Selasa, Desember 25, 2012

Kepribadian Islam


Belakangan muncul istilah ‘Islam KTP’ eh ada sinetronnya juga malah, dan ternyata banyak yang nonton sinetron ini. Atau beberapa taun ke belakang ada istilah ‘STMJ’ a.k.a ‘sholat terus, maksiyat jalan’. Pernah mikir ga kenapa istilah-istilah aneh beginian bisa muncul? Dulu sebelum mengkaji Islam, jujur saya tuh aneh ngedenger istilah kaya gitu. Ko bisa ya ada istilah yang kaya gini? Saya jadi bingung dan mempertanyakan apa boleh ‘STMJ’ itu? Atau memang adakah istilah ‘Islam KTP’ di dalam Islam sendiri?

Bingung lah saya hingga beruntungnya saya dipertemukan Allah dengan orang-orang yang sholiha, yang tidak pelit membagi ilmunya kepada saya. Dari sejak itulah saya mulai intensif mempelajari Islam. Menyelami setiap dahan, ranting, daun-daun hingga buah di dalam Islam, tentu sebelumnya mengkaji dari akarnya.
Kajian itu membuat saya membuka mata, hati dan telinga. Menyadari setiap kebenaran dan kesempurnaan Islam, lalu menjadikannya sebagai keyakinan yang kuat. Dan terus mencoba agar semua pemahaman itu dapat mengkristal di dalam diri saya, semoga, aamiin :)

Dari sanalah saya tau bahwa Islam bukanlah sekedar agama ritual semata, maksudnya Islam tidak hanya mengatur urusan ibadah saja. Tapi ternyata ia mengatur seluruh aspek kehidupan manusia. Dari bidang politik, ekonomi, sosial, budaya, kemanan dan pertahanan. Tentu tentang pendidikan dan kesehatan pun ada. Tentu anda yakin kan bahwa Al-Qur’an itu mencakup ilmu apa pun tanpa kecuali. Karena memang Islam mengatur kehidupan kita dari mulai bangun tidur sampai tidur lagi, dan Islam punya aturan tentang bagaimana masuk toilet hingga masuk Syurga. Betul-betul sempurna bukan? Sehinggah Islam menjadi agama yang khas, bukan sekedar agama tapi ia punya seperangkat aturan (sistem) yang mengatur kehidupan kita. Maka dari sini, Islam tidak sekedar agama tetapi Islam adalah sebuah ideologi (landasan hidup) yang darinya semua problematika hidup dapat dipecahkan. Ya simple nya kita bisa bilang kalo Islam adalah solusi dari segala problematika kehidupan.. :D

Lalu, Islam pun mempunyai beberapa karakteristik, di antaranya adalah; syamil (menyeluruh), kamil (sempurna), universal, manusiawi, aplikatif dan tetap. Sebetulnya enam karakteristik ini masih ada penjelasan terperincinya, mungkin lain kali saya akan perinci ditulisan berikutnya, atau mungkin jika anda penasaran anda bisa hubungi saya langsung untuk mendapat rinciannya, tentu jika anda seorang muslimah. :)

Nah kembali ke istilah ‘Islam KTP’, jika saya analisis (ciee, maklum emang kerjaanya analisa di laboratorium, hehe) istilah itu muncul karena memang ada sebagian orang Islam (muslim) yang tidak merepresentasikan ajaran Islam di dalam kehidupannya. Arti dari istilah ‘Islam KTP’ itu sendiri kan ketika seseorang menjadikan Islam hanya sebagai label, bukan sebagai pegangan hidupnya. Nyambung ke istilah ‘STMJ’, mungkin bisa dibilang 'STMJ' ini manifestasi dari ‘Islam KTP’. Jadi orang yang menjadikan Islam hanya sebagai label, maka dia akan ‘sholat sih masih tapi maksiyat juga ga ketinggalan’. Haduh -__-

