A blog that a bit weird and ambiguous, but you can take something from it, whether it be reproach or contemplation.
Selasa, Agustus 23, 2016
Membuat Jejak
Facebook adalah jejaring sosial pertama yang saya miliki. Lalu susul menyusul banyak sekali jejaring sosial lain bermunculan. Tidak banyak yang saya ikuti karena saya bukan tipe orang yang suka menjadikan akun medsos sebagai diari pribadi. Lebih kepada fungsi untuk mendapat informasi, ceritanya biar ga ketinggalan jaman kayak si doel yang anak betawi itu. Justru buat saya punya akun fb saja saya ngerasa kewalahan mengikuti info dan berita yang terus berubah tiap detiknya, apalagi harus punya akun di jejaring sosial lain, cape deh kalo harus buka semua akun.
Dan akhirnya sekitar beberapa bulan lalu saya memutuskan membuat akun di instagram. Sampai hari ini pun saya tidak begitu tertarik menekuni nya, karena awal membuat akun pun atas dasar provokasi segelintir orang untuk tujuan yang sifatnya bukan kepentingan pribadi. Awal punya akun ga banyak foto yang saya post. Sampe akhirnya saya tau akun ig ini harus diapain supaya ga sia-sia.
Karena saya ga suka post foto pribadi di jejaring sosial, jadi bingung kan apa yang mau di post di ig. Akhirnya saya poto-poto geje alam sekitar terus saya post plus caption yang isinya ingin menebar inspirasi kepada orang lain. Saya ingin setelah orang baca tulisan saya, mereka lebih ingat Allah dan hari akhir.
Dan yang menjadi tujuan saya menulis adalah karena saya ingin membuat jejak. Kita ketahui bersama hidup ini sementara, hidup ini hanya senda gurau, hidup ini ada ujungnya. Kita semua ini kan camat alias calon mati/mayat. Dan saya ingin ketika orang-orang mendengar kabar kematian saya, mereka mungkin akan kepo tentang kehidupan saya dan biasanya yang jadi sasaran adalah akun medsos. Terlebih lagi sebetulnya sasaran saya ini bukanlah orang lain yang ga ada hubungannya dengan saya, justru saya ingin ketika mungkin saya pergi mendahului suami dan anak, mereka mengingat dan mengenang saya melalui tulisan-tulisan saya ini, yang mungkin tidak sempat saya bahas atau ceritakan kepada mereka. Inginnya sih ninggalin jejak sebuah karya semisal buku, tapi agaknya untuk saat ini itu masih sebatas cita-cita, maka saya tuangkan dulu apa yang melompat teu daek cicing dari pikiran saya lewat tulisan di blog, ig ataupun fb (jarang banget kalau di fb mah).
Maka apa yang saya tulis di blog dan akun medsos lainnya itulah yang saya ingin orang ketahui dan kenang tentang saya. Entah sampai kapan saya akan membuat jejak ini. Tapi saya harap semua ini sekaligus menjadi ilmu yang bermanfaat, menjadi amal jariyah, menjadi pahala yang terus mengalir kepada saya walaupun saya sudah masuk ke dalam liang lahat. Maka yang harus saya tulis tentu saja harus bersifat berbagi ilmu dan nasihat, semoga memang begitu. Semoga blog ini bukan hanya sekedar tong sampah tempat saya nulis ngacapruk ga puguh. Dan jika kalian memang suka intip blog ini, maka doakan lah saya agar di alam sesudah alam dunia, saya hidup dalam kebahagiaan yang abadi yakni masuk syurga plus bertemu sang Pencipta, aamiin.
Jumat, Agustus 05, 2016
Ajal dan aku bukanlah seorang artis
Kematian. Sungguh ia sangat dekat.
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْت
“Setiap jiwa pasti akan merasakan mati,” (QS. Ali Imran: 185).
