang, perilaku menyakiti diri sendiri, kriminalitas ketika dewasa bahkan bunuh diri.
            Juga ada dampak mengerikan lainnya yaitu siklus pedofilia, abused-abused cycle. Ihsan Gumilar, peneliti dan dosen Psikologi Pengambilan Keputusan menjelaskan, yaitu  berawal dari korban (abused) pelecehan semasa kecil, lalu tumbuh dewasa jadi orang yang memakan korban (abuser). Orang yang jadi korban pelecehan seksual saat kecil, saat dewasa akan berpikir melampiaskan seks dapat dilakukan pada anak kecil. Itulah yang terjadi pada ZA salah satu tersangka pelaku sodomi di JIS yang pada usia 14 tahun disodomi oleh William James Vahey, seorang pedofil buronan FBI yang pernah mengajar di JIS selama 10 tahun. Itulah siklus pedofil menghasilkan pedofil baru. (lihat, tribunnews.com, 28/4/2014)
            Ada beberapa hal yang menjadi faktor penyebab maraknya kasus pedofilia ini, yang paling utama adalah derasnya ide kebebasan atau liberalime yang lahir dari barat masuk ke Indonesia ini. Dengan mengatasnamakan kebebasan seolah-olah manusia legal untuk bertingkah laku sekehendaknya sendiri. Penerapan sistem demokrasi di Indonesia pun menyambut baik kehadiran ide kebebasan ini, jadilah marak dan subur perilaku-perilaku yang menyimpang ini. Ditambah dengan sekulerisme yang menjadi ciri khas sistem demokrasi, menjadikan masyarakat hidup tanpa terikat dengan nilai-nilai agama (Islam). Masyarakat memandang bahwa agama harus dipisahkan dari kehidupan umum. Maka nilai moral dan akhlak di kalangan masyarakat pun tercerabut hingga ke akar-akarnya.
            Faktor berikutnya adalah lalainya lingkungan keluarga terhadap penanaman aqidah dan pemahaman Islam pada anak, khususnya pendidikan seks dalam Islam terhadap anak sehingga memudahkan pelaku untuk melakukan perbuatan bejatnya Kerapkali ini terjadi akibat kesibukan orang tua untuk bekerja. Lalu Lingkungan masyarakat yang permisif dan tak acuh, membuat pelaku kejahatan bebas melakukan aksinya.  Ide permisif ini membuat masyarakat menjadi biasa bahkan tidak merasa aneh lagi ketika melihat penyimpangan-penyimpangan yang terjadi di sekitarnya. Misalnya saja, ketika anak SD zaman sekarang sudah berpacaran, orang tua dan lingkungan masyarakat merasa biasa saja, padahal pacaran lah yang menjadi gerbang perzinaan. Adapun untuk kasus pedofilia ini, misalnya ketika masyarakat tak acuh terhadap anak-anak yang dipakaikan busana minim. Maka ini membuat para predator semakin tertarik untuk menyakiti anak-anak. Seharusnya walaupun anak belum baligh, belum diwajibkan untuk menutup auratnya, seharusnya orang tua dan lingkungan masyarakat membiasakan anak untuk menutup auratnya, minimal berpakaian yang sopan.
            Selanjutnya adalah negara yang abai terhadap masalah kekerasan anak. Pembahasan peran negara umumnya hanya sebatas sebagai pemberi sanksi. Sanksi kejahatan seksual terhadap anak yang hanya maksimal 15 tahun penjara dianggap terlalu ringan. Kalau kita mau menelaah secara mendalam, sebenarnya negara lah yang semestinya menempati posisi sebagai pihak yang paling bertanggung jawab atas terjadinya kasus kekerasan seksual pada anak. Mengapa demikian?Pada dasarnya, penyebab munculnya kekerasan seksual pada anak ini adalah penyebab yang bersifat sistemik, seperti yang telah disebutkan sebelumnya, yakni akibat dari penerapan sistem sekulerisme, liberalisme dan demokrasi yang merupakan anak-anak dari kapitalisme. Kebebasan yang kebablasan dari cara hidup liberal telah menghalalkan berbagai sarana pemuasan nafsu, tanpa memandang lagi akibat yang ditimbulkan. Negara membiarkan masyarakat berhadapan dengan serbuan pornografi dari berbagai media massa, terutama internet. Alasannya negara tidak mampu mengontrol semua situs yang beredar.
Islam adalah satu-satunya agama yang memiliki mekanisme untuk mencegah dan mengatasi masalah kekerasan seksual terhadap anak. Secara sistem, penerapan Islam secara sempurna akan menjamin penghapusan tindak kekerasan terhadap anak. Islam adalah satu-satunya agama yang tidak hanya mengatur ritual atau aspek ruhiyah. Islam juga merupakan aqidah siyasi, yaitu aqidah yang memancarkan seperangkat aturan untuk mengatur kehidupan di setiap aspeknya.Penerapan aturan Islam ini dibebankan kepada negara. Rasulullah saw. bersabda terkait dengan tanggung jawab pemimpin negara: “Sesungguhnya imam itu laksana perisai, tempat orang-orang berperang di belakangnya dan berlindung kepadanya.” (HR Muslim). Dalam hadits lainnya, “Imam adalah pengurus dan ia akan diminta pertanggungjawaban terhadap rakyat yang diurusnya.” (HR Muslim dan Ahmad).