Ini terjadi karena pemahaman mereka terhadap Islam kurang. Mereka tidak menyadari kesempurnaan Islam maka mereka pun tidak mencari bagaimana Islam lebih jauh mengatur kehidupannya. Tentu saja ini adalah kesalahan yang fatal. Kita tak akan masuk Syurga hanya dengan sholat aja sis! Bagaimana tentang hukum pembagian harta warisan, bagaimana hukum bayi tabung, bagaimana tentang pengelolaan sumber daya alam oleh negara, bagaimana Islam memandang toleransi antar umat beragama, bagaimana siroh Nabi Muhammad, dan masih banyak lagi hal-hal yang belum kita ketahui. Kita memang tak akan pernah merasa cukup dengan tau Islam ala kadarnya. Bukankah Syurga yang ingin kita masuki adalah Syurga yang sama dimasuki oleh ‘Aisyah, Fatimah bahkan Khodijah? Lalu mengapa amal dan ilmu kita sangat minimal? Apalagi jika dibandingkan para shohabiyat? Serius pengen masuk Syurga? Maka kita pun harus menyeriusi kehidupan ini. Hey, bukti keseriusan itu adalah tindakan. Saya tidak akan percaya jika anda mengatakan anda orang yang suka menolong, tetapi anda diam ketika melihat orang lain terjatuh misal ketika sedang menyebrang dijalan. Buktikanlah keseriusan mu!

Begini teman, di dalam Islam ada yang namanya Syakhshiyah (kepribadian). Syakhshiyah pada setiap manusia terbentuk oleh ‘aqliyah (pola pikir) dan nafsiyah (pola sikap). Jadi bentuk fisik, wajah, dsb bukan lah unsur pembentuk syakhshiyah ya.

‘Aqliyah (pola pikir) adalah cara yang digunakan untuk memikirkan sesuatu, singkatnya ia adalah pola pikir seseorang, dengan landasan apa ia berpikir. Sedangkan nafsiyah (pola sikap) adalah cara yang digunakan seseorang untuk memenuhi tuntutan ghorizah (naluri) dan hajat al-‘adhawiyah (kebetuhan jasmani); yakni upaya memenuhi tuntutan tersebut berdasarkan kaidah yang diimani dan diyakininya.
Syakhshiyah Islamiyah (kepribadian Islam) akan terbentuk jika ‘aqliyah dan nafsiyah nya pun Islami. Maksudnya pola pikir dan pola sikap orang tersebut berdasarkan aqidah Islam. Tetapi jika salah satunya tidak Islami maka tidak akan muncul kepribadian Islam, keduanya adalah syarat mutlak yang harus terpenuhi untuk terwujudnya kepribadian Islam.

Contoh, sesorang berfikir bahwa setiap masalah yang muncul dalam kehidupan harus diselesaikan dengan aturan Islam. Tetapi dalam kehidupan sehari-hari dia tetap memakan harta riba, itu artinya pola pikir dia sudah Islami tetapi pola sikapnya tidak Islami. Atau walaupun ia memakan makanan yang halal dan tidak memakan makanan yang harom tapi ia percaya bahwa semua agama itu benar (pluralisme) maka dia pun tidak dikatakan berkepribadian Islam.

Jadi memang ‘aqliyah dan nafsiyah ini harus klop. Jika kedua aspek ini sama-sama dibangun atas dasar aqidah Islam maka akan terpancar kepribadian yang khas, yakni kepribadian Islam. Apakah anda pernah bertemu dengan sosok seorang muslim yang dia berpikir bahwa setiap amal itu harus terikat dengan aturan Islam lalu ia mempraktekkan dalam kehidupannya. Ia tidak berpacaran walaupun orang mengejeknya, ia menghindari riba ketika orang-orang di sekelilingnya menjadikan riba sebagai solusi dalam masalah ekonomi. Jika anda pernah mengindera sosok seperti itu, itulah sedikit cerminan tentang seorang muslim yang ber-syakhshiyah Islam.

Jika setiap muslim menyadari hakikat kepribadian Islam ini maka tidak ada lagi yang namanya ‘Islam KTP’ ataupun ‘STMJ’. Dan ingat ini bukan soal pilihan, kita mau menjadi muslim yang seperti apa? Kepribadian mana yang dapat menghantarkan kita ke dalam Jannah-Nya? Jika memang tujuan hidup kita untuk mendapat ridho-Nya. Bukankah kita amat nyaman jika bertemu dengan orang-orang yang berkepribadian Islam ini? Maka jadilah kita pun seperti sosok tersebut. Jika pun hari ini belum, maka berusahalah, bersabarlah dalam berproses. Mungkin tidak dalam waktu seminggu, sebulan, sesemester kita akan berubah. Mungkin tahun depan atau dua tahun ke depan, tapi berproseslah!! Memulai setiap kebaikan dari hari ini. :)

Dan tentu seharusnya ketika kita terus meng-up grade ‘aqliyah kita, maka nafsiyah kita pun menjadi ter-up grade. Seharusnya grafik antara ‘aqliyah dan nafsiyah itu linier. Semakin anda ‘penuh’ dengan tsaqofah-tsaqofah islam maka pola sikap anda pun akan lebih baik, lebin indah, dan lebih sempurna dimata Rabb kita.