Setiap yang berjiwa pasti akan mati. Kita ini, dan anda yang lagi asik buka blog saya ini adalah makhluk-makhluk bernyawa bukan? Maka sudahkah kita sadar bahwa nyawa ini akan meninggalkan raga, atau kita masih berkata, "apaan sih, baru juga masuk SMA, baru juga lulus SMA, ngapain mikirin mati?". Oke, whatever your thought. Postingan kali ini yang menjadi fokus adalah saya, bukan anda. Saya hanya sedang menakar diri, seberapa saya ingat dan siap jika ajal sudah rindu untuk bertegur sapa. Menaati titah Tuhan Nya untuk mencabut nyawa manusia, tentu subjek pencabut nyawa di sini adalah malaikat izrail.
Berpikir, jika sudah masuk ke dalam lubang kecil itu apa yang akan saya rasakan? Apa yang akan disesali? Apa yang sangat diinginkan? Jawaban saya kali ini adalah waktu dan kesempatan untuk beramal sholih, iya amal sholih bukan hanya sekedar berbuat baik.
Lalu alur pikiran ini meloncat kepada pertanyaan apa yang saya tinggalkan? Apakah orang tua, suami, anak? Kemudian, apa yang orang lain akan ingat tentang saya? Jujur saja, saya tak begitu ingin diingat manusia ketika saya wafat, karena itu tak menambah apa pun di alam barzah. Seperti gajah mati meninggalkan gading, jika pun akhirnya ada yang mengingat saya, apakah yang mereka ingat tentang saya? Tapi, saya tak ingin orang lain mengingat saya karena wajah saya, merk baju apa yang saya kenakan, bagaimana model baju harian saya, apa saja yang saya lakukan di setiap bulan, minggu, hari, bahkan jam. Bukan pula karena banyaknya tempat yang saya kunjungi, menggugahnya menu sarapan saya hari ini, bukan karena megahnya tempat tinggal, bukan karena mahalnya kendaraan, bukan karena mewahnya resepsi pernikahan. Bukan pula karena tampannya pasangan hidup, cantik dan gantengnya para pewaris nama, bukan juga karena berjejernya gelar dan tingginya jabatan serta kedudukan.
Kenapa? Karena saya bukan seorang artis, saya hanya seorang hamba biasa. Yang saya ingin adalah orang lain mengingat saya karena nasihat dan ilmu yang bermanfaat. Tujuan tulisan ini dibuat pun karena ingin menebar manfaat. Lalu jika suatu hari nanti saya sudah tak jadi penghuni dunia lagi, semoga anda mendoakan kebaikan untuk saya. Semoga di akhirat, saya beserta kelurga saya ditempatkan di syurga firdaus bersama para Rasul, Nabi, shohabat dan para syuhada, tak lupa doakan pula saya bisa menatap wajah Allah di sana. Aamiin.
أَيْنَمَا تَكُونُوا يُدْرِكُكُمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنْتُمْ فِي بُرُوجٍ مُشَيَّدَةٍ
“Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh.” (QS. An Nisa’: 78).
قُلْ إِنَّ الْمَوْتَ الَّذِي تَفِرُّونَ مِنْهُ فَإِنَّهُ مُلَاقِيكُمْ ثُمَّ تُرَدُّونَ إِلَى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ
“Katakanlah: “Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. Jumu’ah: 8).
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۖ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ
Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan. (QS. Ali Imran: 185)
Rabu, Mei 18, 2016
Tak Akan Lama Lagi
Dari semenjak 10, 20 tahun lalu kami sudah mengingatkan, liberalisme dan sekulerisme itu racun yang membahayakan untuk kita. Tapi masih saja banyak orang yang tidak percaya. Dan 10, 20 tahun berlalu. Apa yang terjadi? Lihatlat di negeri sendiri, lihatlah yang terhadi hari ini. Kasus-kasus pelecehan dimana-dimana, bahkan saya sampai tidak kuat untuk satu persatu menuliskan kejahatan-kejahatan mengerikan itu. Bertanya dalam diri apa yang terjadi di jaman ini? Mengapa manusia bisa sebejad itu? Tidak punya kah mereka setitik saja hati nurani? Ataukah mereka bukan jenis manusia? Saya pernah mencoba membayangkan, semua kengerian ini terjadi di 2016, lalu apa yang akan terjadi di 2020, 2025, 2050, jika kehidupan manusia masih begini? Masih diatur oleh aturan yang tidak mampu menyelesaikan permasalahan-permasalahan manusia?