Secara rinci, tanggung jawab negara dalam melindungi anak-anak dari kekerasan seksual adalah sebagai berikut :
1.      Dalam masalah ekonomi, Islam mewajibkan negara menyediakan lapangan kerja yang luas agar para kepala keluarga dapat bekerja dan memberikan nafkah untuk keluarganya. Semua sumberdaya alam strategis adalah milik umat yang dikelola negara. Negara berkewajiban mendistribusikan seluruh hasil kekayaan negara untuk kesejahteraan warganegara, baik untuk mencukupi kebutuhan pokok, kesehatan, maupun pendidikan. Dengan jaminan seperti ini, para ibu tidak perlu bekerja sehingga bisa berkonsentrasi menjalankan tugas utamanya mendidik, memantau dan menjaga anak-anaknya.
2.      Negara wajib menjaga suasana taqwa terus hidup di tengah masyarakat. Negara membina warganegara sehingga mereka menjadi manusia yang bertaqwa dan memahami hukum-hukum agama. Pembinaan dilakukan baik di sekolah, di masjid, dan di lingkungan perumahan.
3.      Negara mengatur mekanisme peredaran informasi di tengah masyarakat. Media massa di dalam negeri bebas menyebarkan berita. Tetapi mereka terikat dengan kewajiban untuk memberikan pendidikan bagi umat, menjaga aqidah dan kemuliaan akhlak serta menyebarkan kebaikan di tengah masyarakat. Bila ada yang melanggar ketentuan ini, negara akan menjatuhkan sanksi kepada penanggung jawab media.
4.      Negara mengatur kurikulum sekolah yang bertujuan membentuk kepribadian Islam bagi para siswa. Kurikulum ini berlaku untuk seluruh sekolah yang ada di dalam negara, termasuk sekolah swasta.
5.      Negara membuat aturan pergaulan antara laki-laki dan perempuan di masyarakat berdasarkan hukum-hukum syara’.Laki-laki dan perempuan diperintahkan untuk menutup aurat, menahan pandangan, menjauhi ikhtilat (interaksi laki-laki dan perempuan) yang diharamkan, dan seterusnya. Dengan metode ini, aurat tidak dipertontonkan dan seks tidak diumbar sembarangan. Terbiasanya orang melihat aurat perempuan dan melakukan seks bebas, akan membuat sebagian orang kehilangan hasrat seksnya dan mereka membutuhkan sesuatu yang lain untuk membangkitkannya. Muncullah kemudian penyimpangan seksual seperti pedofilia, homo dan lesbi. Inilah yang dihindarkan dengan penerapan aturan pergaulan sosial dalam Islam.
  1. Negara menjatuhkan hukuman tegas terhadap para penganiaya dan pelaku kekerasan seksual terhadap anak. Pemerkosa dicambuk 100 kali bila belum menikah, dan dirajam bila sudah menikah. Penyodomi dibunuh. Termasuk juga melukai kemaluan anak kecil dengan persetubuhan dikenai denda 1/3 dari 100 ekor unta, atau sekitar 750 juta rupiah, selain hukuman zina (Abdurrahman Al Maliki, 1990, hal 214-238). Dengan hukuman seperti ini, orang-orang yang akan melakukan kekerasan seksual terhadap anak akan berpikir beribu kali sebelum melakukan tindakan.
  2. Anak-anak yang menjadi korban sodomi akan direhabilitasi dan ditangani secara khusus untuk menghilangkan trauma dan menjauhkan mereka dari kemungkinan menjadi pelaku pedofilia baru nantinya.
  3. Negara mencegah masuknya isme dan budaya yang bertentangan dengan Islam atau membahayakan kehidupan masyarakat seperti liberalism, sekulerisme, homoseksualisme dan sejenisnya dari saluran mana pun. Media massa, buku, bahkan orang asing yang masuk sebagai turis atau pedagang dilarang membawa atau meyebarkan hal tersebut. Bila mereka melanggar, dikenakan sanksi berdasarkan hukum Islam.
Dan yang mampu menjalankan fungsi dan tanggung jawab seperti di atas, tidak lain hanyalah negara yang menerapkan sistem Islam secara utuh, yakni Daulah Khilafah Islamiyyah. Mari bersama-sama saling bahu membahu menegakkan Islam dalam naungan Khilafah Islamiyyah melalui metode yang telah Rasulullaah SAW contohkan. Sehingga anak-anak kita bisa terlindung, aman dunia dan akhirat.

Aksi Mujahid 212: Saatnya Ulama dan Umat Bersatu Terapkan Syariah Kaffah

Beberapa waktu lalu, tepatnya pada Sabtu (28/9/19), telah berlangsung Aksi Mujahid 212 Selamatkan NKRI di Jakarta. Aksi yang diselenggarakan...