Senin, Desember 24, 2012

Mengapa Doa Tak Kunjung Terkabul?


Tak ada satu manusia pun yang tak pernah berharap ataupun tak punya harapan. Nyaris semua orang pernah mengucap kata; ingin, mau, semoga, jika saja, seandainya, dsb. Berharap adalah aktivitas yang dilakukan oleh manusia secara universal, tanpa memandang suku, ras, agama, pendidikan, tingkat ekonomi atau ideologi sekalipun. Karena ia adalah bentuk penampakan dari ghorizah tadayyun atau naluri untuk mensucikan/menyembah sesuatu.

Manifestasi dari berharap ini adalah doa. Berharap ada Zat yang lebih kuat dari kita untuk memberi apa yang kita minta, memohon untuk dipenuhi kebutuhannya. Tidak salah jika anda menginginkan sesuatu lalu anda berdoa. Atau mungkin ketika anda dalam kondisi terjepit maupun berbahagia, yang anda lakukan adalah berdoa.

Doa adalah senjata yang tidak pernah meleset, panah yang tidak pernah gagal mengenai sasaran serta benteng kokoh tempat berlindung seorang Muslim. Tentu ini jika dipandang dari segi sudut pandang Islam.
Namun sayangnya, kebanyakan dari kita tidak menyadari urgensitas dari doa. Dan tidak mengerti hakikat dari berdoa. Mungkin masih ada sebagian orang yang berdoa hanya sekedar meminta agar keinginannya diwujudkan oleh Allah. Mereka akan fokus terhadap pengabulan doanya. Berdoa alakadarnya, tanpa meyadari bahwa berdoa adalah ibadah. Maka doa pun diucapkan dengan tergesa-gesa, tak terlihat bersungguh-sungguh, tidak yakin dan penuh harap, yaa tidak khusyu.

Umar bin al-Khaththtab ra. berkata, “Saya tidak terlalu peduli dengan pengabulan doa. Saya lebih fokus pada doanya itu sendiri. Sebab, jika saya diberi kesadaran untuk berdoa, doa saya pasti dikabulkan.”

Dengan doa, Allah SWT menyelamatkan Nabu Nuh as. beserta kaum mukmin serta menenggelamkan orang-orang kafir (lihat QS al-Qamar [54]: 10-14). Dengan doa pula, Allah SWT menyelamatkan Nabi Yunus as. dari perut ikan paus (lihat QS al-Anbiya [21]: 87-88). Dengan doa pula Allah SWT menghilangkan musibah Nabi Ayyub as. (lihat QS al-Anbiya [21]: 83-84). Dan Allah SWT menyelamatkan  Nabi Musa as. dari kejaran Fir’aun dan pasukannnya (lihat QS al-Qashash [28]: 21). Dan masih banyak contoh-contoh semisal yang menggambarkan betapa pentingnya doa.  Ia lah faktor penting bagi datangnya kebaikan, hilangnya keburukan, turunnya rahmat, sirnanya penderitaan dan tercapainya kemenangan.

Ketika doa pun sering kita panjatkan, maka kita pun sampai kepada pertanyaan ‘mengapa doa tak kunjung dikabulkan?’. Dan ada pula orang yang menanyakan hal ini lalu ia berhenti dari memanjatkan doa. Ia tak memiliki harapan lagi bahwa doanya akan dikabulkan. Sikap seperti ini dilarang oleh Rasulullah saw., “Doa salah seorang di antara kalian pasti dikabulkan selama tidak terburu-buru agar doanya segera dikabulkan hingga ia berkata, “Aku telah berdoa kepada Tuhanku, tetapi doaku tidak dikabulkan.” (HR al-Bukhori, Muslim, Abu Dawud, at-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ahmad). Dalam riwayat Muslim disebutkan: Ditanyakan, “Wahai Rasulullah, apa yang dimaksud dengan terburu-buru?” Rasulullah saw. Bersabda, “Hamba itu berkata, “Aku berdoa dan terus berdoa, tetapi doaku tidak dikabulkan.”” (HR. Muslim)