Hal yang patut disyukuri adalah hari ini orang-orang mulai sadar ada yang salah selama ini, ada yang salah dengan sistem aturan kehidupan saat ini. Mereka mulai percaya dengan apa yang kami serukan puluhan tahun lalu. Manusia mulai mengenali bahwa sekulerisme dan liberalisme adalah musuh bersama. Akibat liberalisme, manusia berhak bertindak sesuka hati mereka termasuk melakukan kedzaliman selama tidak ada yang merasa dirugikan, selama tidak ada laporan kepada aparatur negara. Karena sekulerisme lah manusia tak ingin membawa aturan agama di kehidupannya. Menyelesaikan masalah-masalah kehidupan dengan aturan manusia, hanya manusia yang berhak membuat hukum. Dan yang terjadi adalah pelaku pelecehan itu hanya dipenjara beberapa tahun saja, bahkan hanya dikenai hukuman wajib lapor karena pelaku masih termasuk kategori "anak-anak". Mental anak-anak macam apa yang bisa melakukan kengerian seperti itu?
Maka kami pun yakin. Ketika saat ini kami terus bergerak menyadarkan umat, menyeru umat untuk kembali kepada aturan Pencipta yang Maha Sempurna dan Maha Adil. Bila masih ada yang nyinyir dan tidak percaya, kami tidak peduli, bisa jadi besok lusa mereka pun ikut menyadari bahwa memang satu-satu nya solusi hanyalah aturan Sang Pencipta. Mendukung dan ikut bergerak bersama kami berjuang menerapkan Islam kaffah dalam bingkai Khilafah. Kami yakin itu tak akan lama lagi.
Minggu, April 10, 2016
Rumus
Terkadang rumusnya itu begini: jika kita terlampau menginginkan sesuatu, Allah malah tidak mengabulkan keinginan kita. Bisa jadi, itu karena Allah ingin menguji sejauh mana kita mampu bersabar.
Nb: jadi jangan ngebet2 banget kalo kepengen sesuatu. Yakin saja Allah tau yg terbaik bagi kita dan Allah ga akan pernah salah.
Rabu, April 06, 2016
Kaki yang Pincang
Allah menciptakan sepasang kaki untuk manusia, 1 kaki kanan dan 1 kaki kiri. Lalu bayangkan jika salah satu nya sakit. Entah itu lebam, linu, berdarah atau sekedar kesemutan. Kira-kira bisa dipakai buat jalan ga kaki nya? Jika saya yang merasakan itu jawaban saya adalah saya tidak akan bisa berjalan atau minimal jalan saya akan terganggu, kecepatan berjalan pun akan menurun. Bayangkan jika Allah mencabut nikmat kaki kanan atau kaki kiri, salah satu kaki kita lumpuh atau harus diamputasi, na'udzubillah.. tentu kita akan kesusahan untuk berjalan bukan. Berjalan saja sulit apalagi harus berlari. Maka pahamilah dua kaki itu ideal, jangan sampai pincang salah satu nya, karena itu akan menghambat kecepatan berjalan kita dan tentunya akan memperlambat kita untuk sampai tujuan. Hei lihat! Orang lain hampir mencapai garis finish kita masi asyik di belakang terseok dekat garis start. Sungguh malang.
Ini hanyalah sebuah analogi. Dan semoga anda mengerti maksud saya.
Langganan:
Postingan (Atom)
Aksi Mujahid 212: Saatnya Ulama dan Umat Bersatu Terapkan Syariah Kaffah
Beberapa waktu lalu, tepatnya pada Sabtu (28/9/19), telah berlangsung Aksi Mujahid 212 Selamatkan NKRI di Jakarta. Aksi yang diselenggarakan...
-
Ini tentang suatu hal yang remeh temeh, bukan suatu hal yang besar. Tetapi sangat penting, mungkin untuk yang menyadari. Seharga oksi...
-
Tulisan kali ini adalah sesi curhat. Karena si insom lagi mampir, jadilah pikiran di otak meloncat-loncat ramai, ngetuk-ngetuk minta keluar...
-
Beberapa waktu lalu, tepatnya pada Sabtu (28/9/19), telah berlangsung Aksi Mujahid 212 Selamatkan NKRI di Jakarta. Aksi yang diselenggarakan...