Hendaknya kita tau, banyak sebab mengapa doa tidak segera Allah kabulkan, dan ada hikmah di balik tidak di kabulkannnya doa dalam waktu cepat. Di antara sebab dan hikmah itu adalah sebagai berikut:
1.       Boleh jadi penyebab tertundanya pengabulan doa kita adalah karena kita belum memenuhi syarat-syarat diterimanya doa. Kadang-kadang mungkin karena kita tidak menghadirkan kalbu kita saat berdoa, atau waktu berdoa kita bukan waktu dikabulkannya doa, atau kita berdoa tanpa disertai kekhusyuan, merendahkan diri, dan sikap pasrah secara total kepada-Nya serta syarat-syarat penting lainnya dalam berdoa.
2.       Boleh jadi, tidak dikabulkannya doa adalah karena sebab tertentu, atau karena dosa kita yang belum kita tobati, atau ada dosa yang tidak kita tobati dengan jujur, atau makanan kita mengundang syubhat, atau ada hak milik orang lain pada diri kita dan kita belum mengembalikannya. Rasulullah saw. pernah bersabda: Hai Saad (ibn Abi Waqqash), makanlah makanan yang baik-baik, niscaya engkau akan menjadi orang yang doanya dikabulkan.
3.       Boleh jadi Allah SWT sengaja menyimpan pahala dan balasan doa kita di akhirat kelak atau Allah menghilangkan keburukan dari kita. Diriwayatkan dari Ubadah bin Ash-Shamit ra. bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda:
“Tidaklah seorang Muslim yang ada di atas bumi berdoa kepada Allah dengan suatu doa kecuali Dia pasti mengabulkan doa itu atau menghilangkan keburukan darinya selama ia tidak berdoa untuk keburukan atau untuk memutuskan hubungan silaturahmi.” Seseorang berkata, “Bagaimana jika kita memperbanyak doa?” Rasulullah saw. Bersabda, “Allah lebih banyak lagi mengabulkan doanya atau menghilangkan keburukan darinya.” (HR at-tirmidzi, Ahmad dan al-Hakim).
4.       Penundaan terkabulnya doa merupakan ujian dari Allah SWT kepada hamba-Nya. Dengan itu Allah SWT ingin menguji keimanan orang itu dan menyeleksinya. Sebab, ketika doa tidak dikabulkan setan membisikkan pikiran jahat kepadanya dengan berkata, “Kemuliaan itu luas, sementara kebakhilan telah ditutup. Lalu apa faedahnya doa tidak segera dikabulkan?” Demikian pula dengan bisikan-bisikan jahat lainnya. Karena itu, seorang hamba Muslim harus melawan bisikan jahat seperti itu dan mengusirnya dari dirinya dengan segala sarana. Ia juga harus sadar bahwa jika hikmah dibalik doa tidak dikabulkan dengan segera ialah Allah ingin menguji hamba-Nya dengan cara memerangi iblis maka hikmah itu sudah cukup baginya.
5.       Hikmah lain doa tidak segera dikabulkan ialah seorang Muslim akan menyadari satu hakikat penting, yakni bahwa ia hanyalah hamba Allah, sementara Allah adalah Pemilik segala-galanya, dan Pemilik berhak berbuat apa saja terhadap miliknya, dengan cara memberi atau tidak memberi. Jika Dia mau memberi maka itu berasal dari karunia-Nya. Jika Dia tidak memberi maka itu adalah salah satu bentuk keadilan-Nya dan Dia memiliki alasan kuat di dalamnya. Dengan itu,  kita juga akan menyadari bahwa ternyata kita bukan buruh yang langsung marah jika gajinya tidak segera diberikan dan kita tau makna sabda Rasulullah saw. setelah Perdamaian Hudaibiyah, “Aku adalah Rasulullah dan Allah tidak akan pernah menelantarkanku.” (HR. Al-Bukhori, Muslim dan Ahmad)
Ketika doa tidak segera dikabulkan maka iman seseorang teruji dan terlihat perbedaan antara Mukmin sejati dan Mukmin ‘palsu’. Sikap Mukmin sejati tidak berubah terhadap Tuhannya ketika doanya tidak segera dikabulkan dan ia malah semakin rajin beribadah kepada-Nya.
Setiap muslim juga harus ingat bahwa ketika Nabi Ya’qub as. kehilangan putranya Nabi Yusuf as., beliau tidak henti-hentinya berdoa dan berdoa. Akan tetapi, pengabulan beliau tertunda hingga waktu yang lama hingga ada yang mengatakan, “Nabi Ya’qub berdoa selama empat puluh tahun.”
6.       Kadang-kadang doa yang tidak segera dikabulkan itu membuat kita selalu berdiri dihadapan Allah SWT, selalu merendahkan diri dan berlindung kepada-Nya. Sebaliknya, jika permintaan kita dikabulkan maka kita lebih sibuk, lalu kita melupakan Allah swt; tidak lagi meminta dan berdoa kepada-Nya. Padahal doa adalah inti ibadah. Inilah realitas sebagian besar kita. Buktinya, saat tidak ada cobaan, kita tidak berlindung diri kepada Allah SWT.
7.       Boleh jadi tatkala doa kita segera dikabulkan Allah SWT, kita malah terjatuh dalam perbuatan dosa, atau menimbulkan madarat pada agama kita, atau memunculkan fitnah bagi kita, atau apa yang kita minta itu sekilas baik bagi kita padahal sebetulnya buruk bagi kita; teruama bagi orang yang tidak berdoa dengan doa-doa yang diriwayatkan dari Rasulullah saw. dan mengajukan permintaan tertentu kepada Allah SWT.
8.       Setiap doa memiliki ketentuan dan takaran. Sesungguhnya tidak masuk akal jika hari ini kita berdoa agar Khilafah berdiri, lalu kita menunggu dengan harapan besok pagi terwujud. Doa yang agung ini dan kejadian amat penting dan sulit ini tentu mempunyai ketentuan, takaran, syarat, sebab, prolog, hasil, kerja keras, pengorbanan besar serta kaderisasi generasi yang dididik Allah SWT secara langsung dan Dia siapkan untuk berkuasa di atas muka bumi.
Seorang ahli tafsir menyebutkan betapa jauhnya jarak doa Nabi Musa as. dan pengabulannya oleh Allah SWT, yakni empat puluh tahun (lihat QS Yunus [10]: 88-89)

Mari kita renungkan perkara ini. Pihak yang berdoa adalah Nabi Musa as., salah seorang dari para rasul yang digelari Ulul Azmi. Lalu pihak yang meng-amin-kan ialah Nabi Harun as,. Juga seorang nabi yang mulia. Keduanya telah memenuhi syarat dan adab berdoa. Kemudian pihak yang didoakan celaka ialah Fir’aun dan para kroninya, yang notabene manusia paling zalim, fasik dan kafir saat itu. Meski begitu, doa Nabi Musa as. tidak segera dikabulkan. Itulah takaran dan ketentuan doa tersebut. Padahal dia bukan sembarang doa. Poin ini sangat penting bagi siapa saja yang merenungkan dan memikirkannya.





Referensi: Pesan-pesan Menggugah untuk pengemban dakwah - Dr. Najih Ibrahim – Al Ahzar Press

Minggu, Desember 09, 2012

صديق حقيقي

Ini cerita tentang teman. Nyatanya teman adalah sesuatu yang kita butuhkan di dunia ini. Saking butuhnya tak jarang kita pun menyengaja mencarinya. Memang, manusia tak bisa hidup sendiri.
Teman seperti apa yang menemani kita adalah tergantung pilihan kita. Kita mau yang seperti apa? Atas dasar apa kita berteman? Banyak yang berteman karena punya kesamaan dan kecocokan, baik itu hobi, kesukaan, tingkah laku, pemikiran dll. Menurut saya pribadi pertemanan adalah sebuah ikatan. Tapi bukan ikatan yang kuat, itu fleksibel terkadang bisa menjadi kuat tapi sering pula ia melemah, tergantung ikatan seperti apa yang di buat pada saat memulainya.
Tentunya kita amat sering mendengar istilah sahabat sejati. Tapi sampai saat ini saya tidak meyakini keberadaannya. Karena lumrahnya di masyarakat sahabat sejati itu di artikan sebagai teman yang selalu mengiringi kita, yang selalu ada di saat kita susah dan saat kita bahagia, yang selalu ada untuk kita, menolong kita. Apakah begitu menurut anda? Jika iya, anda yakin ada orang yang seperti itu bagi anda? Mungkin  yang baca tulisan ini, ada sebagian yang setuju ada juga yang tidak.
Jika anda pernah kecewa kepada seorang teman dekat karena ia sekali tidak bisa menemani anda, apa yang anda lakukan? Tak mau lagi berbicara dengannya kah? Langsung mencoret daftar namanya dari list teman sejati anda? Adakah seseorang yang menjadi satelit anda? Selalu mengitari anda dan mendampingi anda di setiap waktu anda, layaknya bulan yang dengan setia  mengiringi bumi? Tidak ada bukan? Jika arti sahabat sejati menurut anda adalah seperti di atas, maka satu-satunya yang layak di sebut sahabat sejati adalah malaikat. Tak ada yang lebih setia dalam mengiringi kita selain dia, yang senantiasa mencatat amal sholih dan amal buruk kita.
Jadi tak usah lah muluk berharap akan ada orang yang senantiasa di sisi anda. Nyatanya orang tua pun tak mengiringi kita di sekolah, teman pun tak menemani kita di rumah. Maka tak ada satu pun yang benar-benar bersama-sama kita di setiap waktu. Tak ada yang selalu ada di saat kita butuh. Teman pun punya kepentingan lain bukan?
 Jika anda ingin tau kisah sahabat yang benar-benar sejati, lihatlah Abu Bakar yang setia menemani Rasulullah. Apakah mereka selalu bersama dan tak terpisahkan? Tidak kawan, mereka pun pernah berpisah. Mereka punya keluarga masing-masing, tapi ikatan mereka lah yang sangat kuat. Hingga Abu Bakar bersedia meninggalkan keluarganya di Mekkah untuk menemani Rasul hijrah ke Madinah. Itulah contoh sahabat sejati, saling menyemangati dan menguatkan. Amar ma’ruf tanpa kenal lelah. Saling mencintai karena Allah dan ikatan yang mereka bangun adalah ikatan yang berlandaskan aqidah, yakni aqidah Islam. Sebuah kisah persahabatan yang sangat indah. Abu Bakar selalu mendahulukan keperluan Rasul di banding keperluannya. Apakah artinya mereka selalu bersama? Tidak. Karena sahabat sejati itu bukan di lihat dari frekuensi pertemuan, tapi ia di ukur oleh keridhoan untuk saling mengingatkan dan saling menolong. Hingga akhirnya senantiasa berdoa untuk kebaikannya, membelanya di saat jauh, menutupi aibnya. Itulah keindahan persahabatn yang di bangun atas dasar aqidah Islam, bukan hubungan yang di bangun atas dasar manfaat. Selama cocok hobinya ya berteman, tapi ketika sudah beda maka berakhir pula ikatan tersebut.
Teman sejati itu bukanlah yang selalu mendukung apa yang anda lakukan dan mengiyakan apa yang anda inginkan. Tapi dia adalah yang mengajak anda kepada kebaikan dan mencegah anda dari keburukan. Punyakah anda sosok seperti itu? Tak mudah memang untuk mencarinya. Karena kebanyakan asas pertemanan itu adalah asas manfaat, sama-sama nyari tugas, sama-sama suka boyband. Ketika sukanya hilang maka teman pun hilang, ikatan yang lemah dan sementara.
Bayangkan, jika anda punya teman yang anda kenal karena anda belajar Islam. Menyelami hal yang sama dan bersama. Membentuk pemikiran dan kepribadian yang sama. Hingga akhirnya berjuang bersama untuk Islam, bukan kah itu sangat indah? Dahsyatnya lagi, ikatan itu sangatlah kokoh, karena itu tak hilang di telan masa. Dia akan tetap ada hingga kita di kumpulkan kembali di alam sesudah alam dunia. Yang menjadi saksi adalah perkataan “aku mencintai mu karena Allah”, bukan, ini bukan gombal. Karena kata-kata ini pun bukan kata kosong, ini kata yang butuh pembuktian. Kata ini adalah sebuah keputusan untuk menjalin hubungan dengan seseorang (sesama jenis) berdasarkan kecintaan kepada Rabb kita. Artinya dalam pertemanan ini kita tunduk patuh kepada syariat-Nya. Ini mengharuskan kita tau akan tsaqofah Islam yang amat luas. Menolongnya karena Allah bukan karena pamrih. Manasihatinya walaupun kita enggan. Mengajaknya kepada kebaikan walaupun ia tak suka. Indahnya jika hubungan ini tetap utuh hingga ke dalam Jannah-Nya.

*to my friends: thank you for accompanying me, even though we are not the perfect way, but hopefully we complement each other. it is wonderful to know you from the beginning step and hope it will be with up until the end of this step. hope to meet again in heaven.

Aksi Mujahid 212: Saatnya Ulama dan Umat Bersatu Terapkan Syariah Kaffah

Beberapa waktu lalu, tepatnya pada Sabtu (28/9/19), telah berlangsung Aksi Mujahid 212 Selamatkan NKRI di Jakarta. Aksi yang diselenggarakan...